
Malam cerah, bintang di langit bertaburan. Bulan memancarkan sinarnya, menerangi dua anak manusia yang kini tengah berdiri menatap bangunan ruko di depannya.
Mega tersenyum mengembang, hatinya senang luar biasa. Matanya berbinar cerah, terus menatap bangunan yang terletak di bagian tengah ruko tiga pintu itu.
Sepertinya hari ini, rasa penasaran dan pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya itu akan segera terjawab.
Beberapa hari ini sebelum Fajar mengajaknya kemari, Mega tidak diperbolehkan untuk melihat-lihat ke sana.
Meski setiap hari, hatinya selalu bertanya-tanya karena melihat kesibukan lain dari beberapa mobil yang terlihat bolak-balik mengantarkan barang ke tempat itu.
Bukan bahan material bangunan seperti yang biasanya ia lihat, karena bahan yang diantar terbungkus rapi dan dalam kemasan khusus.
Meski molor dua minggu dari rencana pembangunan semula, karena kendala suplai barang yang terlambat datang. Klinik itu kini selesai dibangun, berdiri kokoh di tengah-tengah di antara dua bangunan ruko lainnya.
Rencananya, Fajar akan memakai ruko yang satu sebagai kantor tempatnya bekerja bersama dengan rekannya yang lain. Jadi ia bisa terus berdekatan dengan Mega.
Sementara ruko di sebelahnya lagi, dibuat sebagai wadah untuk para pemuda desa mengembangkan usaha mereka di bidang pertanian karena desa mereka kaya akan hasil pertanian.
“Boleh Aku masuk?” Mega menunjuk dadanya, “Mau lihat ke dalam, penasaran.”
Lampu di dalam ruko sengaja tidak dinyalakan, biar Mega makin penasaran.
“Boleh, silah kan.” Fajar tersenyum, mempersilahkan Mega berjalan melewatinya.
Seketika dada Mega berdebar lebih cepat, perlahan kakinya melangkah dan berhenti tepat di depan pintu kaca bangunan tersebut.
“Gelap Mas,” ucap Mega, menoleh pada Fajar yang berdiri di sampingnya.
“Sengaja,” jawab Fajar singkat.
“Kok? Gimana lihatnya kalau lampunya mati gitu,” cetus Mega dengan bibir cemberut.
“Ish, memang harus dimatikan lampunya. Kalau nyala, Kamu bakalan bisa lihat isi di dalamnya.”
“Apa, sih. Bikin penasaran aja,” protes Mega, ia balik badan dengan kedua tangan terlipat di dada.
Fajar terkekeh melihatnya, ia lalu berjalan ke samping dan menarik handel yang menempel di tembok. Seketika lampu menyala terang.
“Surprise!”
Mega mengerjapkan matanya, berpaling melihat ke dalam ruko.
“Waahhh!” seruan kagum terlontar dari mulut Mega.
Mega mendorong pintu kaca di depannya, perlahan masuk ke dalam. Tak henti-hentinya ia berdecak kagum, kakinya melangkah mengitari seisi ruangan.
Meja kaca panjang sudah tertata rapi berikut isi di dalamnya yang terdapat berbagai macam alat kesehatan dan obat-obatan, demikian pula dengan rak-rak panjang di bagian sisi kanan yang juga telah terisi dengan macam-macam obat, vitamin, dan lainnya.
Ruangan yang sebelumnya terlihat kosong saat terakhir kali Mega melihatnya, kini telah beralih fungsi menjadi ruang apotek.
“Suka?” suara Fajar menyentuh gendang telinga Mega, lelaki itu kini sudah berada dekat dengannya.
“Bangett,” sahut Mega, dan tiba-tiba saja tangannya terulur memeluk leher Fajar. “Makasih ya mas,” ucapnya tulus.
Mega memeluk erat Fajar, setengah berjinjit karena tinggi laki-laki itu jauh di atasnya. Ia sangat senang sekali, tidak pernah menyangka akan mendapatkan kejutan istimewa dari Fajar.
“I-iya.” Fajar tergagap, sementara kedua tangannya masih berada di sisi tubuhnya.
