I Am Yours

I Am Yours
43. Ungkapan hati



Seketika jantung Mega berdetak lebih cepat, mata itu masih terus menatap ke arahnya. Perlahan kakinya turun menapaki anak tangga puskesmas, melangkah mendekati tempat Fajar berdiri menunggunya.


“Belum terlambat kan Aku datang jemput Kamu,” ucap Fajar sambil membuka pintu mobil untuk Mega.


Mega menatap laki-laki itu sesaat, lalu menggeleng cepat.


“Lebih cepat sepuluh menit malah,” sahut Mega tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil.


Fajar berjalan memutar lalu masuk ke dalam mobilnya, diliriknya arloji di tangan kanannya.


“Jam berapa bis yang ditumpangi bundamu datang?” tanya Fajar sambil memutar kunci kontak, menghidupkan mesin mobilnya.


Mega menoleh pada Fajar, “Jam lima sore ini, itu pun kalau perjalanannya lancar dan tidak ada kendala apa pun di jalan.”


“Masih ada waktu satu setengah jam lebih,” sahut Fajar lalu memutar setir mobilnya melaju meninggalkan halaman puskesmas. “Kita cari tempat makan dulu yang dekat dengan terminal.”


“Mas belum makan siang?”


“Belum, kelupaan tadi.”


“Lupa? Sampai jam segini belum makan siang cuma gara-gara kelupaan?”


“Sibuk, sayaang. Makanya jadi lupa, Kamunya nggak ingetin Aku.”


Eh, tadi dia bilang apa barusan. Sayang? Mega memiringkan tubuhnya, menatap ke arah Fajar. Ish! Coba saja lihat wajahnya yang datar saat mengucap kata sakral yang satu itu. Apa pendengaran Mega yang bermasalah? Perlahan tangan Mega terangkat mengusap telinganya.


“Kenapa melihatku seperti itu, apa ada yang aneh di wajahku?” Fajar menoleh sesaat pada Mega sambil menepuk kedua pipinya dengan tangan kirinya.


“Nggak ada! Mungkin pendengaran Aku saja yang lagi bermasalah. Sepertinya tadi Aku dengar seseorang menyebut kata ‘sayang’ sekilas,” sahut Mega kemudian.


Fajar terkekeh mendengarnya, “Aku serius, sayang. Tadi sibuk banget sampai lupa makan siang,” Fajar menatap lembut wajah Mega.


“Iya. Aku percaya kok,” jawab Mega dengan pipi merona.


Mereka tiba di salah satu rumah makan yang letaknya paling dekat dengan terminal bis di kota.


“Kita makan di sini ya, lumayan enak kok makanannya. Tempatnya juga dekat dengan terminal, jadi kalau bundamu datang kita bisa langsung jemput beliau di sana nanti.”


Mega mengangguk, menatap ke luar kaca jendela mobil. Dilihatnya rumah makan di depannya itu ramai pengunjung yang datang.


Sepertinya kebanyakan mereka yang datang makan di tempat ini adalah orang-orang yang akan berangkat menggunakan armada bis dan sedang menunggu kedatangannya, terlihat dari koper dan ransel yang ada di bawah meja pengunjung rumah makan.


“Kita turun,” ajak Fajar setelah memarkir mobilnya di tempat yang kosong tidak jauh dari pintu masuk.


Mega menurut, melepas sabuk pengaman di tubuhnya lalu keluar dari dalam mobil dan berjalan beriringan memasuki rumah makan di depannya.


Fajar memilih meja yang berada di pojok ruangan, dan langsung memesan makanan. Sementara Mega hanya memesan minuman biasa. Setelah pesanannya datang, Fajar mulai menyantap makanannya.


“Mas nggak pakai ikan, ayam atau daging gitu?” tanya Mega melihat menu yang dipesan Fajar, tempe tahu, perkedel kentang dan lalapan sayuran hijau.


“Nggak,” sahut Fajar tanpa mengalihkan perhatiannya dari makanan di depannya. “Lagi pengen makan ginian,” imbuhnya lagi.


“ Oh! Kirain nggak suka. Lain kali jangan suka telat makan, sesibuk apa pun. Tidak baik buat kesehatan Mas sendiri,” ucap Mega mengingatkan.


Fajar mengusap mulutnya dengan tisu, lalu menyeruput minumannya hingga bersisa setengahnya.


“Tolong buatkan jadwal harian di ponselku semacam alarm pengingat. Kapan Aku harus makan, juga menjemput dan mengantarkanmu pulang.”


