I Am Yours

I Am Yours
68. Syukuran



Keesokan harinya klinik Mega Farma resmi dibuka, sekaligus dengan beroperasinya bengkel pemuda dan kantor Fajar yang letaknya bersebelahan.


Suasana pagi yang biasanya terlihat tenang di seputar rumah Mega, kini ramai dengan suara lalu lalang kendaraan yang lewat di sana. Kebanyakan dari mereka adalah rekan kerja dan anak buah Fajar yang sudah terlebih dahulu berkantor di sana.


Warno terlihat sibuk mengatur kendaraan yang keluar masuk, sudah seperti tukang parkir saja. Pagi-pagi ia sudah keringatan, kemeja putih yang dikenakannya sudah basah di bagian punggungnya.


Sri terkekeh melihatnya. Ia kemudian menuang kopi di gelas sedang lalu bergegas mendatangi Warno yang kini tengah duduk beristirahat memegang kipas kertas, di salah satu kursi yang tersedia di sana dan mengulurkan minuman yang dibawanya.


“Minum dulu, mumpung masih panas.” Sri menarik kursi lalu duduk di samping Warno.


Srruuupp ... Warno menyeruput kopinya.


“Makasih yank. Langsung seger awakku,” ucapnya kemudian.


“Diih, kok kayak mas bos saja manggilnya. Yank yank!” Sri memutar bola matanya.


Warno tertawa menanggapinya, “Ya sekali-kali pacarannya kayak mas bos kan nggak apa-apa toh Sri, manggil sayang gitu. Biar kelihatan mesra, yank!”


“Ish, Aku kok geli dengarnya No.” Sri bergidik.


“Ck, mesti gitu. Diajak mesra kok ya susah banget,” ucap Warno mencebikkan bibirnya.


“Hilih, biasa-biasa wae lah. Namaku loh Sri bukan yank,” cibir Sri.


“Assalamualaikum,” suara salam mengalihkan perhatian keduanya.


“Waalaikum salam,” sahut Sri dan Warno bersamaan.


“Wes, Aku tak bantu di dalam.” Sri langsung ngeloyor pergi kembali ke dalam klinik, sementara Warno kembali sibuk mengatur kendaraan yang parkir di tempat itu.


Sebagai tuan rumah, Fajar dan ayah Mega berdiri menyambut kedatangan para tamu undangan yang hadir. Ada pak Lurah dan beberapa aparat desa juga pemuka agama di desa yang ikut hadir dalam acara syukuran tersebut.


Acara pun dimulai, Fajar dan Mega duduk berdampingan. Sedikit sambutan dari pak Lurah di awal acara dan doa bersama oleh pemuka agama di akhir acara.


Ucapan selamat dan doa terucap dari semua yang hadir. Semoga segala usaha yang mereka lakukan ini dilancarkan, dimudahkan jalannya dan menjadi berkah untuk semua orang.


“Setelah pembukaan klinik dokter Mega, tidak lama lagi kita semua akan menerima undangan dari mas Fajar dan bu dokter. Kira-kira kapan waktunya mas Fajar? Jangan lama-lama, jangan ditunda-tunda. Niat baik sebaiknya disegerakan,” tanya pak Lurah di sela acara makan pagi mereka.


“Kami tidak berniat menundanya, insya Allah dalam waktu dekat ini.” Fajar tersenyum menjawab pertanyaan pak Lurah, sambil meraih tangan Mega yang duduk di sampingnya dan menggenggamnya di atas pangkuannya.


Blushh ...


Seketika pipi Mega langsung merona. Fajar menoleh padanya, tersenyum hangat. Ia kemudian mencium tangan Mega yang berada di genggamannya di depan semua orang. Kontan saja sikap Fajar itu semakin membuat Mega tersipu malu, dan hal itu membuat pak Lurah dan tamu lainnya tertawa melihatnya.


“Aeh aeh mas Fajar, sudah tidak sabar. Hahaha.”


Mega menyembunyikan wajahnya di balik punggung lebar Fajar, dan lelaki itu mengusap kepalanya sayang. Fajar sih cuek saja, tapi Mega malu mendengarnya.


“Bu dokter,” panggil Sri sambil melambaikan tangannya yang memegang selembar kertas. “Sini!”


“Ya Sri,” sahut Mega spontan langsung berdiri melihat pada Sri.


Yes! Mega menarik napas lega, panggilan Sri menyelamatkan dirinya. “Maaf Saya ke sana dulu,” pamitnya kemudian pada semua orang.


“Silah kan bu dokter.”


“Mas, Aku lihat Sri dulu ya. Kayaknya ada yang penting,” bisik Mega pada Fajar.


“Ada apa Sri?” tanya Mega saat ia sudah berada di dekat Sri.


“Ini,” ucap Sri sambil menunjukkan catatan resep obat pada Mega.


