I Am Yours

I Am Yours
30. Lihat saja nanti



Minggu pagi di atas lereng bukit.


   Hari masih pagi sekali, suasana jalan pun masih tampak berkabut. Embun pagi jatuh membasahi dedaunan, membuatnya terlihat berkilauan.


   Mega merentangkan kedua tangan ke atas, melakukan senam kecil lalu meraih sepatu kets dari rak sepatu yang berada di pojok teras rumahnya.


   “Ayah, Mama, Mega pergi dulu ya.” Pamitnya pada kedua orang tuanya yang juga tengah berada di teras rumah.


   Mama tengah menyirami tanamannya dengan seember air dari gayung kecil di tangannya, sementara ayah membantu memotong daun dari ranting pohon yang menjorok ke teras rumah.


   “Mau ke mana pagi-pagi sekali?” tanya mama menoleh pada Mega, lalu menaruh gayung di tangannya ke dalam ember.


   “Olahraga, lari pagi Ma. Mama mau ikutan?” Mega mencium punggung tangan mamanya, lalu beralih mencium punggung tangan ayahnya.


   Mama tertawa kecil, lalu mengacak rambut panjang putrinya. “Nggak sayang, habis ini Mama mau menyiapkan makanan buat makan warga yang kerja bakti nanti.”


   “Jangan terlalu siang pulangnya. Bantu mamamu menyiapkan makanan,” ucap ayah kemudian.


   “Iya, Ayah.” Mega melirik jam tangannya. “Sebelum jam delapan, Mega balik ke rumah nanti.”


   “Ya, sudah. Hati-hati,” kata mama kemudian, lalu meneruskan kembali pekerjaannya yang tertunda tadi setelah Mega berlalu pergi meninggalkan halaman rumah.


   “Ayah, jam berapa kerja baktinya dimulai. Biar Mama atur waktunya buat kirim makanan,” tanya mama pada ayah yang tengah menyeret ranting pohon dan menaruhnya di dekat tong sampah yang berada di luar pagar rumah.


   “Jam tujuh pagi kita kumpul di balai desa, Ma. Ada sedikit pengarahan dari pak lurah buat lokasi mana saja yang akan kita lakukan pembersihan,” jelas ayah.


   “Apa Rizky juga sudah dikabari kalau mau ada kerja bakti pagi ini?” tanya mama lagi.


   “Sudah, justru Rizky dan Pras yang mengusulkan diadakan kerja bakti hari ini. Sudah masuk musim penghujan, ada warga desa sebelah yang anaknya terserang demam berdarah dan harus dirujuk ke rumah sakit di kota.”


   “Ya Allah, bagaimana keadaan anak itu sekarang. Apa sudah baikan?”


   “Yang Ayah dengar sih, sudah lebih baik sekarang. Untung saja langsung cepat ditangani,” jawab ayah kemudian.


   “Syukurlah. Mama lega dengarnya, rasanya sedih kalau dengar anak kecil sakit seperti itu.”


   Ayah tersenyum mendengar ucapan istrinya, “Kalau Ayah yang sakit, apa Mama akan sedih juga?”


   “Tentu saja, Mama sedih. Bahkan semua orang akan sedih kalau seorang dari kita mengalami sakit,” jawab mama tegas.


   Ayah semakin tersenyum lebar, “Ya sudah, Ayah akan tetap sehat buat kita semua.” Ucap ayah menenangkan. “Nanti Mama kirim makanannya sekitar jam sepuluhan saja. Biar suruh Mega saja yang antar ke balai desa,” imbuh ayah lagi.


   “Kalau begitu biar Mama siap-siap masak dari sekarang,” sahut mama lalu bergegas masuk ke dalam rumah.


   “Buatkan Ayah kopi dulu, Ma.”


   “Iya, Mama buatin.”


   Ayah lalu membereskan pekerjaannya, menyapu halaman kemudian menyiapkan peralatan yang hendak dibawa untuk kerja bakti.


   Sementara itu, Mega yang tengah berlari kecil menyusuri sepanjang jalan menurun di sekitar lereng bukit tidak jauh dari rumahnya berada sejenak menghentikan langkahnya.


   Ia berpapasan dengan para wanita pekerja kebun teh yang berjalan dengan topi caping dan keranjang di punggung mereka.


   Salah seorang dari mereka mengenal Mega dan langsung menyalaminya, ternyata wanita itu mba Sundari yang pernah ditemui Mega di rumah bude Nurul.


