I Am Yours

I Am Yours
64. Maukah kau menjadi istriku



Malam tiba, suasana di pinggir pantai semakin terlihat ramai. Banyak anak-anak muda yang datang bersama pasangannya, mereka duduk di tanah berumput yang ada di tepi pantai. Bermalam mingguan, menikmati langit malam yang bertabur bintang.


“Yank, mau dibawain apa lagi. Mumpung mereka masih di rumah,” tanya Fajar berbisik pada Mega yang berada di sampingnya, sibuk mengupas kulit jagung bersama Sri.


“Camilan aja kali, sama minuman. Pengen yang seger-seger,” sahut Mega menoleh pada Fajar.


“Minuman dingin?” terdengar sahutan dari seberang telpon.


“Jangan yang dingin, Yol!” sambar Fajar cepat. “Yang biasa saja, gitarku jangan lupa.”


“Oke bos.”


Setengah jam kemudian, Yola dan Pras datang menyusul. Tangan mereka berdua penuh dengan barang-barang bawaan dari rumah Fajar.


“Bawa gitar segala,” tanya Mega, melihat Pras menaruh gitar di samping Fajar lalu kembali ke mobilnya mengambil barang lainnya.


“Iya. Mau nyanyiin lagu buat Kamu,” jawab Fajar, yang sukses membuat pipi Mega merona.


“Ish, gombal.” Mega memukul pelan lengan Fajar dengan kulit jagung.


Fajar langsung merangkul bahu Mega gemas, dan mencium puncak kepalanya. “Biarin gombal juga, sama tunangan sendiri.”


“Hellow, ada orang di sini kalee. Berasa jadi nyamuk kita,” Yola memutar bola matanya melihat kemesraan Fajar pada Mega.


“Tinggal ditepuk nyamuknya. Kalau masih gak mempan juga semprot baeygon saja,” celetuk Pras lewat di depan Yola sambil menurunkan barang terakhir dari mobilnya.


“Mati dong!” sahut Yola, yang langsung disambut tawa yang lainnya.


“Warno mana, Mas.” Pras celingukan.


“Ada, lagi cari kayu bakar. Bentar juga balik,” sahut Fajar lalu berdiri meraih tenda di sampingnya.


“Kita pasang dulu tendanya, Moga saja langit cerah sampai pagi.”


“Kalau hujan bakalan bubar acara kita,” balas Pras, kedua pria itu mulai memasang tenda persis di belakang tempat duduk mereka saat ini.


“Jadi ingat pas acara perpisahan bareng teman kkn di pantai,” ucap Yola tersenyum memperhatikan kedua pria di depannya memasang tenda.


“Seru pasti,” sahut Mega balas tersenyum.


“Pastinya Mba, seru abis.”


Yola lalu membongkar camilan dan minuman yang dibawanya, dan menaruhnya di atas terpal.


“Sri, dah beres belum. Pakai bumbu nggak tuh bakarnya,” tanya Yola.


“Pakai blueben mba Yol biar siip,” sahut Sri mengacungkan jempol. “Wes beres, tinggal dibakar.”


Sri lalu membereskan sisa kulit jagung dan menaruhnya di kantung sampah yang sudah disiapkan, setelah itu ia bergabung bersama Yola dan Mega sambil menikmati camilan.


“Yank, jangan minum soda ya. Air putih saja,” tegur Fajar mengingatkan Mega saat melihat wanita itu memegang kaleng minuman.


“Nggak kok, cuman lihat doang.” Mega nyengir, dan langsung memberikannya pada Yola.


“Hihihi, memang kenapa kalau minum soda. Sakit perut, batuk?” tanya Yola tersenyum geli.


Mega hanya menggeleng, lalu menyentuh lehernya.


“Oh, paham deh.” Yola manggut-manggut tanda mengerti.


“Mas bos kok yo tau aja, sampai soal pantangan bu dokter segala.”


“Ya tau lah Sri, namanya juga sama pasangannya. Semua harus tau,” sela Pras, yang telah selesai memasang tenda bersama Fajar.


