I Am Yours

I Am Yours
67. Ganti warnanya



Minggu pagi di klinik Mega.


“Hem.”


Mega berdiri dengan kedua tangan di pinggang, matanya lurus menatap ke depan.


“Kamu yakin mau ganti warna catnya? Bukannya warna yang sekarang sudah pas, yank.” Fajar berdiri di ambang pintu bersama salah satu anak buahnya, menunggu perintah Mega yang berdiri memunggunginya untuk mengganti warna cat ruang kerjanya di klinik.


Mega menoleh sesaat lamanya, lalu beralih menatap wadah ember plastik berisi cat dan perlengkapan lainnya yang ada di sudut ruangan.


Ia meringis sejenak melihat barang-barang yang tadinya sudah tertata rapi di ruangan itu harus di atur ulang lagi. Tapi ia memang menginginkan suasana baru yang beda dari sebelumnya, karena ini klinik pribadi jadi ia merasa bebas mengatur sesuai keinginannya. Meskipun Mega tahu, hal itu merepotkan Fajar tentunya.


“Ya! Aku ingin suasana yang berbeda, bosan warna itu melulu. Di rumah warna abu-abu, puskesmas juga abu-abu. Rumah mas Inug apalagi, semuuaa serba abu-abu.” Mega melebarkan tangannya, “Lagi pula ini kan ruang kerja Aku, jadi terserah Aku mau warna apa.”


“Hah, bosan?” Fajar melangkah mendekati Mega, memutar tubuhnya saling berhadapan.


“Ya, bosan!” sahut Mega mengulang ucapan Fajar.


“Ish!”


Fajar menyukai warna abu-abu, sementara Mega menyukai warna biru. Mega ingin mengubah warna abu-abu ruang kerjanya dan menggantinya dengan warna biru kesukaannya.


“Ash ish ash ish.” Mega memutar bola matanya, “Bosan sama warnanya, sayang. Bukan sama orangnya,” sahut Mega cepat.


Fajar tersenyum mendengar jawaban Mega, ia memberi isyarat pada anak buahnya untuk segera memulai pekerjaannya.


“Apa pun keinginanmu Aku turuti, asal jangan gantikan namaku di hatimu dengan yang lain. No, big no!” Fajar menggeleng sambil memainkan jarinya di depan Mega.


“Apaan sih.” Mega tersipu malu. Ia menepis pelan tangan Fajar, lalu melangkah keluar ruangan.


“Pak, Saya tinggal dulu ya. Kalau ada yang kurang, langsung hubungi Saya saja. Saya ada di rumah sebelah,” pamit Fajar pada anak buahnya.


“Beres Bos!”


Mega berjalan mengitari ruangan apotek di kliniknya. Sudah ada pegawai yang siap bekerja di sana, salah satunya perawat yang bekerja di puskesmas bersamanya. Rencananya Senin besok kliniknya resmi beroperasi.


Mega memutuskan akan tetap bekerja di puskesmas seperti biasanya, baru pada malam harinya ia akan berada di kliniknya.


Awalnya Fajar sempat memintanya untuk fokus pada kliniknya saja, tapi Mega mengatakan kalau tenaganya masih sangat dibutuhkan di puskesmas. Ia akan fokus di kliniknya kalau dokter baru yang bertugas menggantikan dirinya di puskesmas sudah datang.


Mega tersenyum menggelengkan kepalanya, “Nggak, cukup ruang kerjaku saja. Aku tahu pasti merepotkan buatmu harus mengatur ulang barang-barang kembali.”


“Nggak repot juga sih, kali aja biar samaan dengan yang di dalam.”


“Eh, tapi boleh juga kalau semua diganti warnanya. Jadi terlihat lebih fresh,” sahut Mega dengan mata berbinar. “Boleh deh, sekalian sama ruangan ini juga.”


“Ish, tapi nggak sekarang yank. Mepet waktunya, nggak bakal selesai satu hari ngerjainnya.”


“Lah, yang barusan kasih ide siapa coba.” Mega mencebikkan bibirnya. “Katanya tadi apa pun keinginanku dituruti.”


Mega lalu berjalan pulang ke rumahnya diikuti Fajar di belakangnya.


“Yank, ish. Barengan napa jalannya,” panggil Fajar, tapi Mega terus saja berjalan tanpa menghiraukan panggilannya.


Fajar meringis, “Haish! Salah kasih ide lagi. Jadi ngambek kan,” gumamnya dalam hati.


Sementara Mega yang berjalan di depan, sedari tadi berusaha menahan senyumnya. Mana mungkin dia ngambek, apalagi melihat sikap Fajar yang begitu perhatian padanya. Ia hanya ingin menguji apa Fajar ingat janjinya pada Mega tadi pagi.


“Yank!” panggil Fajar lagi.


“Ya sudah lah, Aku balik klinik lagi saja. Kali aja kalau Aku ikut bantu ngecat jadi cepat selesai kerjaannya,” ucap Fajar lalu memutar tubuhnya kembali ke klinik lagi.


“Eh, jangan!” seru Mega.


Brugg ...


Mega berlari dan memeluk Fajar dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang Fajar.


“Aku canda doang, nggak seriusan juga mintanya tadi. Mas kan janji mau temani jalan tempat bidan Yati sekalian jenguk anaknya, masa lupa sih?” tanya Mega menahan langkah Fajar.


Fajar tersenyum mengembang, ia menggenggam tangan Mega di perutnya. “Astaga, kirain Kamu ngambek soal tadi yank. Kalau itu sih Aku nggak lupa.”


“Masa gitu aja ngambek, nggak lah. Ya udah, Aku siap-siap dulu.” Mega lalu masuk ke dalam rumahnya, dan tidak berapa lama kemudian ia sudah siap dengan dirinya. Keduanya lalu berangkat ke rumah bidan Yati, dan kembali siang hari.


Fajar kembali mengawasi pekerjaan di klinik, dan Mega mempersiapkan keperluan untuk pembukaan kliniknya esok hari.


🌹🌹🌹