
Fajar tersenyum menatap mesra wanita yang tidur meringkuk nyaman dalam pelukannya itu. Rambut hitam panjangnya tergerai di bantalnya, sebagian lagi menyentuh dadanya.
Mega, istriku.
Senyum lebar tersungging di wajah tampannya, senangnya menyebutnya seperti itu.
Perlahan tangannya terangkat mengusap rambut panjang Mega, menyisir lembut dengan jarinya. Gerakan tangan Fajar terhenti saat Mega menggerakkan tubuhnya dengan mata masih terpejam rapat. Fajar menunggu, mengira Mega terusik tidurnya dan terbangun karena ulahnya.
“Ish.” Fajar terkekeh gemas, lalu mencium kening Mega.
Bukannya terbangun, Mega justru semakin merapatkan tubuhnya hingga wajahnya menempel di dada Fajar dengan tangan melingkar di pinggangnya.
“Sayang ...” bisiknya lembut di telinga Mega, kemudian lengannya mendekap wanitanya itu erat.
Fajar sering terbangun seperti saat ini, beberapa jam menjelang waktu subuh. Berbaring sambil terus memandang Mega yang tertidur nyaman dalam pelukannya.
Dua hari setelah acara pernikahan mereka, Fajar langsung memboyong Mega tinggal di rumahnya. Selama satu minggu Mega mengambil cuti kerja, begitu juga dengan Fajar.
Seminggu usia pernikahan mereka, seminggu yang penuh dengan kebahagiaan. Tidak ada keraguan sedikit pun di hati Fajar kalau Mega mencintainya dengan cara yang sama seperti dirinya, dan ia tahu itu sejak malam pertama mereka bersama.
Mega menyambut setiap sentuhannya dan membalasnya dengan sepenuh hati. Apa yang terjadi malam itu, apa yang mereka rasakan saat itu terlalu berharga dan tidak akan pernah ingin melepaskannya. Ia begitu mencintai wanitanya itu dan bertekad untuk selalu membuatnya bahagia hidup bersamanya.
•••••
Pagi yang cerah, sinar mentari menerobos masuk melalui kisi-kisi jendela kamar.
Mega menyingkap tirai korden jendela kamar, membuka pintu lebar membiarkan udara masuk memenuhi ruangan.
Pagi ini Mega bangun lebih awal, lalu menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua karena Sri yang biasa melakukannya mendadak harus pulang kampung.
Sri berangkat tidak sendiri karena ada Warno yang menemaninya atas ijin Fajar. Selain kasihan pada asistennya itu karena harus pulang dadakan, Fajar juga ingin menikmati waktunya berduaan saja dengan Mega. Maklum pengantin baru, maunya berdua saja tidak ada orang lain yang mengganggu.
“Pagi sayang.” Mega mengecup kedua pipi Fajar, lalu duduk di tepi ranjang.
Fajar tersenyum dengan mata masih terpejam, tangannya meraih tubuh Mega hingga wanita itu jatuh menindih dadanya.
“Bangun ih, katanya mau ajak jalan ke pantai. Keburu siang, panas Mas.” Mega mencubit dagu Fajar yang mulai ditumbuhi rambut halus dengan tangannya yang bebas, dan melepaskan diri dari pelukannya.
Pelukan Fajar semakin erat, tidak membiarkan Mega melepaskan diri darinya begitu saja. ia kemudian menggesekkan dagunya ke wajah dan leher Mega, membuat wanita itu memberontak dan tertawa geli.
“Hahhaha, hei geli!” seru Mega sambil terus berusaha melepaskan diri, tangannya menepis wajah Fajar. “Maass, udah eh.”
Fajar menjauhkan wajahnya, meregangkan pelukannya sedikit. “Apanya yang sudah, mulai juga belum?” Fajar mengerling jenaka.
Mega meringis, “Apa sih, udah dong. Bangun yuk, Aku sudah buatin sarapan.” Mega berdiri setelah terbebas dari pelukan Fajar, dan mengulurkan tangannya.
“Oke sayang.”
Fajar menyingkirkan selimut di kakinya lalu menyambut uluran tangan Mega padanya.
“Mas mandi dulu, biar Aku siapin pakaiannya.” Mega lalu mengambil handuk yang telah disiapkannya dan memberikannya pada Fajar.
“Kamu nggak mandi, yank?” tanya Fajar masih tidak beranjak dari tempatnya, berdiri di belakang Mega yang kini tengah membereskan tempat tidur.
“Sudah barusan tadi, kenapa?” Mega mengencangkan seprai lalu melipat selimut dan menaruhnya di bagian bawah.
Saat berbalik, Mega dikejutkan dengan Fajar yang masih berada di belakangnya.
“Eyy kok masih di sini?”
Fajar menarik pinggangnya, menatapnya lekat. “Bukannya Kamu pandai membaca pikiran orang, yank?” gumam Fajar lembut, matanya bersinar hangat dan penuh cinta ketika Mega mendongak menatapnya.
Seketika wajah Mega merona, ia tidak terkejut dengan pertanyaan Fajar padanya. Dan ia tahu apa yang ada dalam pikiran laki-laki itu saat ini.
“Tolong Kamu beri tahu apa yang ada dalam pikiranku saat ini?” tanya Fajar lagi.
Mega berjinjit, dan berbisik di telinga Fajar. “Menurutmu, apa itu ide yang bagus?” ucap Mega balas menatap Fajar.
Lelaki itu tergelak, menyatukan keningnya dengan Mega. “Kalau soal ide Aku jagonya.”
Akhirnya Mega menyerah pada ide Fajar pagi itu, dan membiarkan lelaki itu menggendongnya.
🌹🌹🌹