Tindakan spontan yang dilakukan Mega padanya membuat Fajar terkejut bercampur senang. Pelukan erat tangan Mega di lehernya memangkas jarak di antara mereka berdua.
“Ekhem!” Fajar berdeham.
Mega mengendurkan tangannya, “Ma-af,” ucap Mega lalu bergerak menjauh, tapi tangan Fajar bergerak cepat meraih pinggangnya dan kembali memeluknya.
“Maaf? Maaf buat apa,” tanya Fajar lembut, ditatapnya lekat kedua mata Mega.
“Buu- buat ... buat apa, ya?” Mega memalingkan wajahnya.
Ish, kenapa jadi gagap gini sih!
“Yank,” bisik Fajar di telinganya.
Hiyy, Mega merinding. Embusan napas Fajar terasa hangat menyentuh kulit lehernya.
Cup!
Seketika Mega memejamkan matanya, saat bibir lelaki itu mengecup keningnya.
Ya Tuhan! Tubuh Mega langsung lemas, jantungnya berdegup makin kencang.
Tangan lelaki itu mengusap kedua pipinya, lalu tersenyum lebar melihat mata Mega yang masih saja terpejam.
Satu detik ...
Dua detik ...
Tiga detik ...
Sepuluh detik ...
Mega membuka matanya, tatapannya membentur dada bidang Fajar. Sontak saja pipinya langsung bersemu merah, menyadari tatapan mata Fajar yang menatapnya penuh arti.
Perlahan lelaki itu melonggarkan pelukannya, lalu menautkan jemarinya ke tangan Mega dan menggenggamnya erat.
“Sudah siap?”
“Hah! Siap apa?” tanya Mega bingung.
“Masih ada ruangan lain yang belum Kamu lihat,” ujar Fajar kemudian, lalu menggandeng tangan Mega membawanya ke satu ruangan yang terletak di sisi sebelah kanan bangunan.
“Oh,” sahutnya singkat.
Kalau itu sih dari tadi juga siap, bisik Mega dalam hati.
Untuk selanjutnya Mega mandah saja, mengikuti langkah Fajar hingga tiba di depan pintu ruangan yang masih tertutup rapat.
“Bukalah!” perintah Fajar.
“Aku?” sahut Mega, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Fajar.
“Baiklah,” ucap Mega, lalu membuka knop pintu.
“Woww!”
Lagi dan lagi mulut Mega tak berhenti menyerukan kekaguman.
Di dalam ruangan itu terdapat banyak peralatan medis yang terpasang di setiap sudut ruangan.
Di bagian depan terdapat sebuah meja lebar untuk interaksi pasien dan dokter, dan tidak jauh dari sana terdapat ranjang pasien dengan desain modern. Ruangan itu tertata dengan apik membuat orang yang berada di dalamnya merasa betah dan nyaman.
“Ini ruangan Kamu nantinya, sengaja Aku buat senyaman mungkin.” Fajar berdiri di ambang pintu, melihat kepada Mega yang berdiri memunggunginya.
“Ya Allah!” seru Mega tertahan, rasa haru menyeruak dalam hatinya.
“Yank,” panggil Fajar, dilihatnya bahu Mega bergetar.
Fajar berjalan mendekat, Mega bergeming di tempatnya dengan kepala tertunduk.
“Yank,” panggil Fajar lagi, kali ini lebih lembut.
Disentuhnya dagu Mega, perlahan wajah itu terangkat. Sudut matanya berair, menatapnya lekat.
“Terima kasih, Mas.” Mega menghambur ke dalam pelukan Fajar.
“Kejutan yang benar-benar istimewa buat Aku,” ucap Mega tersenyum menatap wajah Fajar dengan mata dipenuhi air mata haru. “Makasih, sayang.”
“Ini salah satu bukti keseriusanku padamu, kalau Aku sungguh-sungguh menginginkanmu jadi bagian hidupku.” Fajar mengetatkan pelukannya.
“Love you Ega,” bisik Fajar.
Tidak ada jawaban dari Mega, tapi lewat bahasa tubuhnya yang semakin merapatkan dirinya dalam pelukan Fajar sudah cukup menjawab semuanya.
🌹🌹🌹