
Sepanjang perjalanan si ibu terus merintih kesakitan, dan Mega duduk di dekatnya terus menemani dan menenangkannya sampai tiba di rumah sakit besar di kota.
Seperti ucapan Rendra padanya, si ibu langsung mendapatkan penanganan dan harus segera dioperasi demi menyelamatkan bayi dalam kandungannya dan juga ibu itu sendiri.
Satu hal lagi yang harus mereka lakukan, mereka harus mencari tambahan darah karena stok di rumah sakit untuk golongan darah yang sesuai dengan golongan darah si ibu saat itu telah habis.
Sungguh pengalaman luar biasa buat Mega yang terbiasa bekerja di rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap dan serba ada, kini harus turun langsung mencari tambahan darah.
Waktu berlalu begitu cepat, jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Selama jalannya operasi, Mega dan Rendra terus berada di rumah sakit menunggu hingga selesai bersama suami si ibu.
“Dokter, sekarang coba periksa ponselnya. Sedari tadi mas Fajar menghubungi dokter,” ucap Rendra pada Mega.
“Astaga! Saya lupa memberi kabar mas Inug,” sahut Mega tersadar dan langsung mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya.
Dilihatnya banyak panggilan tak terjawab dari Fajar dan pesan singkat yang dikirimkan padanya. Ahh, dia benar-benar lupa memberi kabar pada lelaki itu. Perhatiannya terlalu fokus pada si ibu hingga ia lupa pada Fajar yang menunggunya di puskesmas.
Mega hendak membalas telpon Fajar, namun suara tangis lantang bayi dari dalam ruangan operasi membuatnya tertegun dan melupakan niatnya kembali.
“Alhamdulillah,” ucapnya seketika, sambil mengusap wajahnya.
Tanpa terasa, ada air mata yang mengalir di pipinya, perasaan haru meliputi hati Mega saat dirinya ikut serta menjadi bagian dari peristiwa kelahiran makhluk Tuhan di muka bumi.
Rendra yang berada di sampingnya, tersenyum melihatnya menangis. Sementara si bapak bayi yang baru lahir, menangis dan langsung memeluk Rendra.
“Terima kasih, terima kasih untuk semua bantuan dokter pada kami sekeluarga. Saya tidak bisa membalas kebaikan kalian pada kami, semoga Tuhan yang akan membalasnya berkali-kali lipat.”
“Amin,” sahut mereka bersamaan.
“Selamat atas kelahiran anak Bapak,” ucap Rendra sambil menepuk bahu si bapak.
Rendra kemudian menyelipkan uang di tangan si bapak dan memberikan makanan yang dibelinya ketika mereka sedang menunggu di depan ruang operasi.
“Siapa tahu bisa membantu Bapak untuk membeli keperluan lainnya,” ucap Rendra, dan lelaki itu kembali memeluk Rendra.
Mereka akhirnya bisa bernapas lega, persalinan berjalan dengan lancar. Dokter juga mengatakan kalau si bayi lahir dengan selamat demikian juga dengan ibunya.
“Terima kasih sudah membantuku sampai sejauh ini,” ucap Rendra tulus.
Mega balas tersenyum sembari mengusap matanya yang basah. “Sama-sama, Dok.”
“Aku mau menemui dokter yang melakukan operasi tadi, setelah itu kita bisa pulang.”
“Silah kan,” sahut Mega, “Biar Aku tunggu di sini.”
“Yank!” suara yang terdengar berikutnya membuat Mega menoleh seketika.
“Mas Inug!”
Mega langsung berlari memeluk Fajar, “Kamu tahu gimana khawatirnya Aku menunggumu, nggak kasih kabar sama sekali. Telpon nggak diangkat, di chat nggak bales! Apa ini yang Kamu maksud dengan keadaan darurat tadi pagi,” tanya Fajar.
Lelaki itu langsung datang menyusul Mega setelah mendengar dari Rendra kalau mereka berdua tengah menemani seorang pasien yang sedang melakukan operasi.
Rendra yang melihat keduanya berpelukan, hanya tersenyum dan kemudian melanjutkan langkahnya lagi.
“Maaf buat Mas khawatir lagi,” ucap Mega menengadahkan wajahnya, air mata masih menggantung di ujung matanya.
