I Am Yours

I Am Yours
35. Gudang sebelah rumah



Langit malam begitu indah, bintang berkerlip dari atas sana. Bulan bersinar terang, menyinari bumi. Hening, sunyi, menenangkan. Lamat-lamat dari kejauhan, terdengar suara binatang malam memecah kesunyian alam sekitar.


   Perlahan Mega bangkit dari tempat tidurnya, melangkahkan kaki merapatkan tubuhnya ke jendela kamarnya yang terbuka. angin sejuk menerpa wajahnya. Disibaknya rambutnya yang menutupi sebagian matanya.


   Mega melepas ikatan rambutnya yang berbentuk hello kity dari pergelangan tangannya, menahannya di bibir lalu mengikat rambutnya ke atas membentuk ekor kuda.


   Jarum pendek di dinding menunjuk pada angka 8, malam belum larut tapi suasana di sekitar rumahnya sudah sepi. 


   Tok tok!


   Terdengar suara ketukan perlahan, mama masih berdiri menunggu di depan pintu kamar Mega.


   “Mega, boleh mama masuk?” Mama membuka gagang pintu, menatap ke arah tempat tidur yang kosong lalu beralih ke jendela besar kamar Mega.


   Begitu larut akan keindahan langit malam yang terpampang di depan matanya, Mega sampai tidak menyadari kehadiran mama di dalam kamarnya. Matanya masih terpejam, dan bibirnya masih tersenyum mengembang.


   “Mega,” panggil mama lagi, kali ini sedikit lebih keras.


   Mega tersentak, menolehkan wajahnya. Dilihatnya mama berjalan mendekat, lalu berdiri sejajar di sampingnya.


   “Dipanggil dua kali sampai nggak dengar, lihat apa?” tanya mama.


   Mega tersenyum lalu memeluk lengan mama, merebahkan kepala di bahu mama.


   “Mengagumi alam ciptaan Tuhan, Ma. Suasana seperti saat ini yang buat kangen Mega untuk kembali pulang ke rumah,” jawab Mega lirih.


   “Setelah sekian lama tinggal di kota besar yang ramai dengan segala fasilitas lengkap lainnya yang Kamu terima. Terus sekarang harus kembali ke rumah yang sepi dan sunyi seperti ini, apa Kamu betah, Nak?”


   “Awalnya Mega merasa kesepian juga, apalagi setelah pulang kerja tidak banyak kegiatan yang bisa Mega lakukan. Tapi lama-kelamaan Mega mulai terbiasa dengan semua ini,” ucap Mega lalu merenggangkan pelukannya di lengan mama, menatap mata teduh dan bibir yang selalu tersenyum padanya itu.


   Ya, sudah lebih dari satu bulan Mega bekerja di puskesmas Parikesit. Rutinitas setiap hari yang dijalaninya terkadang memang membuatnya kangen dengan rumah lamanya di kota. Tapi itu tidak berlangsung lama, apalagi setelah berinteraksi dengan warga desanya secara langsung.


   “Mega sudah memilih untuk tinggal dan menetap di desa ini, Ma. Mega mau buat sesuatu buat warga di sini, sekuat dan semampu yang bisa Mega lakukan. Yang bermanfaat, yang berguna dan tentunya bisa membantu meringankan beban hidup mereka semua.”


   Mama tersenyum mengusap rambut anak gadisnya itu, “Mama senang sekali kedua anak Mama memiliki kepedulian yang begitu besar buat membantu sesamanya.”


   “Mega mohon doa dari Mama dan ayah selalu, biar segalanya dimudahkan.”


   “Jangan lupa selalu berdoa dan memohon pada-Nya. Mama akan selalu berdoa buat kebahagiaan anak-anak Mama, kelancaran usahanya. Selalu,” ujar mama sambil terus mengusap rambut Mega.


   Mega memeluk erat mama, bersyukur memiliki keluarga yang selalu mendukungnya. Tanpa terasa sudut matanya berair.


   “Dek, buatin minum dong. Ada tamu di depan,” suara Rizky dari ambang pintu membuat Mega menoleh dan melepaskan pelukannya. Diusapnya sudut matanya dengan ujung jarinya.


