
Di meja makan rumah Mega siang harinya.
Fajar menyelesaikan suapan terakhirnya, menutup alat makannya lalu meminum air putih di dalam gelas yang telah tersedia di atas meja. Setelah perutnya terisi, tubuhnya terasa jauh lebih baik.
Mungkin ada benarnya ucapan Mega padanya, sarapan hanya dengan segelas susu membuat tubuhnya sedikit lemah. Ditambah lagi ia melakukan pekerjaan yang menguras energi sewaktu kerja bakti tadi. Alhasil, kepalanya yang menjadi pening tiba-tiba membuatnya kurang konsentrasi dan jatuh tergelincir.
Ia mengambil tisu lalu mengusap mulutnya, dilihatnya Mega tengah mengupas buah mangga. Memotongnya dan menaruhnya di atas piring, tak lupa diambilnya garpu baru dalam wadah tertutup lalu menyerahkannya pada Fajar.
“Mas cobain, rasanya maniiiss banget. Hasil kebun sendiri, pohonnya ada di halaman belakang rumah. Aku yang menanamnya dulu, merawatnya sampai tumbuh besar. Sekarang sedang berbuah lebat,” kata Mega dengan nada bangga yang terdengar jelas.
Fajar tersenyum mendengarnya, dicobanya sepotong. Memang manis sekali rasanya, dan Fajar menyukai rasanya hingga tak terasa ia sudah menghabiskan separuhnya.
“Mas kelihatannya suka, gimana rasanya?” tanya Mega menatap lelaki yang duduk berhadapan dengannya itu.
Fajar mengacungkan ibu jarinya, lalu balas menatap Mega. “Suka, manis banget. Sesuai yang Kamu bilang, kalau buah seperti ini di kembangkan pasti akan mudah terjual dan laku di pasaran karena cita rasanya yang manis dan daging buahnya yang tebal.”
“Kalau lagi berbuah seperti sekarang ini, sebagian kita bagi ke tetangga. Tapi, kalau Mas memang berniat mengembangkannya. Mas bisa cangkok batangnya, pohonnya persis di belakang rumah.”
“Iya, Aku mau.”
“Tapi nggak sekarang kan?” tanya Mega.
“Nggak, nanti saja. Minggu depan Aku coba,” sahut Fajar. “Ega, sepertinya Aku sudah terlalu lama di rumahmu. Aku pamit pulang dulu, ibumu mana?”
“Mama lagi ke tempat tetangga sebelah, seperti yang Aku bilang barusan.” Mega mengarahkan telunjuknya pada piring buah di hadapan Fajar.
“Oh.” Fajar mengangguk mengerti.
Tidak lama berselang dari arah depan rumah terdengar suara orang mengucap salam.
“Waalaikum salam,” sahut mereka berbarengan.
“Biar Aku lihat ke depan dulu ya, Mas.” Ucap Mega pada Fajar, lalu bergegas ke depan rumahnya melihat siapa tamu yang datang.
“Loh! Mas Warno kenapa?” tanya Mega yang terkejut melihat Warno datang dengan dibonceng Rizky.
“Encok bu dokter,” sahut Warno sambil meringis memegangi pinggangnya, perlahan turun dari motor.
“Encok?” Mega menautkan alisnya, lalu melihat pada Rizky yang mengulum senyum dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Ho oh. Encok,” jawab Warno lagi. “Bu dokter, Saya ijin duduk di sana dulu ya.” Warno berjalan melewati Mega.
Rizky yang sedari tadi berusaha menahan tawanya, kini langsung terkekeh.
“Maaf ya No, biar Aku yang jelasin sama adikku ini. Warno sepertinya salah urat dek,” ucap Rizky lalu menceritakan kejadiannya tadi, saat Warno yang sedang mendorong gerobak berisi sampah dari dasar parit tiba-tiba mengeluhkan pinggangnya yang sakit.
“Oh saraf terjepit,” kata Mega kemudian setelah mendengar penjelasan kakaknya. “Iya, kita di sini bilangnya salah urat.”
“Kamu kenapa No?” tanya Fajar yang muncul di ambang pintu saat mendengar suara Warno di depan.
“Kita kompakan mas bos barengan sakitnya,” sahut Warno masih meringis. “Sakit pinggangku mas bos,” imbuh Warno lagi.
“Ish! Pinggangku aman No,” sahut Fajar cepat, lalu perlahan melangkah mendekati tempat duduk Warno.
“Kok bisa sih,” tanya Fajar kemudian.