“Oh ini, kenapa?” tanya Mega lagi sambil membaca lembar resep di tangannya.


“Mbak Mila bilang harus tanya bu dokter dulu, tapi orangnya bilang sudah biasa beli obat itu di apotek lain. Karena rumahnya dekat sini makanya ia coba beli di apotek kita,” jelas Sri.


“Oh gitu. Ya udah biar Aku temui orangnya dulu,” ucap Mega lalu berjalan masuk ke dalam diikuti Sri di belakangnya.


Mega menemui si empunya resep dan mengajaknya berbicara di ruangannya. Ia lalu mendapatkan penjelasan kalau obat pereda nyeri khusus yang dicarinya itu untuk dikonsumsi ibunya.


Ibunya mengalami batuk berkepanjangan hingga sering buang air di celana, susah tidur dan banyak keluhan lainnya. Dengan mengonsumsi obat tersebut, batuknya berkurang dan tidurnya pun bisa pulas.


Mega menyimpulkan kalau si ibu mengalami ketergantungan, seperti sudah kecanduan.


“Obat ini kebetulan ada di apotek kami. Sebaiknya dosisnya dikurangi, kalau sudah lebih baik hentikan pemakaian. Alihkan perhatian ibu pada hal-hal lain, temani dan ajak ibu melakukan kegiatan yang bisa membuat beliau lebih tenang dan nyaman.” Mega tersenyum menatap wajah yang tertunduk di depannya itu.


“Beberapa waktu lalu kami tidak tinggal serumah dengan ibu. Ibu terbiasa hidup bersih dan rapi, tidak suka melihat rumahnya berantakan. Sementara anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, aktif sekali.” Wanita itu tertawa kecil sebelum melanjutkan bicaranya.


“Ibu mungkin juga kelelahan, ibu tinggal bersama dengan adik perempuan Saya yang masih sekolah. Belakangan ini kami memang jarang berkumpul seperti dulu lagi, suami sibuk kerja dan Saya sibuk mengurus anak-anak yang masih kecil.”


Mega terus mendengarkan tanpa menyela sedikit pun, sepertinya wanita di hadapannya itu butuh teman bicara untuk mendengarkan keluhannya.


“Saya merasa bersalah sekali pada ibu, sampai ibu harus mengalami hal seperti ini. Saya tahu dari adik kalau ibu sudah cukup lama mengonsumsi obat pereda nyeri ini,” ucapnya lagi.


“Sekarang Saya sudah tinggal bersama ibu di sini, menemani ibu bersama anak-anak.”


“Apa beliau masih tidak suka melihat rumahnya berantakan?” tanya Mega sambil tersenyum.


Wanita itu menggeleng, balas tersenyum. “Sepertinya tidak lagi, ibu justru terlihat menikmati keributan kecil bersama cucunya.”


Mega memegang tangan wanita itu, dan tersenyum padanya.


“Sepertinya beliau butuh teman yang bisa menemani hari-harinya, cukup dengarkan tanpa harus menyela atau membantah ucapannya. Urusan rumah berantakan bisa diatur dan dilakukan setelah anak-anak tenang dan beristirahat. Seperti saran Saya tadi, ajak ibu melakukan kegiatan yang beliau suka tanpa harus membuatnya lelah. Luangkan waktu untuk ibu kita, obat bukan penyembuh utama. Pikiran tenang dan rasa nyaman justru bisa jadi faktor penyembuh utama buat si sakit tanpa harus mengonsumsi obat. Menonton drama kesukaan ibu sambil rebahan misalnya, atau menemani beliau makan sambil sesekali memuji masakannya, dan banyak hal lainnya yang bisa dilakukan dengan ibu kita.”


“Ya Dok, itu sudah Saya lakukan. Sekarang dosis obat sudah mulai dikurangi, meski batuknya masih belum berhenti. Tapi ibu sudah bisa tidur dengan tenang.”


“Syukurlah, Saya senang mendengarnya.” Mega tersenyum tulus.


“Terima kasih untuk waktunya, Dok. Terima kasih sudah berkenan mendengarkan keluhan Saya, maaf kalau sudah banyak menyita waktunya. Terima kasih sarannya, Saya mohon pamit dulu.” Wanita itu menjabat tangan Mega setengah membungkukkan badannya.


“Sama-sama, salam Saya buat ibu di rumah.”


Keduanya lalu berjalan beriringan keluar, Mega lalu meminta Mila untuk memberikan obat yang diminta si ibu.


“Terima kasih sudah datang ke klinik kami.” Mega memberikan kotak makanan pada si ibu.


“Terima kasih,” balas si ibu tersenyum ramah.


Sebagai ungkapan rasa syukur mereka berdua, Mega dan Fajar membagikan kotak makanan pada setiap pengunjung yang datang.


🌹🌹🌹