“Kok nangis?” Fajar mengusap pipinya, Mega hanya menggeleng dan kembali memeluk pinggang Fajar erat.
“Nggak, siapa bilang Aku nangis!”
“Terus apa namanya kalau nggak nangis, itu air apa coba?” ucap Fajar lagi.
“Ish, bukan nangis!”
Fajar terkekeh, “Malah ngambek, harusnya Aku yang marah karena Kamu nggak kasih kabar apa pun sama Aku.”
“Mana bisa Aku marah sama Kamu, yank.” Fajar kembali memeluk Mega, “Gimana operasinya, apa bayinya sudah lahir?”
“Sudah, tapi masih di dalam. Bentar lagi mungkin keluar,” jawab Mega.
Tidak berapa lama dari dalam ruang operasi keluar kereta bayi bersama dua orang perawat yang membawanya.
“Mau lihat ibunya dulu. Setelah itu kita pulang ya Mas,” ucap Mega.
“Iya, Kamu nggak capek?”
“Capek sih, tapi semua jadi nggak berasa waktu dengar si bayi lahir dan ibunya juga selamat.”
“Syukurlah,” sahut Fajar kemudian.
Beberapa saat kemudian, si ibu keluar dari kamar operasi dan suaminya ikut bersama menuju ruangan yang akan ditempatinya nanti.
Mega dan Fajar mengikuti dari belakang, setelah menempatkan si ibu di dalam kamar inap perawat yang membawanya keluar dan meninggalkan mereka di sana. Sementara si bayi masih berada di ruang anak.
“Selamat ya, Ibu. Alhamdulillah semua berjalan lancar,” ucap Mega memegang tangan si ibu.
Perempuan itu menangis tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. “Terima kasih, Dokter. Terima kasih untuk semua bantuannya, tanpa kalian Saya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti bila terus berkeras dan tidak mau mendengar saran Dokter.”
“Sama-sama Ibu. Saya mohon pamit dulu, Ibu cepat pulih ya.” Mega memeluk si ibu yang terus mengucap terima kasih padanya.
Fajar tidak diam begitu saja, dengan cepat ia pun menyelipkan uang di tangan si bapak.
“Terima kasih mas Fajar, terima kasih Dokter.”
“Doakan kami cepat menikah dan punya anak juga ya, Pak.” Fajar menjabat tangan si bapak yang langsung sambut tawa si bapak dan istrinya.
“Pasti, kami pasti mendoakan yang terbaik buat kalian.”
Mega tersipu mendengar ucapan Fajar, dan langsung menarik lengan lelaki itu.
“Kami pamit ya Pak, Bu.”
Keduanya lalu berjalan keluar ruangan dan bertemu dengan Rendra di tengah jalan.
“Dra, kami balik duluan. Sudah malam, kasihan Ega.” Fajar menepuk bahu Rendra, pamit pulang terlebih dahulu.
“Oke, bentar Aku juga balik pulang. Mau pamit sama mereka dulu,” sahut Rendra.
“Kami duluan, Dok.” Mega berpamitan dan melambaikan tangannya.
“Silah kan, hati-hati di jalan.”
Keduanya melangkah menuju mobil Fajar dan meninggalkan rumah sakit. Di dalam mobil, Mega meletakkan tubuhnya yang mulai terasa penat. Kakinya terasa pegal, dan pakaiannya terasa lengket di badan.
Kuap lolos dari mulutnya, dan Mega tidak berusaha menutupinya. Matanya terasa berat dan tubuhnya benar-benar lelah.
“Mas, Aku ngantuk banget.”
“Tidurlah, pejamkan matamu.” Fajar menurunkan jok mobilnya, membiarkan Mega yang terlihat letih tertidur nyaman.
Dibukanya jaketnya dan memakaikannya di tubuh Mega, selama dalam perjalanan pulang Mega tertidur pulas. Fajar tersenyum sesekali mengusap wajahnya dengan tangannya yang bebas.
Saat tiba di lampu merah, Fajar tersenyum menoleh pada Mega yang sama sekali tidak terusik dengan suara kendaraan yang berada di sampingnya.
“Mimpi indah sayang,” bisiknya lembut, lalu mengecup kening Mega.
🌹🌹🌹