I Am Yours

I Am Yours
24. Kekesalan Astri



Baru saja rasanya Mega merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan matanya sejenak, dari arah luar terdengar pintu kamarnya diketuk.


   “Mega,” suara mama memanggil namanya. “Ada yang mencarimu, nak.”


   “Siapa ya, Ma.” Mega menyeret langkahnya, membuka pintu kamarnya.


   “Suwarno,” sahut mama. “Katanya mas bosnya demam tinggi. Apa yang dia sebut dengan mas bos itu nak Fajar,” imbuh mama lagi dibarengi dengan pertanyaan.


   “Mas Inug demam?” ucap Mega balik bertanya.


   “Tadi mas bos, sekarang Inug. Sebenarnya siapa yang sakit?” tanya mama lagi.


   “Sebentar ya, Ma. Biar Mega temui mas Warno dulu,” ucap Mega tanpa menjawab pertanyaan mama padanya.


   Mega lalu bergegas menemui Warno di depan dan berbincang sejenak.


   “Maaf merepotkan bu dokter, tapi ini benar-benar darurat.” Warno lalu menceritakan kondisi Fajar.


   “Baiklah, mas Warno tunggu sebentar ya.”


   Mega kemudian kembali ke kamarnya dan langsung mengganti pakaiannya dan membawa serta tas kerjanya. Setelah berpamitan pada ibunya, Mega segera meluncur menuju rumah Fajar dengan mengendarai motornya sendiri.


   Sesampainya di rumah Fajar, Mega segera memeriksa lelaki itu dan meminta bantuan Suwarno untuk mengganti pakaian Fajar yang basah karena keringat.


   “Wes! Ngapain pada berdiri di depan pintu. Sana, pergi. Aku mau ganti bajunya mas bos, jangan pada ngintip!” usir Warno pada Astri dan Sri.


   “Siapa yang mau ngintip sih, No. Orang mau lihat mas Fajar diperiksa  saja kok,” protes Astri.


   “Lihatnya nanti saja kalau mas bos sudah selesai diperiksa bu dokter, lagi pula bukan di kamar ini juga lihatnya.” Warno kesal dengan sikap Astri yang tidak mengindahkan ucapannya.


   “Saya minta tolong ambilkan air ya, mba. Buat meminumkan obat ini,” sela Mega pada Astri yang sedari tadi tak berkedip memperhatikannya memeriksa Fajar dari ambang pintu kamar.


   “Sri, ambilkan air buat mas Fajar minum obat. Cepetan!” perintahnya berbalik menyuruh pada Sri yang juga tengah berdiri di depan pintu, dan langsung bergegas pergi ke belakang saat mendengar perintah Astri.


   “Ayo kita ke depan, biar bu dokter saja yang ada di sini. Ayo mba,” ajak Warno pada Astri yang langsung menghentakkan kakinya tak suka dan berjalan mengikuti Warno dari belakang.


   “Kamu itu cerewet banget sih, No!” ucap Astri kesal.


   Mega hanya tersenyum kecil melihat sikap Astri, ia menoleh pada Sri yang datang dengan membawa nampan berisi air di gelas besar.


   “Saya taruh di sini airnya ya, bu dokter.”


  “Iya, makasih mba Sri.” Mega menganggukkan kepalanya.


   “Ega,” suara Fajar terdengar lemah, Mega menolehkan wajahnya menatap laki-laki di hadapannya itu yang kini terjaga dan tengah menyentuh tangannya.


   “Ya, gimana rasanya. Masih pusing?” tanya Mega kemudian.


   “Pusing, mual, dingin.”


   Mendengar kata dingin, Mega lalu melihat sekeliling ruangan mencari kain untuk selimut.


   “Mba Sri, bisa tolong carikan selimut yang tipis saja. Buat menutupi bagian kaki mas Fajar saja,” perintahnya halus pada Sri.


   “Bisa bu dokter. Tunggu sebentar Saya ambilkan,” jawab Sri lalu keluar mengambil selimut di ruangan lain.


   Mega lalu menyentuh kening dan leher Fajar, masih panas. “Mas bisa bangun kan, minum obatnya dulu.”


   “Ternyata laki-laki sekuat mas kalau sudah sakit bisa langsung ambruk seperti ini,” ucap Mega bercanda.


   Fajar hanya meringis mendengarnya, keningnya berkerut dalam menandakan kalau ia sedang menahan rasa pening di kepalanya.


