
Mega melirik jam mungil di pergelangan tangannya, sudah jam tiga sore. Pasien terakhir baru saja keluar dari ruangannya.
Setelah membereskan mejanya dan menanggalkan baju dokternya, Mega keluar dari ruangannya dan berpamitan pulang pada yang lainnya karena tugasnya hari ini telah selesai dan segera digantikan oleh dokter Rendra yang akan bertugas hingga malam hari.
Di depan halaman puskesmas, langkahnya terhenti sejenak. Mobil bak terbuka yang di kendarai Fajar tadi masih berada di sana, dan sepertinya lelaki itu juga masih berada di dalam mobilnya.
Mega berjalan mendekat, dilihatnya kaca mobil terbuka dan lelaki itu duduk menyandarkan kepalanya di jok mobil dengan mata terpejam. Rupanya setelah makan siang tadi ia tidak langsung pulang ke rumahnya, malah beristirahat di dalam mobilnya sementara Mega langsung disibukkan dengan pasien yang datang berobat di ruangannya.
“Mas, kok malah tidur di dalam mobil. Kenapa tidak pulang dan beristirahat di rumah saja?” tanya Mega.
Fajar mengerjapkan matanya, dahinya berkeringat dan wajah itu terlihat pucat.
“Masih pusing?” tanya Mega sedikit khawatir, lelaki itu hanya tersenyum kecil dan mengangguk dengan kepala masih bersandar di jok mobilnya.
Mega tidak yakin lelaki itu bisa pulang dan mengendarai mobilnya sendiri dalam kondisi tubuh seperti itu. Mungkin hal itu yang membuat Fajar sedari tadi tidak beranjak dari sana dan lebih memilih untuk beristirahat di dalam mobilnya sampai kondisinya membaik, pikir Mega. Tapi sampai kapan? Sekarang saja wajah itu bertambah pucat dan berkeringat dingin, harusnya dari dua jam lalu ia sudah pulang dan sampai di kediamannya.
“Jam berapa ini?” tanyanya kemudian.
“Jam tiga sore, kenapa?” tanya Mega balik.
“Rendra pasti sebentar lagi datang, biar Aku tunggu dia saja. Kepalaku pusing banget, Aku nggak mungkin bawa mobil dalam keadaan seperti ini.”
Mega melihat jam tangannya, masih sekitar empat puluh lima menit lagi menunggu dokter Rendra datang ke puskesmas ini, karena jam kerjanya dimulai pukul empat sore.
“Ayolah biar Aku yang antar mas pulang,” Mega memutuskan. “Mana kunci kontaknya?”
Lelaki itu membuka matanya, menoleh pada Mega. “Kamu bisa bawa mobil?”
Mega mengulurkan tangannya, meminta kunci mobil Fajar segera. “Mana mungkin Aku berani menawarkan diri kalau tidak bisa melakukannya, cari masalah saja itu namanya. Ayo buruan mana kuncinya?” cetus Mega tak sabar.
Fajar terkekeh mendengarnya, namun sedetik kemudian ia meringis sambil memegang keningnya. Ia lalu menyerahkan kunci mobilnya pada Mega yang segera berjalan memutar dan masuk ke dalam mobil.
“Di mana alamatnya?” tanya Mega saat sudah berada di dalam mobil dan mulai menyalakan mesin.
Fajar menyebutkan alamat rumahnya, sedikit banyak Mega masih mengingat jalan ke arah sana. Meskipun kini banyak yang telah berubah setelah sekian tahun lamanya, tapi jejak pepohonan besar yang ada saat mereka melewati jalan itu masih tetap sama.
Ketika memasuki daerah rumah Fajar, tampak kerumunan warga yang sedang melaksanakan kerja bakti membersihkan parit besar di pinggir jalan. Mereka segera berpencar dan membuka jalan seraya tersenyum melihat mobil yang lewat di kendarai Mega.
“Permisi pak, maaf mengganggu. Rumahnya pak Fajar sebelah mana ya, Pak?” tanya Mega setelah menurunkan kaca mobil dan bertanya pada salah satu warga yang sedang duduk beristirahat di ujung jalan.
“Pak Fajar yang insinyur? Kira-kira seratus meteran lagi, gang kedua depan mushola persis, rumah ketiga sebelah kiri Neng,” jawab bapak itu menunjukkan arah.
“Makasih ya Pak,” sahut Mega kemudian.
“Lah! Bukannya ini mobil beliau,” tanya bapak itu lagi lalu melongok ke dalam mobil.
“Iya, pak. Lagi sakit orangnya,” kata Mega sambil menunjuk ke arah Fajar yang tertidur.
“Oalah, ya sudah. Silahkan dilanjut jalannya Neng. Barusan tadi mas Warno pamit pulang juga,” katanya menyebutkan nama asisten Fajar.
