
Keesokan harinya, Mega kembali bekerja di puskesmas. Menjalani rutinitas seperti biasanya, semua menyambut kehadirannya kembali dengan suka cita. Bidan Yati bahkan memeluk dan mencium ke dua pipinya.
“Senang melihatmu kembali, bu dokter.”
“Terima kasih bu bidan,” jawab Mega haru.
Hari itu puskesmas kedatangan banyak sekali pasien, membuat para tenaga medis yang bertugas sedikit kewalahan.
Menjelang tengah hari, pak mantri sampai harus memasang tulisan ‘tutup, jam istirahat’ di depan ruangan kerja dokter sepuluh menit lebih cepat dari biasanya.
“Sepertinya terjadi penumpukan pasien hari ini,” ucap pak mantri memperlihatkan kartu berobat pasien di tangannya. “Beberapa hari bu dokter tidak hadir di puskesmas, banyak pasien yang harus pulang kembali ke rumahnya dan kembali lagi keesokan harinya. Begitu seterusnya.”
“Puskesmas kita memang kekurangan tenaga dokter. Ada sih bantuan tenaga medis dari rumah sakit besar di kota, tapi mereka hanya bisa bertugas beberapa jam saja di sini. Sedangkan yang kita butuhkan saat ini, dokter yang bisa bekerja dari pagi sampai sore hari. Kasihan warga yang datang berobat, mereka berharap banyak dengan kita semua di sini.” Bidan Yati menimpali.
“Untung saja ada dokter Rendra yang bisa menangani, meskipun tidak semuanya. Paling tidak sebagian dari pasien yang datang berobat sudah bisa diatasi dengan baik,” imbuhnya lagi.
“Maaf, kalau ketidak hadiran Saya kemarin jadi merepotkan kalian semua di sini. Saya janji akan bekerja lebih keras lagi demi membantu kesehatan warga desa kita ini,” ucap Mega kemudian.
“Bu dokter kenapa harus minta maaf, kita ada di sini untuk bekerja sama. Saling bantu, saling dukung, dengan tujuan yang sama demi warga desa kita.” Bidan Yati berjalan mendekat, duduk di hadapan Mega.
Mega tersenyum mengiyakan, matanya melihat ke arah jam di dinding. “Waktunya kita istirahat, kita ke kantin bu bidan.”
•••••
“Masih ada pasien di luar, bu bidan?” tanya Mega setelah pasien yang baru selesai ditanganinya keluar ruangan, waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Hari ini Mega sengaja pulang lebih lambat dari biasanya, mengingat banyaknya pasien yang datang berobat.
“Sebentar, biar Saya lihat keluar.” Bidan Yati menjenguk ke luar. “Habis, bu dokter.” Bidan Yati menjawab lalu kembali ke mejanya.
“Akhirnyaa,” ucap Mega menarik napas lega.
Ia meregangkan tubuhnya, memutar kepala ke kiri dan ke kanan.
Bidan Yati tertawa melihatnya, “Capek ya,” tanyanya kemudian.
“Lumayan,” sahut Mega sambil tersenyum.
Dreett dreettt ...
Ponsel Mega berbunyi, ia segera mengambilnya dari dalam laci lalu membaca pesan singkat yang dikirim dokter Rendra.
Mega mengetik pesan balasan di ponselnya.
Siap dokter, kali ini biar saya yang tangani, send pesan terkirim.
Mega menutup ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam laci, lalu bersiap menerima pasien kiriman dari dokter Rendra.
“Maaf, bu dokter.” Pak mantri masuk sambil membawa kartu berobat dan menyerahkannya pada Mega. “Apa dokter Rendra sudah menghubungi bu dokter?”
“Baik, bu dokter.”
Pak mantri keluar dan langsung menyuruh masuk pasien terakhir dari dokter Rendra.
Mega memandang dua wanita muda yang duduk di hadapannya itu, sepasang kakak beradik yang terlihat malu-malu. Ia kemudian memeriksa kartu berobat dan melihat riwayat penyakitnya.
“Yang mau berobat di sini siapa?” tanya Mega sambil melihat kembali keduanya, karena hanya seorang saja yang akan berobat sementara satunya lagi hanya menemani.
“Saya, bu dokter. Ini kakak Saya, dia hanya menemani Saya di sini.”
“Namanya Rara, ya.” Mega tersenyum pada kedua. “Apa keluhannya, bisa tolong ceritakan.”
