
Untuk pertama kalinya semenjak mengenal Fajar dan bergaul dengannya, Mega malu bertatapan muka langsung dengannya. Sementara di halaman rumah, di antara deretan bangku plastik yang berjajar rapi Fajar terus mengawasinya.
Sikap Fajar yang terang-terangan menunjukkan ketertarikan padanya, membuat Mega harus pandai-pandai menjaga sikap dan ucapannya. Ia tidak ingin laki-laki itu tersinggung atau bahkan berbalik membencinya.
Mereka berdua memang belum memiliki komitmen apa-apa, tapi sikap dan perhatian yang ditunjukkan Fajar padanya sudah cukup membuktikannya. Dan semua orang di desa ini sepertinya juga tahu, bahkan berharap kalau Fajar dan Mega bisa bersama.
Fajar bukan Bayu, Fajar bukan lelaki romantis apa lagi pandai merayu seperti Bayu. Mega bisa bergaul dan akrab dengan teman lelakinya saat bersama Bayu dulu, tapi tidak kini dengan Fajar. Ia akan memperlihatkan raut wajah tidak sukanya saat melihat lelaki lain berdekatan dengan Mega, meski pasiennya sekalipun.
Fajar juga bukan lelaki yang suka basa-basi, ia suka bicara langsung dan terus terang. Bila menyukai dan menginginkan sesuatu, maka ia akan berusaha mendapatkannya. Tapi bila ia tidak menyukainya, Fajar akan mengabaikannya.
“Jangan berbalik, jangan menatap ke arahnya. Fokus!” gumam Mega berusaha bersikap seperti biasa, meski sedari tadi ia merasa salah tingkah karena terus saja diperhatikan.
Sambil menata meja panjang yang diletakkan sejajar di teras rumahnya, Mega mulai mengisi makanan dan minuman di atasnya.
“Ada yang bisa Aku bantu?”
“Astaga!” Mega menoleh sambil memegang tengkuknya, terkejut melihat Fajar yang sudah berada di sampingnya. “Bikin kaget orang saja!”
“Ish! Kayak lihat hantu saja. Di mana-mana orang kaget itu pegang dada, malah tengkuk yang dipegang.”
“Sok ngatur segala eh. Yang kaget kan Aku, ya suka-suka mau pegang apa juga. Kalau ngagetin dari depan baru pegang dada,” balas Mega sambil melirik tajam pada Fajar.
Fajar meringis, “Ayo, mana yang mau diangkat keluar lagi. Biar Aku bantu,” ucap Fajar sembari menoleh ke belakang dan memanggil Warno.
“No, sini No. Bantuin bu dokter,” panggilnya pada Warno yang tengah mengobrol dengan pekerja lainnya.
“Ya, mas bos!” Warno berdiri dan bergegas mendekat.
“Ngapain pakai manggil mas Warno segala? Cuman tinggal termos nasi doang yang belum dibawa ke mari,” tanya Mega setengah berbisik.
“Ya buat bantu angkat barang ke mari lah, Ega. Masa mau gangguin Kamu,” sahut Fajar sambil menautkan alisnya.
“Lah, terus Mas sendiri ngapain ke mari?” tanya Mega lagi, rupanya lelaki itu masih belum menyadari kalau kehadirannya di dekat Mega justru mengganggu fokus wanita itu.
“Nemenin Kamu,” jawab Fajar santai. “Dari tadi Aku perhatikan Kamu bolak-balik bawa makanan nggak ada yang bantuin. Makanya Aku datangi Kamu ke sini,” imbuhnya lagi.
“Ish, nggak jelas!” gerutu Mega kemudian. “Ayo, mas Warno. Ikut Saya ke dalam,” ajaknya pada Warno dan berjalan terlebih dahulu diikuti Warno dan Fajar dari belakang.
“Siap bu bos,” sahut Warno cepat.
“Eh!” Mega menghentikan langkahnya, menoleh pada Warno yang memanggilnya dengan panggilan berbeda dari biasanya.
“Apa termos ini yang mau dibawa keluar bu bos? Biar Saya angkat,” ucap Warno langsung saja mengangkat termos nasi tanpa menoleh lagi pada Mega yang menatapnya dengan sorot mata bertanya.
“Biar Aku angkat dus air minum ini saja,” ucap Fajar melakukan hal yang sama, langsung saja mengangkat dus air mineral yang berada di bawah meja makan tanpa bertanya pada Mega.
“Ada apa dengan kalian berdua?” gumam Mega sambil mengekor di belakang Fajar.
“Sudah dibawa keluar semua makanannya?” tanya mama yang keluar dari dalam kamar.
“Sudah, Ma.”