Tiba di depan sebuah rumah yang terlihat asri dengan banyak tanaman di halaman yang berukuran luas tersebut. Dengan luwes Mega memarkirkan mobil, di sentuhnya lengan Fajar untuk membangunkannya.
“Bangun mas, sudah sampai.” Mega merasakan hawa panas dari lengan yang disentuhnya itu.
Fajar mengerjapkan matanya kembali lalu menegakkan tubuhnya dan melihat keluar jendela mobil.
“Istirahat segera, dan segera diminum obatnya. ” Mega mengingatkan. “Aku langsung balik pulang, sudah sore.”
Fajar menganggukkan kepalanya, “Tunggu dulu sebentar, biar Warno yang antar Kamu pulang.”
Mega lalu menyerahkan kunci mobil setelah keduanya turun dari mobil dan bersama-sama menuju teras rumah Fajar.
Kedatangan keduanya disambut Astri dan Sri di belakangnya yang keluar setelah mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah.
“Siapa wanita itu, Sri?” tanya Astri pada Sri di depan pintu.
“Saya nggak tau, Mba. Baru juga lihat,” jawab Sri mengintip ke luar dari balik bahu Astri.
“Ck! Bukan pacar baru mas Fajar ‘kan, Aku kok kayaknya pernah lihat dia. Tapi lupa dimana,” katanya dengan nada suara tak suka.
“Bukan,” jawab Sri menggelengkan kepalanya. “Mas bos masih jomblo kok.”
Mega tersenyum melihat tingkah kedua wanita di depannya itu, bukannya menyuruh masuk tamunya keduanya malah sibuk berbisik-bisik. Ia sepertinya bisa mengetahui kalau kehadirannya di rumah itu membuat Astri tidak menyukainya.
“Mas, sudah sore. Aku harus cepat pulang,” kata Mega mengingatkan Fajar kembali.
“Iya, Kamu tunggu di sini dulu,” ucapnya pada Mega dan menyuruhnya duduk sementara dirinya memanggil Warno.
“Mas Fajar baru pulang,” kata Astri menyambut kedatangan Fajar. “Loh, Mas kenapa. Kok pucat begitu, mas Fajar sakit. Pasti gara-gara kecapean kerja terus, iya kan?”
Fajar menatap jengah pada Astri, sejak kedatangannya kembali beberapa hari yang lalu, wanita itu terus saja datang ke rumahnya dan berusaha kembali menarik perhatiannya dan mendekatinya lagi.
“Ega, tunggu sebentar. Biar Aku panggil Warno buat antar Kamu pulang,” ucap Fajar tanpa menghiraukan Astri yang menghentakkan kakinya kesal.
Fajar lalu masuk ke dalam rumahnya dan memanggil Warno yang sedang berada di belakang rumah, bersantai sejenak setelah selesai membersihkan diri sehabis kerja bakti.
“No, tolong antar bu dokter Mega pulang. Sekalian Kamu tebus obat di apotik,” perintahnya pada Warno lalu membuka dompetnya dan menyerahkan resep obat dan sejumlah uang.
“Siapa yang sakit mas bos?” tanya Warno penasaran. “Kok bisa bu dokter di rumah mas bos?”
“Aku yang sakit, Kamu nggak lihat apa muka Aku pucat gini. Sudah buruan sana antar bu dokter pulang, kasian nunggu lama.”
“Siap mas bos!”
Tanpa banyak cakap lagi, Warno bergegas mengambil kunci motor dan keluar menemui Mega yang menunggu di teras rumah.
“Mari bu dokter, Saya antar pulang.” Warno tersenyum ramah pada Mega.
“Mas Inug, Aku pulang dulu. Jangan lupa diminum obatnya terus istirahat biar cepat sembuh,” pamitnya pada Fajar yang berdiri di ambang pintu rumahnya.
“Pasti! Makasih,” sahut Fajar kemudian.
Mega tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Astri yang sedari tadi terus memperhatikannya.
“Warno, habis itu antar Aku pulang juga ya. Aku tunggu,” katanya pada Warno.
“Wegah, Mba! Lagian tadi datang sendiri kok, pulang minta diantar. Saya lama pulangnya, sekalian ambil obat di apotik.” Warno menolak perintah Astri.
“Haish!” Astri kembali menghentakkan kakinya kesal.
Warno terkekeh melihatnya, “Terus aja gitu,” ucapnya melihat tingkah Astri. “Ayo bu dokter, ini helmnya. Silahkan dipakai.”
“Sudah! Naik ojek saja nanti. No, mampirin ojek di depan. Suruh jemput kemari,” perintah Fajar lagi pada Warno lalu berjalan masuk kembali ke dalam rumah.
“Siap mas bos!”
🌹🌹🌹