I Am Yours

I Am Yours
20. Kenangan



Bayu mempercepat langkahnya segera setelah ia menaruh motornya di tempat parkir terminal. Matanya mulai mencari sosok wanita yang sedari tadi terus menghubunginya lewat telepon.


   “Bayu!”


   Bayu memalingkan wajahnya, dilihatnya Astri tengah berdiri di samping pos penjualan tiket dengan tas jinjing di bahunya.


   “Kenapa lama sekali datangnya, Bay. Satu jam lebih Aku menunggu Kamu di sini,” sungutnya melihat kedatangan Bayu. 


   “Maaf, Mba. Tadi ada urusan sebentar makanya telat jemputnya,” jawab Bayu. “Mana tasnya, sini biar Aku yang bawa.”


   Astri lalu balik badan dan berjalan ke arah barisan bangku yang ada di ruang tunggu terminal.


   “Sini Bay,” panggilnya pada Bayu, lalu mendorong dua buah koper besar miliknya ke depan.


   “Kalau kopernya sebesar ini gimana cara bawanya, Mba?” Bayu menggaruk tengkuknya, lalu melihat pada dua kardus berukuran sedang yang ada di dekat kaki Astri. “Kardus itu juga bawaan mba Astri?”


   “Iya, kenapa? Itu oleh-oleh buat kalian,” ucapnya sambil mengarahkan telunjuknya pada kardus di bawahnya.


   “Ya nggak kenapa-napa sih, Mba. Lagi pula Aku kesini tadi cuma bawa motor, mana bisa bawa barang segitu banyaknya.”


   “Mana aku tahu kalau Kamu datang pakai motor doang, mobilmu mana? Sudah tahu Aku pulang dari kota, ya pasti banyak yang dibawa.” Astri memajukan bibirnya.


   “Memangnya Mba mau berapa lama tinggal di sini lagi, apa sudah nggak balik ke Jakarta lagi?” tanya Bayu heran, kalau hanya sekedar berkunjung untuk beberapa hari saja tentu tidak sebanyak ini barang yang dibawanya.


   “Entah lah Bay, balik ke Jakarta lagi atau nggak. Yang jelas, untuk sementara waktu Mba mau menetap di desa kita ini dulu.” Astri menjawab ragu, kenyataan memang tidak sesuai dengan harapannya.


   Mencoba peruntungan hidup di kota besar tidak semudah seperti apa yang dibayangkan dirinya, bahkan sejak awal kedatangannya saja Astri sudah harus kehilangan uangnya karena kecopetan.


   “Begini saja, barang bawaannya biar dibawa pakai angkot saja. Nanti kita ikuti dari belakang, gimana?”


   “Terserah Kamu saja, Bay. Aku capek kepingin cepat istirahat,” jawab Astri lalu mendudukkan dirinya di bangku panjang terminal.


   Bayu lalu memanggil angkot yang ada di terminal, setelah tawar menawar harga akhirnya mereka sepakat dan langsung berangkat pulang menuju rumah Astri yang letaknya bersebelahan dengan rumah Bayu dan Alya.


   “Gimana kabarnya mas Fajar, Bay. Apa masih kerja di perkebunan pak Tito,” tanya Astri di sela-sela perjalanan menuju rumahnya.


   “Mas Fajar baik,” jawab Bayu singkat.


   “Syukurlah,” ucap Astri tersenyum mengembang. “Dia pasti senang melihat Aku datang.”


   Bayu hanya tersenyum kecil, mengingat bagaimana dulu Astri lebih memilih pergi ke kota besar mengejar mimpinya ketimbang tinggal di desanya. Meninggalkan Fajar, memutuskan hubungan dengan kakaknya yang kala itu harus bekerja keras untuk membiayai kuliah dan hidupnya bersama dirinya.


☆☆☆☆☆☆☆


   Siang di puskesmas Parikesit.


   “Bukan main sibuknya kita hari ini, bu dokter. Banyak sekali pasien yang datang berobat,” ucap Ida, perawat yang membantu Mega di ruangannya sambil mencuci tangannya di wastafel yang ada di dekat Mega duduk.