“Telapak tangan Saya sering berkeringat berlebih, bu dokter. Saya takut kalau itu adalah gejala jantung. Apalagi kalau terlalu lama memegang benda seperti ponsel, pulpen, mengetik di laptop,” keluh Rara sambil memperagakan gerakan tangannya, alhasil dalam waktu singkat tangannya mulai mengeluarkan keringat.
“Baik, Saya mulai jawab pertanyaannya. Maaf, kalau jawaban Saya panjang ya.”
“Nggak apa-apa, bu dokter. Kami malah senang mendengarnya,” jawab Rara yang langsung diangguki saudaranya.
“Telapak tangan berkeringat merupakan salah satu pertanda Primary Focal Hyperhidrosis, yaitu kondisi dimana tubuh mengeluarkan keringat berlebih hanya di lokasi tertentu. Seperti di ketiak, telapak kaki, atau telapak tangan saja. Bagian yang berkeringat umumnya simetris, yaitu terjadi pada kedua sisi baik kanan maupun kiri.”
“Hindari makanan seperti ini, makanan pedas, kafein, atau kepanasan. Jika faktor pemicunya tidak diketahui, coba buat catatan terkait apa saja yang dikonsumsi atau aktivitas yang dijalani sebelum tangan berkeringat.”
“Gunakan Antiperspirant atau salep yang mengandung Aluminium Chloride. Dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum menggunakannya, sebab Aluminium Chloride dapat menimbulkan iritasi dan perih di kulit.”
“Tetapi jika tidak mengganggu, dan tidak ada efek samping lainnya tidak perlu khawatir. Tangan berkeringat bukan berarti gejala jantung, apabila Kamu kepalkan tangan sudah tidak memiliki tenaga itu baru faktor gejala jantung. Silahkan di cek, pegang tangan kananmu sekuatnya. Kalau masih terasa sakit berarti bukan jantung.”
“Saya contohkan begini, lengan kirimu pegang kuat-kuat pakai tangan kananmu, kalau lengan kirimu masih terasa sakit itu tandanya bukan gejala jantung.”
“Ada beberapa cara pengobatan keringat berlebih, suntik botox, lontophoresis, atau obat-obatan yang diberikan dari dokter.”
“Obat-obatan, untuk mengurangi keringat berlebih dokter dapat meresepkan obat antikolinergik. Obat ini bekerja dengan cara mengurangi stimulasi saraf di kelenjar keringat, sehingga produksi keringat berkurang. Beberapa efek samping obat ini adalah mulut kering, sakit perut, sembelit, dan mual.”
“Suntik botox, kebanyakan orang mengenal suntik botox sebagai prosedur kecantikan. Namun sebenarnya, suntik botox juga dapat membantu mengurangi produksi keringat berlebih. Biasanya keringat akan mulai berkurang 4-5 hari setelah penyuntikan, dan efek ini dapat dirasakan hingga sekitar 4 bulan.”
“Iontophoresis, pengobatan untuk telapak tangan berkeringat ini dilakukan dengan menggunakan arus listrik berdaya kecil. Caranya, telapak tangan dimasukkan ke dalam wadah kecil berisi air. Kemudian arus listrik akan dialirkan melalui air dari mesin khusus. Iontophoresis memang tidak berbahaya, namun dapat menyebabkan kesemutan. Pengobatan ini dilarang untuk dilakukan ibu hamil, mereka yang sedang menggunakan alat pacu jantung, atau yang di dalam tubuhnya terdapat implan logam.”
“Operasi. Jika cara lainnya tidak berhasil, cara terakhir yang bisa dilakukan untuk mengatasi telapak tangan berkeringat adalah operasi. Pembedahan dilakukan dengan memotong saraf yang mengendalikan kelenjar keringat di telapak tangan. Namun, perlu diingat bahwa operasi ini cukup jarang dilakukan dan dapat menimbulkan komplikasi permanen.”
“Demikian penjelasan dari Saya, semoga bermanfaat.”
🌹🌹🌹
Happy reading all 🤗🤗🤗 Terima kasih buat dukungan kalian semuanya. Maaf kalau tulisanku terlalu banyak membahas seputar masalah kesehatan, karena tema utama dari novel ini adalah tentang masalah kesehatan diselingi dengan bumbu romansa antara mas bos Fajar dan bu dokter Mega.
Salam hangat dariku selalu, semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya, sehat walafiat. Lopeyu all 🤗🤗🤗