“Ya bisa saja mas bos, apa pun bisa terjadi. Termasuk mas bos yang terpeleset tadi, terus sakit pinggangku ini.”
“Ish!" gerutu Fajar dengan wajah masam.
“Ya sudah, kalau gitu Aku jemput ayah dulu. Lagi pula, kerja baktinya juga sudah selesai.” Ucap Rizky lalu memutar motornya pergi untuk menjemput ayah di balai desa.
“Silahkan, mas Rizky. Biar kami tunggu sebentar di sini,” sahut Fajar kemudian.
“Sekarang tinggal kita berdua mas bos, sama-sama sakit pinggang. Gimana kita pulangnya nanti mas bos?” tanya Warno.
“Gampang, Warno. Kita pulang pakai ojek saja nanti,” sahut Fajar, lalu seolah diingatkan ia menoleh pada Warno lagi.
“Motormu gimana No, bukannya tadi pagi Kamu bawa motor?” tanya Fajar. “Astaga! Sepedaku juga masih di balai desa,” ucapnya lagi sambil menepuk keningnya.
“Motor sama sepedanya sementara biar dititip di sini saja, nanti biar Aku yang ambil di balai desa.” Ucap Mega keluar dari dalam rumah sambil membawa nampan berisi minuman di tangannya.
“Silahkan diminum, dan ini obat buat penahan nyeri sakit pinggangnya mas Warno,” kata Mega lagi lalu menyerahkan sebungkus obat pada Warno.
“Terima kasih bu dokter, jadi merepotkan.” Warno menerima bungkusan dari tangan Mega, ia kemudian menyerahkan kunci motornya pada Mega.
“Ini kunci motor Saya, kalau sepeda mas bos nggak pakai kunci. Langsung bawa saja,” kata Warno sambil nyengir.
Mega tertawa mendengarnya.
“Ish, bisa saja Kamu Warnoo.”
“Iya. Nanti biar Aku bawa sekalian sepedanya,” sahut Mega di sela tawanya.
“Terima kasih ya, Ga.” Fajar menatap dalam mata Mega yang membalasnya dengan anggukan kepala.
☆☆☆☆☆☆
Sedikit info mengenai saraf terjepit atau HNP.
Saraf terjepit atau HNP (Hernia Nucleus Pulposus) adalah suatu kondisi dimana bantalan antar tulang belakang yang lembut seperti agar-agar menonjol sehingga menekan saraf di sekitarnya.
Umumnya HNP terjadi pada punggung bawah dan leher. Gejala akan muncul pada tempat terjadinya saraf terjepit, misal HNP yang terjadi pada punggung bawah akan menimbulkan gejala nyeri pada punggung bawah.
Gejala saraf terjepit atau HNP yang paling sering terjadi adalah nyeri. Kasus HNP yang ringan sering kali tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat juga muncul gejala nyeri yang hebat.
Jika HNP terjadi di punggung bawah, maka akan muncul gejala nyeri punggung yang bisa menjalar ke bokong sampai paha, betis dan kaki. Jika HNP terjadi di leher, gejalanya berupa nyeri di leher yang menjalar ke bahu atau lengan. Nyeri biasanya bertambah jika batuk, bersin atau berubah posisi.
- Otot pada bagian saraf yang terjepit biasanya akan melemah, akibatnya penderita HNP semakin lama akan merasa kesulitan dalam mengangkat beban atau bahkan menggenggam.
- Kelebihan berat badan juga menyebabkan tekanan ekstra pada cakram di punggung bawah.
- Beban berat. Pekerjaan yang menuntut fisik memiliki risiko lebih besar mengalami masalah punggung. Mengangkat, menarik, mendorong, menekuk berulang-ulang dan memutar juga dapat meningkatkan risiko saraf terjepit.
Solusinya saraf terjepit, rutin olahraga dapat memperkuat otot-otot tubuh, menstabilkan, dan mendukung tulang belakang.
Pertahankan postur yang baik, postur yang baik akan mengurangi tekanan pada tulang belakang dan cakram.
Jaga punggung lurus dan sejajar, terutama ketika duduk untuk waktu yang lama. Angkat benda berat dengan benar, cobalah bertumpu pada kaki dan bukan punggung.
Pertahankan berat badan yang sehat, kelebihan berat badan memberi lebih banyak tekanan pada tulang belakang dan cakram. Akibatnya, berat badan akan membuat tulang belakang lebih rentan terhadap herniasi.
Semoga bermanfaat, happy reading all 🤗🤗🤗
🌹🌹🌹