“Ya sudah, biar disuruh langsung makan saja sekalian. Sudah waktunya makan siang juga,” kata mama kemudian.
“Iya, Ma. Itu lagi diajak makan bareng sama ayah,” sahut Mega memilih untuk berada di dalam rumahnya, sembari memainkan ponselnya sementara yang lainnya tengah menikmati santap siangnya.
Di sela keasikannya membaca salah satu karya penulis kesayangannya di salah satu aplikasi baca novel ternama, Mega kembali dikejutkan dengan suara riuh dari luar rumahnya.
Kali ini bukan suara barang yang terjatuh dengan keras dan berulang, tapi suara canda dan tawa diselingi kata pujian yang terdengar jelas sampai di telinga Mega.
Penasaran! Mega melihat keluar dan terpaku sesaat lamanya. Di sebelah Fajar, duduk seorang wanita muda berparas cantik dan berpenampilan menarik.
“Dokter Mega,” seru seseorang memanggil namanya.
Mega menoleh ke arah samping kanannya. Dilihatnya dokter Rendra berjalan keluar dari pagar gudang sebelah rumahnya yang terbuka, yang kini langsung terhubung dengan halaman rumahnya.
“Apa kabar, dok.” Rendra mengulurkan tangannya menjabat erat tangan Mega.
“Baik,” sahut Mega dengan tersenyum ramah membalas uluran tangan Rendra. “Kapan datang?”
“Tadi pagi jam sepuluh. Aku dateng bareng Yola, adek Aku. Itu lagi ngobrol bareng mas Fajar.” Rendra menunjuk ke arah Fajar dan Yola. “Nelpon pagi tadi ke rumah, nggak tau kalau lagi sibuk di sini,” jelas Rendra.
“Oh, itu adik dokter. Lagi libur kuliah atau cuti kerja?”
“Baru saja selesai kuliah, sama seperti mas Fajar sarjana di bidang pertanian. Rencananya sih liburan sambil cari pengalaman baru,” sahut Rendra sambil tertawa.
“Cantik,” ucap Mega tercetus begitu saja.
Cantik dan menarik, kelihatan ramah dan menyenangkan bila diajak mengobrol. Mega yakin dalam waktu singkat Yola bisa dengan mudah menarik perhatian warga desa, terutama pemuda desa ini tidak terkecuali Fajar.
“Mari Aku kenalkan dengan adikku, dok. Aku harap Kamu menyukainya dan kalian berdua bisa berteman akrab nantinya,” ucap Rendra lalu mengajak Mega menemui Yola.
“Yola, pendatang baru di desa ini. Senang bisa berkenalan dengan mba Mega,” ucapnya manis.
“Mega. Selamat datang di desa Parikesit yang indah ini,” ucap Mega tersenyum membalas salam perkenalan dari Yola.
Ya, perkenalan pertama Mega dengan Yola memang menyenangkan. Gadis muda itu sangat ramah, ceria, dan pandai sekali membawa diri sehingga dengan mudah akrab dengan orang yang baru saja dikenalnya.
Setelah menawarkan teman barunya itu untuk makan siang, Mega berpamitan untuk membereskan sisa makan siang para pekerja yang dilihatnya sudah kembali melanjutkan pekerjaannya lagi.
“Oh ya, Yola. Aku pamit dulu mau beres-beres sebentar,” pamit Mega.
“Aku bantuin ya Mba,” ucap Yola tanpa menunggu jawaban dari Mega.
Dengan sigap ia mengumpulkan piring dan gelas bekas makan para pekerja dan membawanya masuk ke dalam rumah.
“Aku bantuin!”
Fajar tiba-tiba muncul dan langsung mengambil alih piring kotor dari tangan Yola.
“Dari tadi kek bantuinnya,” kata Yola lalu mengikuti Fajar dari belakang dengan membawa gelas kotor di tangannya.
Fajar hanya tertawa menanggapinya, sementara Mega tersenyum tipis melihat keakraban kedua orang di depannya itu.
“Hei, bengong!”
“Hei, senang banget sih ngagetin orang!” protes Mega pada Fajar.
Lelaki itu terkekeh melihatnya, “Suka kalau lihat Kamu manyun gitu, jadi pengen ...”
Blusshh!
Pipi Mega langsung merona, “Apaa, pengen apa! Nggak usah macem-macem ya,” sahut Mega sambil mendelik sebal.
“Mas Fajar, ayoo bantuin lagi.” Yola menarik lengan Fajar menjauh dari Mega.
Dan Fajar hanya tertawa saja sambil mengedipkan sebelah matanya pada Mega. Astaga! Ada apa denganmu mas.
🌹🌹🌹