I Am Yours

I Am Yours
78. Bonus Chapter 1



“Oppa!” jerit gembira gadis kecil bermata seperti bulan sabit terdengar lantang, saat Rumi dengan sepedanya melintas di depan rumahnya.


Kim Aera, gadis kecil berusia 5 tahun putri tunggal Kim Hyun Sik. Tetangga baru juga rekan kerja Fajar Anugrah ayah Rumi, yang berasal dari Korea Selatan. Ibunya yang Asli Indonesia sudah lama meninggal dunia saat melahirkan Aera.


Sudah 3 bulan Aera tinggal di desa Parikesit, mengikuti ayahnya yang bekerja di bidang perkebunan dan sedang melakukan penelitian bersama ayah Rumi.


Awalnya ia kesulitan beradaptasi dengan lingkungan barunya, terutama soal bahasa. Ditambah lagi asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya lebih banyak berbicara dalam bahasa daerahnya. Jadilah Aera kesulitan dalam komunikasi, hingga tak jarang sering terjadi keributan kecil di rumahnya.


Beruntung mereka bertemu dan kenal baik dengan keluarga Rumi, yang mengajarkan banyak hal pada Aera. Sikap ramah Mega dan keluarganya membuat Aera betah dan suka berlama-lama tinggal di sana.


Rumi melirik sekilas, bocah tampan berusia 8 tahun itu hanya meleletkan lidahnya saat melihat Aera berteriak memanggilnya dan berlari keluar dari dalam pagar rumahnya.


“Wee!” olok Rumi, lalu mengayuh sepedanya lagi.


Hari makin sore, ia harus secepatnya tiba di rumah sebelum ayah bundanya pulang dari bekerja. Terlalu asik bermain bola di lapangan dekat sawah pak Lurah membuat Rumi dan kawan-kawannya lupa waktu.


“Oppa!” suara itu terdengar lagi, bahkan semakin dekat dengan pendengaran Rumi.


“Eh!” Rumi berbalik, menahan sepedanya dengan satu kaki. Matanya membulat sempurna saat dilihatnya Aera berlari cepat ke arahnya tanpa mengenakan alas kaki.


“Hei, hati-hati. Awas jatuh!” teriak Rumi memperingatkan Aera.


“Haish!”


Rumi spontan menjatuhkan sepedanya saat melihat Aera berlari tanpa melihat jalan berbatu di depannya.


Brugkk ...


Terlambat, gadis kecil itu sudah jatuh terjungkal tersandung batu di depannya dengan kedua lutut mendarat sempurna di atas tanah keras.


“Aoww! Hiks, aphayo. Neomu aphayo!” rintih Aera sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang lecet.


Kedua kakinya menekuk, dilihatnya lututnya pun terluka dan mengeluarkan darah.


“Makanya kalau jalan hati-hati, ngapain juga pakai lari segala. Jatuh kan!” omel Rumi lalu berjongkok di depan Aera.


Aera mencebikkan bibirnya, mendongak menatap Rumi dengan berurai air mata.


“Oppa,” isaknya tertahan sembari memperlihatkan luka di telapak tangannya.


“Panggil Rumi, namaku Rumi Algifari.” Rumi memegang pergelangan tangan Aera, memeriksa luka di tangan juga kakinya. “Pasti perih, ayo. Aku bantu obati lukanya.”


Aera menerima uluran tangan Rumi dan mencoba berdiri, tapi ia mendadak meringis kesakitan saat luka di telapak tangannya bersentuhan dengan tangan Rumi. Kakinya juga terasa lemas dan tak sanggup berdiri, hingga akhirnya ia terduduk kembali di atas tanah.


“Maaf maaf,” ucap Rumi spontan melepas pegangannya saat melihat raut kesakitan di wajah Aera.


“Ish, abis nangis langsung ketawa.” Rumi pun terkekeh melihatnya.


Senyum di wajah Aera berubah menjadi tawa, hingga matanya yang seperti bulan sabit menyipit nyaris tak terlihat.


“Kalau bunda lihat Kamu terluka seperti ini pasti sedih,” ucap Rumi perlahan memegang tangan Aera, lalu meniup luka di tangannya.


“Eomma sedih?”


“Bunda!” ralat Rumi, ia lebih senang Aera memanggil Bunda pada Mega. “Bunda suka menangis kalau lihat anak kecil terluka seperti ini,” jelas Rumi lagi.


“Oh.”


“Tunggu di sini bentar, Aku ambil sepeda dulu.” Rumi berbalik lalu berjalan mengambil kembali sepedanya.


“Naiklah di boncengan sepedaku,” pinta Rumi sembari merendahkan sepedanya agar Aera mudah naik di belakangnya.


Aera langsung naik di boncengan sepeda Rumi, dengan cepat melingkarkan tangannya di perut Rumi.


“Gomawo oppa,” ucap Aera merebahkan kepala mungilnya di punggung Rumi.


“Aera,” panggil Rumi setengah menggeliat. “Geli, heii geli. Jangan peluk kayak gitu!”


Rumi berusaha melepas pelukan tangan Aera di perutnya, hingga sepedanya bergerak oleng dan Rumi hilang keseimbangan.


“Aaaaa ...”


Bruakk ...


Untuk yang kedua kalinya Aera terjatuh, tapi kali ini dia lebih beruntung karena tubuhnya tidak jatuh ke tanah tapi menimpa Rumi yang berada di bawahnya.


“Oppa, gwaenchanha?” tanya Aera dengan nada khawatir, menggoyang tubuh Rumi saat melihat bocah lelaki itu tidak bergerak di bawahnya.


“Aeraaa, bangun. Engap tau ketindihan badan Kamu!”


“Oh, mianhae oppa.”


Rumi balik badan, menghembuskan napas lega telentang menghadap langit sore.


“Oppa.” Aera menggerakkan tangannya di depan Rumi, membuat bocah lelaki itu bergegas bangkit dan kembali menaiki sepedanya.


Tak ada luka di tubuhnya meski terjatuh dari sepeda, justru rasa geli di perutnya yang masih berasa akibat pelukan tangan Aera.


🌹🌹🌹