
Tidak ada yang lebih menggembirakan hati Fajar setelah malam itu Mega menerima lamarannya, rasanya lega sekali bisa mendapatkan kepercayaan dari wanita yang sudah dicintainya sejak lama itu.
Tidak ingin menunda waktu lebih lama lagi, juga atas persetujuan dari Mega keesokan harinya Fajar datang menemui kedua orang tua Mega dan menyampaikan maksud kedatangannya kali itu untuk meminang Mega menjadi istrinya.
Syukurlah, kedua orang tua Mega menyetujuinya dan menyambut baik rencana Fajar. Sore hari itu juga mereka menentukan hari dan tanggal pernikahan, juga tempat acara.
“Aku rasa sekarang sudah waktunya kita berdua tidur kan, mas?” ucap Mega di telpon, saat keduanya sudah berada di kamarnya masing-masing.
Ia melirik jam di dinding kamarnya, sudah hampir jam sebelas malam.
“Kamu ngantuk, yank?” tanya Fajar di seberang sana, menyadari kalau saat ini sudah lewat waktu tidur Mega.
“Ho oh, ngantuk. Huaahh,” kuap lolos dari mulut Mega saat menjawab pertanyaan Fajar dan terdengar jelas di telinga laki-laki itu.
“Ish!”
“Hahaha.” Mega terkekeh geli, “Ngantuk berat, sayang. Mata aku sepet banget,” sahut Mega dengan mata setengah terpejam.
Sedari tadi ia menahan kantuknya, meski matanya sudah berair hanya karena ingin mendengar ucapan selamat tidur dari Fajar seperti biasanya. Salah satu bentuk perhatian dari Fajar yang selalu dirindukan Mega.
“Ya udah, tidur gih. Jangan ketawa terus, sudah malam. Jangan lupa matikan ponselnya. Besok pagi aku jemput,” ucap Fajar kemudian, masih berharap mendengar jawaban dari Mega seperti biasanya sebelum menutup telponnya. “Nite, sayang.”
Tidak ada jawaban, karena Mega sudah terlelap dengan ponsel masih berada di tangannya.
“Sudah tidur rupanya.” Fajar terkekeh, lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil memeluk gulingnya.
“Sebentar lagi akan ada yang menggantikan kamu buat aku peluk-peluk, hihihi.” Fajar tertawa sambil mendekap gulingnya erat, membayangkan Mega tertidur dalam pelukannya hingga tidak berapa lama kemudian ia terlelap dengan senyum menghias wajah tampannya.
•••••
“Pagi dunia, indahnya hari ini.”
Mega tersenyum membuka lebar-lebar jendela kamarnya, hawa sejuk pagi hari menerobos masuk memenuhi ruangan dalam kamarnya.
“Aarrgg ...” Mega merentangkan kedua tangannya, menghirup udara sejuk itu sebanyak-banyaknya. Sejenak ia memandang ke arah kaki bukit yang masih dipenuhi kabut di bawah sana, tersungging senyum di bibirnya. Indahnya alam desaku, bisiknya dalam hati mengagumi bumi tempatnya berada saat ini.
Ting ting ...
Ponselnya berbunyi, Mega berbalik lalu naik kembali ke atas tempat tidur dan membuka ponselnya. Tersenyum membaca pesan singkat Fajar padanya.
“Pagi sayangku, sudah bangun?” tanya Fajar yang ternyata masih bergelung dengan selimut di tubuhnya.
“Udah.” Mega menjawab singkat.
“Hmm, singkat amat jawabnya.” Fajar lalu menekan tombol kamera dan mengubahnya menjadi panggilan video.
“Astaga!” seru Mega melihat wajah Fajar terpampang jelas di layar ponselnya. “Heii! Ngapain pakai vcall segala, masih pagi juga. Bentar lagi juga ketemuan.”
“Hahaha!”
“Asli kangen banget sama kamu, yank. Bangun tidur langsung ingat kamu, pingin lihat kamu.” Fajar menatapnya penuh cinta. “Love you Ega.”
“Ish, ngerayu. Masih pagi juga,” balas Mega tersipu malu, wajahnya merona dan jadi salah tingkah mendengar ungkapan cinta Fajar pagi itu.
“Yank,” panggil Fajar lagi, tersenyum melihat Mega yang salah tingkah. “Bentar lagi aku jemput, siap-siap ya.”
“Iya.”
“Bye sayang, love you.”
“Love you too, mas.”
Mega menutup telponnya dan melemparnya begitu saja di atas ranjang, mengusap wajahnya malu lalu beranjak dari atas sana menuju pada cermin besar di dalam kamarnya.
“Ish, berantakan gini bangun tidur.” Mega tersenyum masam melihat tampilan dirinya di depan cermin, tapi detik berikutnya dia tersipu malu lagi mengingat ungkapan cinta Fajar padanya.
“Begini rasanya jatuh cinta, terasa begitu menyenangkan.”
Karena cinta membuat suasana hati Mega jadi lebih baik, lebih bersemangat. Ia lalu bergegas membereskan kamarnya dan bersiap dengan dirinya sebelum Fajar datang menjemputnya pagi itu.
Saat Fajar datang, lelaki itu terus menatapnya dan tidak melepaskan tangannya saat mereka telah berada di dalam mobil.
“Karena kamu alasanku tetap menjaga hatiku hanya untukmu, kamu yang selalu bisa membuatku tersenyum. Bahkan hadirmu di sisiku telah mengubah duniaku, bersamamu kini hidupku lebih berwarna.” Fajar tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya.
“Kenapa hari ini suka banget ngerayu,” selidik Mega menatap wajah lelaki di sampingnya itu.
“Karena Aku tahu, berat buatku harus kehilangan Kamu lagi di sisiku. Bagaimana hari-hari yang harus kujalani tanpa Kamu ada di sisiku,” ucap Fajar mengusap sayang rambut Mega.
Mungkin terdengar klise, tapi itulah yang dirasakan Fajar pada Mega. Jatuh cinta padanya sejak lama meski pada awalnya ia harus menekan perasaannya melihat wanita yang dicintainya bersama Bayu adiknya.
Mencoba menjalin hubungan dengan wanita lain, tidak membuatnya serta merta bisa melupakan perasaannya pada Mega. Apalagi kisahnya bersama Astri tak berjalan mulus. Wanita itu lebih memilih pergi ke kota, mencoba mengadu nasib mencari penghidupan yang lebih layak menurutnya. Memilih meninggalkan Fajar ketimbang berjuang bersamanya.
Hingga Fajar menutup hatinya hanya untuk menunggu Mega datang kembali dan menjadi miliknya, itu janjinya dalam hati.
Melihat Mega kembali ke desanya lagi, Fajar tidak bisa menutupi perasaannya lagi. Ia curahkan perhatian, rasa sayangnya terang-terangan tanpa rasa ragu lagi hingga Mega membalas cintanya. Dan semua berjalan sesuai harapannya, hanya menunggu waktu saja dan Mega akan menjadi miliknya selamanya.
Saat hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, di depan keluarga besar Mega, di hadapan penghulu dan saksi yang menikahkan dirinya dan Mega. Fajar menitikkan air mata bahagianya.
SAH!
Barakallah, alhamdulillah.
Terdengar ucapan syukur dan doa setelahnya. Semua rekan dan orang-orang terdekatnya datang dan mengucap kata selamat untuknya, hari ini ia telah resmi menikah dan menyandang gelar baru sebagai suami perempuan bernama Mega.
“Love you,” bisik Fajar tanpa suara, saat melihat wanitanya tersenyum berjalan ke arahnya di apit kedua orang tuanya.
🌹🌹🌹