“Eh! Kok gitu. Kenapa harus dibuat jadwal segala, dan kenapa juga harus Aku yang buat. Ini kan ponsel, Mas!” tolak Mega lalu menyerahkan kembali ponsel milik Fajar dan menaruhnya di atas meja.


“Please?” mata Fajar mengerjap, menatapnya dengan sorot mata memohon.


Mega menautkan alisnya, menatap penuh selidik pada lelaki di hadapannya itu. Diliriknya sekilas piring makan Fajar yang sudah kosong. Apa gara-gara menu barusan pikiran lelaki itu jadi agak aneh gini?


Hemm, dengan menarik napas dalam Mega mengulurkan tangannya. Di bukanya ponsel Fajar, matanya membulat sempurna saat melihat gambar di layar ponsel milik Fajar.


“Hei, kenapa harus pakai foto Aku sih!” protes Mega saat melihat gambar dirinya yang sedang duduk berjongkok di halaman puskesmas, menunggu kedatangan Fajar datang menjemputnya.



“Kenapa? Fotonya lucu kok,” sahut Fajar enteng.


Mega melengos, mencebikkan bibirnya. “Ini pasti ngambil fotonya diam-diam. Kenapa nggak pakai foto mas sendiri sih.”


“Bosen lihat gambar diri sendiri, mending lihat foto Kamu.”


Astaga! Santuy banget jawabnya.


“Sudah buatin jadwalnya? Kalau Aku telat makan terus sakit, yang repot juga Kamu nanti.”


“Ini kan privacy, Mas. Bukan ranah Aku untuk mencampuri urusan pribadimu,” ucap Mega lalu menyerahkan kembali ponsel Fajar padanya. “Dan lagi, memang sudah seharusnya Aku merawat pasien yang sakit. Aku juga nggak pernah merasa direpotkan kok,” kata Mega kemudian.


“Justru karena Aku menganggap Kamu spesial makanya Aku mau Kamu setting jadwal harian Aku,” balas Fajar dengan wajah serius.


“Aku mau kita jadi pasangan yang sebenarnya, Aku cinta Kamu Ega.” Fajar meraih tangan Mega. “Melihatmu berlari menangis waktu itu, membuatku menyesali semua ucapanku padamu.”


Mega terdiam sesaat lamanya, pengakuan Fajar begitu mengejutkannya. Ia tidak pernah menyangka Fajar akan mengungkapkan perasaannya secepat ini, teringat bagaimana sikap Fajar padanya selama ini. Ia butuh waktu untuk meyakinkan hatinya.


“Kamu tahu, bagaimana khawatirnya Aku mendengar Kamu berteriak ketakutan di kebun belakang rumahku waktu itu. Bertahun lamanya Aku harus menekan perasaanku melihat Kamu memilih Bayu, dan pada akhirnya harus terluka karenanya.”


“Ba-bagaimana dengan Astri, bukankah dia kekasihmu selama ini. Satu-satunya wanita yang paling dekat denganmu sejak dulu,” ucap Mega, dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Nama Astri tiba-tiba saja muncul di kepalanya.


“Kami memang pernah dekat, tapi semua sudah berlalu saat Astri memilih untuk pergi ke kota besar dan meninggalkan Aku di sini.”


Mega menelan salivanya dengan susah payah, hingga suara dering telpon di dalam tasnya mengalihkan perhatiannya.


Perlahan Mega menarik tangannya dari genggaman tangan Fajar. Dengan cepat diambilnya ponselnya lalu segera menggeser icon hijau di layar ponselnya.


“Waalaikum salam, ya bunda.” Selanjutnya Mega terlibat percakapan singkat dengan bunda Rini.


“Bisnya sudah sampai di terminal. Kita ke sana sekarang ya Mas,” ucap Mega pada Fajar yang dijawab dengan anggukan kepala.


Setelah menyelesaikan pembayaran, keduanya berjalan tergesa dan langsung menuju terminal bis kota. Rumah makan yang mereka kunjungi tadi hanya berjarak lima puluh meter saja dari terminal.


Mega memalingkan wajahnya menatap pada Fajar yang berjalan tenang di sampingnya. Sesaat wajahnya menunduk, menatap ke bawah. Fajar menautkan jemarinya dan menggenggam erat tangannya.


“Jika Kamu butuh waktu untuk menjawab perasaanku padamu, Aku akan menunggunya. Tapi, selama waktu yang Kamu inginkan. Ijinkan Aku untuk selalu berada di dekatmu.” Fajar menoleh pada Mega, tersenyum lembut padanya.


🌹🌹🌹