“Kalau begitu, mas Pras pasti tau juga dong makanan kesukaan Aku. Kan Aku pacar Kamu, Mas?” tanya Yola tanpa malu-malu.


“Emm, makanan kesukaan Kamu ... Apa ya,” Pras menggaruk tengkuknya sambil meringis. “Apa dong, kita kan baru jadian. Wajar kalau Aku belum tau semua tentang Kamu, Yolyol.”


“Yolyol? Hahaha,” Sri langsung ngakak mendengar nama panggilan Pras pada Yola, sementara Mega tersenyum dikulum mendengarnya.


“Ish, ganti jangan itu. Tuh, diketawain sama yang lain.” Yola pura-pura merajuk.


“Nggak bisa, itu nama spesial dari Aku Yolyol. Imut gemesin kayak Kamu,” jawab Pras yang langsung disambut gelak tawa semua yang ada di sana.


“Ish.” Yola cemberut, tapi detik berikutnya ia tersipu saat melihat Pras mengedipkan matanya.


Bruukk ...


Suwarno datang sambil menenteng kayu bakar di dalam karung, dan menaruhnya di depan tenda.


“Dapat banyak, No.” Fajar memeriksa kayu yang dibawa Warno.


“Ho oh mas bos, nebang pohon orang tadi makanya dapet banyak.” Warno menjawab asal.


“Ish.” Fajar menggelengkan kepala mendengar jawaban Warno.


“Haus mas bos,” ucap Warno lalu duduk di samping Sri dan langsung meraih minuman kaleng di depannya.


“Haus minum, Warno.”


“Lah, itu kan punyaku No.” Sri memukul gemas bahu Warno.


“Sama pacar sendiri saja pelit, coba liat yang lain satu botol berdua. Masa kita dewek yang beda, padahal duluan kita yang pacaran dari pada mereka.” Warno mencebikkan bibirnya, memandang pada dua pasangan di depannya.


“Yo wes lah, sakarepmu Mas.” Sri mangkel, pasalnya dia baru sedikit minum tapi keburu dihabiskan Warno.


“Sudah jangan berantem, masih ada kok.” Yola mengeluarkan minuman dari dalam dus kecil, dan memberikannya pada Sri.


“Terima kasih, mba Yol.”


“Yuk, kita buat api unggun. Yang cewek bagian masak,” ajak Fajar.


Malam itu mereka menghabiskan malam Minggu di pinggir pantai, mengisi liburan akhir pekan yang jarang sekali mereka lakukan bersama.


Saat api unggun menyala dan jagung selesai dibakar, mereka semua duduk melingkar.


Mega menutupi kakinya dengan selimut yang dibawa Yola dari rumah. Warno dan Sri asik bercengkerama berdua, sesekali terdengar celoteh Warno yang menggoda Sri.


Yola duduk bersandar pada bahu Pras, melingkarkan tangannya di lengan Pras sambil terus memandang ke atas pada bintang-bintang di langit.


Fajar mengambil gitar dan mulai memainkannya, sementara matanya terus menatap Mega yang tersenyum padanya.


Betapa bahagianya hatiku saat


Ku duduk berdua denganmu


Berjalan bersamamu


Menarilah denganku


Namun bila hari ini adalah yang terakhir


Tapi kutetap bahagia


Selalu kusyukuri


Begitulah adanya


Dan bila kau ingin sendiri


Cepat cepatlah sampaikan kepadaku


Agar ku tak berharap


Membuat kau bersedih


Bila nanti saatnya t’lah tiba


Kuingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam teriknya hujan


Berlarian kesana-kemari dan tertawa


Namun bila saat nanti senja tiba


Izinkanku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan diujung waktu


Sudikah kau temani diriku


Dan bila kau ingin sendiri


Cepat cepatlah sampaikan kepadaku


Agar ku tak berharap


Dan buat kau bersedih


Bila nanti saatnya t’lah tiba


Kuingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam teriknya hujan


Berlarian kesana-kemari dan tertawa


Namun bila saat berpisah t’lah tiba


Izinkanku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan diujung waktu


Sudilah kau temani diriku


Sudilah kau menjadi temanku


Sudilah kau menjadi istriku


🌹🌹🌹