   “Perubahan cuaca yang tidak menentu seperti saat ini membuat kondisi tubuh kita melemah dan mudah terserang penyakit. Harus tetap jaga pola makan, minum vitamin dan rajin olah raga teratur.” Mega tersenyum menjawab ucapan Ida.


   “Iya bu dokter. Sudah jam istirahat, bu dokter mau makan siang bareng kami di kantin?” tanya Ida lagi sambil mengangkat ibu jarinya mengarah ke luar.


   “Nanti Saya menyusul. Silahkan istirahat duluan,” jawab Mega kemudian.


   “Kalau begitu Saya pamit ke kantin duluan, bu dokter.”


   “Silahkan.”


   Mega menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya, termenung sesaat mengingat pertemuannya kembali dengan Bayu kemarin sore. Sempat dilihatnya tatapan penyesalan dari mata Bayu saat menatapnya, seolah tersirat kata maaf yang belum sempat terucap dari bibirnya.


   Penampilannya tidak sekeren dulu lagi, sekarang ia terlihat sederhana dan tampil apa adanya. Lelaki itu kelihatan lebih tua dari pada usianya yang sebenarnya.


   Dulu, Bayu pemuda yang sangat tampan. Banyak wanita berlomba-lomba menarik perhatiannya, agar bisa lebih dekat dengannya.


   Tapi Bayu lebih memilih Mega untuk jadi pacarnya dan hal itu membuat yang lain iri padanya, termasuk Alya sahabatnya yang diam-diam menyukai Bayu sejak lama.


   Mega tersenyum kecil saat mengingat bagaimana Fajar menghalau mereka yang datang ke rumahnya,  hanya sekedar ingin bertemu dengan Bayu adiknya.


   Kemarahan Fajar tidak berhenti sampai di situ saja, apalagi melihat hubungan Bayu dan Mega yang semakin bertambah dekat saja. Di mana ada Bayu di situ pasti ada Mega, seperti perangko.


   Bayu lebih banyak menghabiskan waktu luangnya dengan bermain bersama Mega ketimbang belajar dan membantu usaha barunya yang sedang dirintisnya. Dan itu membuat Fajar semakin tidak menyukai Mega karena dianggap membawa pengaruh buruk untuk Bayu.


   “Dasar genit, bisanya hanya menggoda lelaki saja. Selalu ada saja alasan untuk bertemu, belajar dulu yang benar sana. Seperti tidak ada kesibukan lain saja, masih kecil sudah main pacar-pacaran. Mau jadi apa kalau sudah besar nanti,” Fajar mencecarnya saat Mega datang hendak mengembalikan buku bimbingan belajar ujian nasional milik Bayu yang dipinjamnya.


   Mega tidak terima dikatakan seperti itu oleh Fajar, ia marah tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Matanya mulai berkaca-kaca, dari kecil Mega selalu mendapat limpahan kasih sayang kedua orang tua juga kakaknya. Seumur hidupnya ia belum pernah dibentak apalagi mendapat perlakuan kasar dari orang lain, dan sikap kasar Fajar padanya membuatnya terluka.


   “Cengeng!” bentak Fajar saat melihat Mega mengusap sudut matanya yang berair.


   Mega hanya bisa berlari pulang dan menangis sepanjang jalan, dan buku milik Bayu masih berada di tangannya.


   Mengingat hal itu, Mega jadi semakin sebal pada Fajar. Ia menyadari kalau lelaki dingin yang dilihatnya mengendarai mobil hitam saat perjalanannya bersama Pras ke kebun obat itu adalah Fajar Anugrah kakak lelaki Bayu.


   Lamunannya terhenti saat mendengar derum suara mobil berhenti di depan puskesmas.


   Mega mendongakkan wajahnya, menatap pada lelaki tegap yang kini berdiri di pintu ruangannya dengan wajah memerah.


🌹🌹🌹