   “Bu dokter, ini selimutnya.” Sri datang membawa selimut di tangannya dan langsung menyerahkannya pada Mega. “Kalau ada yang dibutuhkan bu dokter lagi, panggil saja Saya di luar.” Sri keluar dari dalam kamar.


   “Terima kasih ya, mba.”


   Mega lalu menyelimuti bagian bawah kaki Fajar, setelah itu ia kembali duduk di samping lelaki itu.


   “Mas harus benar-benar beristirahat,” ucap Mega kemudian. “Setelah minum obat cobalah untuk tidur kembali. Aku pamit ya, pulang dulu. Usahakan makan, jangan biarkan perutnya kosong biar tidak mual terus.”


   “Ya,” jawab Fajar. “Terima kasih karena Kamu sudah bersedia merawatku,” ucapnya tulus.


   “Sudah menjadi tugasku untuk merawat pasien yang sedang sakit,” jawab Mega dengan tersenyum. “Ya sudah, sekarang Aku pamit pulang.”


   Fajar menganggukkan kepalanya, menatap kepergian Mega hingga hilang dari balik pintu kamarnya. Ada senyum tersemat di bibirnya saat mengingat kembali sentuhan tangan Mega di keningnya. Perlahan tangannya terangkat menyentuh dahinya, panas!


   Sementara itu di teras depan rumah Fajar, Astri duduk dengan wajah ditekuk saat melihat Bayu datang menjemputnya.


   Mega yang berpapasan dengan Bayu saat hendak keluar dari halaman rumah, hanya melihat sekilas padanya membuat Bayu bertanya dalam hati ada apa sampai Mega datang ke rumah kakaknya.


   “Kenapa lama sekali sih jemputnya, Bay. Mesti begitu, bukannya jarak rumahmu dengan tempat mas Fajar itu dekat.”


   Bayu menggelengkan kepalanya melihat sikap Astri padanya, jengah mendengar perkataannya. Bukan sekali ini saja kakak iparnya itu bertingkah seperti itu padanya. Untung saja Mega sudah pergi dari sana, jadi dia tidak perlu merasa malu bila wanita itu melihatnya dimarahi Astri.


   “Kalau tau dekat, kenapa tidak pulang jalan kaki saja. Kenapa harus merepotkan orang lain,” rutuk Bayu kesal seraya menyerahkan helm di tangannya pada Astri.


   “Kamu barusan bilang apa, Bay?” Astri menaikkan nada bicaranya.


   “Heran Aku sama kalian berdua ini, selalu saja bertengkar tiap kali ketemu. Mba Astri juga, harusnya bersyukur sudah dijemput sama mas Bayu. Bukannya malah marah-marah, tadi saja mau diantar pulang sekalian malah nolak.” Warno bersuara.


   “Diam Kamu Warno!” ucap Astri semakin bertambah marah.


   “Ck! Dibilangin yang benar malah marah-marah, sudah sana cepat pulang. Senangnya buat ribut di rumah orang saja.” Warno berkacak pinggang.


  “No, ngapain Mega datang kemari. Siapa yang sakit?” tanya Bayu berbisik.


   “Mas bos yang sakit, makanya bu dokter datang kemari.”


   “Mas Fajar sakit?” tanya Bayu lalu melepas helmnya kembali berniat masuk ke dalam rumah hendak melihat kakaknya.


   “Jadi pulang nggak sih! Bayu, ayo cepetan.”


   “Sudah mas Bayu, besok saja jenguknya. Sekarang lebih baik mas Bayu antar pulang mba Astri dulu, dari pada tambah ngamuk. Pusing Aku dengernya,” ucap Warno menghalangi Bayu masuk ke dalam rumah.


   “Mba Astri kenapa sih dari tadi kok bawaannya ngamuk terus. Salah Aku apa coba?” tanya Bayu heran dengan sikap Astri.


   “Kesal Aku sama si Warno itu. Mau lihat mas Fajar saja kok nggak boleh,” akunya pada Bayu sembari duduk di belakang Bayu.


   “Kesal sama Warno kok marahnya sama Aku?”


   Warno yang mendengar ucapan Astri hanya bisa menggelengkan kepalanya, kesal sama dia kok marahnya sama orang lain. Memang salah kalau dia menyuruh Astri keluar dari dalam kamar waktu bu dokter sedang memeriksa Fajar?


🌹🌹🌹