I Am Yours

I Am Yours
58. Terapi alami



Mega memiringkan wajahnya, menatap lelaki yang diam di sisinya itu.


“Dih, manyun. Awas jatuh itu bibir,” goda Mega, melihat wajah masam fajar.


Fajar menoleh sesaat, lalu kembali menatap jalanan di depannya.


“Bisa nggak sih, Aku dengar kabar dirimu tanpa harus meneleponmu dulu?” ucapnya kemudian, diselingi tarikan napasnya yang dalam.


Mega menautkan alisnya, “Bukannya setiap hari mereka selalu bertemu? Pagi pergi kerja bareng, sore pulang kerja bareng. Malam juga, kadang masih suka ketemuan di rumah.” Mega bergumam dalam hati.


“Ma-maksudnya?” tanya Mega penasaran.


“Seharian tadi Aku telpon nggak diangkat. Padahal ponselnya aktif,” gerutu Fajar. “Kangen tau!” ucap Fajar tapi hanya dalam hati.


“Hah! Masa sih, Mas.”


Mega lalu meraih tasnya, mencari ponsel di dalamnya. Seketika mulutnya terbuka lebar, saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Fajar di sana.


“Astaga!”


“Mingkem!” tegur Fajar sambil menahan senyumnya, membuat Mega langsung menutup rapat mulutnya.


“Maaf,” ucap Mega kemudian, memasang wajah memelas. “Ponselnya Aku taruh di dalam laci, lupa kalau nadanya Aku silent. Jadi nggak dengar ada telpon masuk.”


“Kenapa nggak ditaruh di dalam saku baju, lagi pula ngapain juga pakai di silent segala. Kalau ada telpon penting gimana?”


“Namanya juga lupa,” elak Mega. “Bentar Aku ubah pengaturannya.”


Mega mulai mengutak-atik ponselnya, “Sudah pernah Aku taruh di saku baju juga, malah bolak-balik kepentok ujung meja. Sampai retak layarnya, untung aja masih bisa dibaikin. Makanya Aku taruh dalam laci,” sahut Mega.


“Nah, sudah berubah.” Mega memperlihatkan layar ponselnya. “Coba sekarang mas Inug telpon, pasti langsung aku angkat.”


“Ish! Lagi nyetir juga.”


Mega terkekeh, “Oh, iya. Maaf, nggak bakalan gitu lagi deh.”


Mega lalu menggeser tubuhnya mendekati Fajar, perlahan tangannya terulur menyibak rambut yang menutupi kening lelaki itu.


“Yank! Jangan macem-macem, lagi nyetir ini!”


Fajar menurunkan tangan Mega dari wajahnya, kedekatan mereka mengganggu konsentrasi Fajar. Tapi, wanita itu masih terus saja menatapnya tak berkedip.


Tidak berhenti hanya di situ saja, tangan Mega kembali terulur dan menarik lembut rambut yang menjuntai di dekat mata Fajar. Embusan napas Mega terasa hangat di kulit lehernya.


Fajar menahan napasnya, melihat wajah Mega semakin dekat. Tangannya kuat mencengkeram setir mobilnya, duduk dengan punggung tegak.


“Kalau Mas nggak mau cukur itu poni, biar Aku yang potong nanti. Nggak risih apa mata ketutupan rambut gitu?” ucap Mega setengah berbisik, lalu bergeser menjauh dan kembali duduk manis di bangkunya.


Astaga yank!


Fajar menghembuskan napas kasar, jantungnya masih berdegup kencang. Sementara Mega, dengan santainya melepas sepatu di kedua kakinya.


“Kakimu kenapa, kok sepatunya dilepas. Luka, lecet?” tanya Fajar setelah berhasil mengatur napasnya.


Mega menggeleng, tersenyum tanpa menoleh pada Fajar. “Nggak, cuman pegal doang.”


“Oh,” Fajar melirik ke bawah kaki Mega, ia kembali fokus melihat jalan di depannya.


“Oke,” sahut Mega tanpa banyak bertanya.


•••••


Fajar memarkirkan mobilnya di luar halaman rumahnya, Mega langsung turun dari mobil saat melihat Sri tengah sibuk dengan tanaman di pot-pot kecil yang ada di halaman rumah Fajar.


“Yank, Aku sekalian mandi dulu ya.”


“Oke, jangan lupa potong itu rambut!” ucap Mega mengingatkan.


“Ish! Besok saja sekalian rapiin ini rambut,” sahut Fajar, bergegas ke dalam rumah sebelum mendengar Mega kembali bersuara.


Sri terkekeh melihat keduanya, “Bu dokter sudah kayak istri lagi marahin suaminya,” ujar Sri tertawa geli.


Mega meringis mendengarnya, “Gitu ya, Sri.” Mega ikut tertawa.


Matanya kini fokus pada tanaman di tangan Sri.


“Ini ‘kan jawer kotok, Sri.”


“Benar, bu dokter. Mas bos punya banyak tanaman obat di sini, ini juga ada tanaman kumis kucing.” Sri menunjukkan tanaman lainnya.


“Iya, banyak manfaatnya loh. Jawer kotok ini anti biotik alami, buat obat lambung, luka dalam juga cepat kering. Selain itu juga, membersihkan darah kotor setelah persalinan.”


“Caranya gimana bu dokter?”


“Direbus Sri, bikin satu gelas nanti dicampur garam sedikit. Cukup 3 lembar daun jawer kotok, rebusnya jangan terlalu lama. Bisa dicampur daun salam, bisa juga dengan sereh.”


“Oo gitu,” sahut Sri manggut-manggut.


“Kalau yang punya gejala ginjal, minum air rebusan daun alpukat sama daun kumis kucing. Minimal 3 kali sehari minum air rebusannya.”


Mega lalu beralih pada tumpukan batu kerikil yang disusun memanjang di atas jalan semen menuju kolam ikan.


“Wih, ternyata mas Fajar juga punya terapi alami di sini.” Mega lalu melepas kembali sepatunya dan mulai berjalan di atas batu kerikil.


Sri mengikutinya dari belakang, “Cenut-cenut kaki, bu dokter.” Sri berjalan berjingkat di belakang Mega.


“Ini terapi yang bagus, Sri. Perbanyak jalan kaki di atas batu kerikil setiap jam 11 siang, tanpa alas kaki ya.”


“Panas kalau jam segitu bu dokter,” sahut Sri.


“Ya ‘kan buat terapi, kalau pagi batu kerikilnya belum panas. Minimal 20 kali putaran. Kecuali kalau Kamu lakukan itu selama 30 menit, sampai telapak kakimu pedas. Itu terapi yang bagus Sri, badan sakit karena masuk angin, lambung. Terapi pijat untuk organ dalam tubuh.”


“Oke lah, bu dokter. Mulai besok siang tak cobanya,” ucap Sri sambil mengacungkan jempolnya.


“Yank!” panggil Fajar, lelaki itu sudah terlihat rapi dan wangi. “Ngapain di situ, jalan yuk!”


“Lagi ngobrol sama Sri,” sahut Mega.


“Sri, Aku balik dulu ya. Selamat mencoba,” ucapnya pada Sri.


“Silahkan, bu dokter. Makasih sarannya,” balas Sri, lalu kembali membenahi tanamannya yang sempat tertunda tadi.


🌹🌹🌹