   “Kamu kenapa dek? Ma, Mega kenapa?” tanya Rizky terdiam sesaat, menatap wajah Mega.


   “Nggak apa-apa, Mas. Lagi ngobrol sama mama saja,” jawab Mega diiringi senyum mama.


   “Oh, ya sudah.” Rizky lalu balik badan.


   “Tamu? Siapa Mas?” tanya Mega, namun yang ditanya sudah menghilang dan pergi dari depan kamarnya.


   “Nak Fajar, sepertinya ada urusan penting yang sedang dibicarakan dengan ayahmu.” Mama menjawab rasa penasaran Mega.


   “Mama nggak bilang kalau ada tamu tadi. Dan lagi urusan penting apa sih, kok ayah nggak ada cerita apa-apa sama Mega?” tanya Mega lagi.


   “Tadi ayahmu sempat bicara sama Mama kalau nak Fajar mau datang, tapi urusannya apa Mama juga nggak tahu. Biar nanti ditanyakan langsung sama ayahmu saja,” kata Mama mengangkat bahunya. “Ayo sana buatkan minum dulu buat tamunya, jangan sampai menunggu lama.”


   “Iya, Ma.” Mega bergegas hendak ke dapur rumahnya.


   “Kalau ayahmu nanti tanya, bilang saja Mama di kamar ya Nak. Nonton televisi,” ucap mama menahan lengan Mega sebelum berjalan bersama dan memasuki kamarnya.


   “Ya, Ma.”


   Sambil mengaduk gula di dalam gelas, Mega kembali bertanya dalam hati. Menebak urusan apa gerangan yang sedang dibicarakan Fajar dengan ayahnya.


   “Silahkan diminum, Ayah. Mas juga,” ucap Mega lalu menaruh minuman di atas meja.


   “Terima kasih,” sahut Fajar sambil tersenyum.


   “Mega tolong ambilkan kacamata Ayah yang satunya lagi ya, Nak. Tadi Ayah taruh di atas meja dekat telepon rumah,” perintah ayahnya.


   “Ya Ayah,” jawab Mega, lalu bergegas mengambil kacamata dan langsung menyerahkan pada ayahnya.


   Sepintas dilihatnya sebuah gambar bangunan ruko di atas kertas lebar, yang berada di tangan ayahnya.


   Ingin bertanya langsung pada ayahnya gambar apa itu, tapi diurungkannya niatnya saat melihat ayahnya kembali berbicara serius dengan Fajar. Sementara Rizky duduk di kursi tidak jauh dari mereka berdua sambil menyesap kopinya.


   “Lagi bicara apaan sih, Mas. Serius banget, pakai bawa gambar bangunan ruko segala?” tanya Mega lalu duduk di samping Rizky.


   “Iya memang, mas Fajar sama ayah lagi buat kerja sama mau bangun ruko di tempat kita.” Rizky menjelaskan.


   “Di tempat kita, memang di mana persisnya Mas?” Mega teringat pada gudang kecil yang terletak di samping rumahnya. “Di sana, gudang sebelah rumah bukan sih?”


   “Kok kamu bisa tahu, Dek?”


   “Jadi benar di situ, mau bangun ruko buat apa sih?”


   “Ssttt! Nanti kalau selesai urusannya Mas kasih tahu. Mas juga belum tahu pasti ruko buat apa juga,” jawab Rizky sambil berbisik menautkan ujung jarinya ke bibir.


   “Kapan? Ini sudah malam,” tanya Mega lagi.


   “Ya nanti kalau sudah beres, pasti kita kasih tahu sama kamu Dek.”


   “Ya sudah, Aku balik ke kamar lagi saja.”


   Mega beranjak dari kursinya, sambil melirik pada Fajar yang juga tengah menatapnya. Pandangan keduanya bertemu, hingga suara deheman ayah menyadarkan keduanya.


   Rizky tertawa kecil melihat Mega yang tersipu malu dan segera melangkah masuk ke dalam rumahnya. Sementara Ayah hanya tersenyum menatap pada Fajar yang langsung meneguk minumannya.


🌹🌹🌹