   “Bu dokter, terima kasih kiriman obatnya. Alhamdulillah, berkat bantuan bu dokter Saya sudah sehat dan bisa kembali bekerja lagi sekarang.” Sundari tersenyum hangat dan memegang erat tangan Mega.


   “Syukurlah, Mba. Saya senang mendengarnya, terima kasih juga kiriman panganannya. Maaf, Saya tidak bisa menemui Mba karena waktu itu sedang berada di puskesmas.”


   “Oh, jadi ini bu dokter yang Kamu ceritakan itu.” Ucap Lastri, salah seorang dari mereka berbisik pada temannya yang lain. “Nggak nyangka saja, masih muda ternyata.”


   Mega tersenyum mendengarnya, ia pun mengenalkan dirinya dan menyuruh mereka untuk tidak sungkan-sungkan padanya jika ada yang ingin datang berobat dan menemuinya di puskesmas desa.


   “Ndari, ayo berangkat lagi. Nanti kita telat sampai di kebun,” ajak Lastri kemudian. “Bu dokter, kami pamit dulu.


   “Silahkan,” sahut Mega tersenyum.


   “Mari bu dokter,” pamit mereka bersamaan, lalu kembali melangkah dan meninggalkan Mega menuju kebun teh yang berada di kaki bukit.


   Dari tempatnya berdiri saat ini, Mega tersenyum lebar melihat sekitarnya. Merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menghirup sebanyak-banyaknya udara sejuk pagi hari yang berasal dari pegunungan di dekat lereng bukit sebelah sana.


   Di bawah sana terhampar pemandangan yang begitu memanjakan mata. Deretan kebun teh milik warga terhampar bak permadani hijau, benar-benar membuat hati jadi tenang dan damai melihatnya.


   “Indah sekali bukan, melihat pemandangan dari atas bukit ini.”


   Suara seseorang di dekatnya, membuyarkan keasikan Mega menikmati suasana alam desanya.


   Mega menolehkan wajahnya, mendapati sosok Fajar tersenyum menatap ke arah yang sama seperti dirinya, duduk di atas sepeda gunungnya.


   “Suatu kebetulan bisa terus bertemu dengan mas lagi seperti saat ini,” ucap Mega melihat kehadiran Fajar di dekatnya.


   Fajar tersenyum dan menoleh, menatap Mega.


   “Kita tinggal di desa yang sama dengan jumlah penduduk yang terbilang masih sedikit, tidak seperti di kota besar. Dalam sehari, bisa bertemu kembali dengan orang yang sama, dua kali bahkan bisa lebih. Pagi di pasar, siang di puskesmas, dan sore hari di rumah salah satu warga yang sedang mengadakan syukuran. Bukan suatu kebetulan, hal biasa di desa kita ini.” Ucap Fajar panjang lebar.


   “Begitu?”


   “Ya, memang seperti itu. Coba saja buktikan ucapanku,” balas Fajar. “Seperti yang terjadi saat ini. Pagi ini kita bertemu di atas kaki bukit, bisa jadi siang nanti kita bertemu lagi di balai desa, dan sore atau malam hari di rumah salah satu warga.”


   Mega melengos mendengarnya, tiba-tiba dia teringat janjinya pada ayahnya untuk pulang sebelum jam delapan pagi ini. Dan sekarang sudah hampir jam delapan pagi.


   “Astaga!” ucapnya sambil menepuk keningnya.


   “Maaf! Aku harus segera pulang ke rumah,” ucap Mega tanpa menunggu jawaban dari Fajar.


   “Hei! Kita bahkan baru bertemu selama lima menit,” seru Fajar melihat ke arah Mega yang berlari meninggalkannya.


   Mega menghentikan larinya, menoleh sejenak. “Seperti kata mas tadi, mungkin kita bakal ketemu lagi siang ini di balai desa.”


   “Oh, ya!”


   “Kita lihat saja nanti,” ucap Mega lalu berlari dan menghilang di belokan jalan.


   “Ada apa siang ini di balai desa, apa sebaiknya aku pergi saja ke sana sekarang?” gumam Fajar, lalu kemudian berbalik arah dan memacu sepedanya menuju balai desa.


  



Salam sehat selalu dari bu dokter Mega buat reader semua 🤗🤗



Jangan lupa selalu tersenyum kata mas bos Fajar buat reader semua 🤩


🌹🌹🌹