
“Istirahatlah, rileks kan tubuhmu.” Fajar berbisik, suaranya terdengar bergetar. Tangannya mengetat di pinggang ramping Mega.
Mega menganggukkan kepala. Ia menggeser tubuhnya lebih ke tengah di dada Fajar, tepat di bawah dagunya. Hangatnya kulit tubuh Fajar menyentuh pipi dan keningnya.
Mega membuka matanya, embusan napas Fajar terasa hangat menyentuh keningnya. Wajah lelaki itu begitu dekat, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Jantungnya berdetak lebih kencang saat wajah Fajar semakin mendekat, hingga tak ada jarak tersisa.
“Ada serangga di lehermu,” bisik Fajar, lalu mengibaskan tangannya menyingkirkan binatang kecil itu dari leher Mega hingga jauh terpental.
BLUSHH!
Ish! Pipi Mega merona, ia merutuk pada dirinya sendiri mengira kalau lelaki itu akan menciumnya.
Dengan perasaan canggung Mega bergeser menjauhkan tubuhnya dari Fajar, sehingga lelaki itu melepaskan pelukan di pinggangnya.
“Kenapa menjauh?” tanya Fajar. “Aku pikir Kamu mau beristirahat dan tidur sejenak. Apa bahuku kurang nyaman?”
Mega menggeleng kuat, “Nggak bisa tidur juga, mungkin karena terlalu lelah.” Mega beralasan sambil kembali mengurut kakinya yang pegal.
Beruntung tidak berapa lama ada beberapa orang pekerja perkebunan yang lewat, Fajar lalu berdiri dan menyapa mereka. Sementara Mega memilih untuk meminum kembali teh manisnya.
“Kita makan dulu ya, setelah itu baru lanjutkan perjalanan lagi. Hanya tinggal satu tempat saja yang belum kita kunjungi,” ucap Fajar pada Mega, setelah para pekerja yang tadi mengobrol dengannya berpamitan.
Ia lalu mengeluarkan makanan dari keranjang dan menyusunnya di atas karpet. Mega lebih banyak menghabiskan minuman ketimbang memakan makanan di depannya. Rasa haus lebih dirasakannya ketimbang rasa laparnya.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, hanya berjarak dua ratus meter dari tempat mereka beristirahat tadi. Tempatnya sedikit menanjak dan berada di lereng bukit, beberapa kali Mega meminta untuk beristirahat karena kecapaian.
Rasa lelahnya terbayar saat Fajar membawanya ke perkebunan yang dipenuhi dengan tanaman bawang putih. Daunnya yang mulai tumbuh panjang terlihat berwarna kehijauan.
“Sebentar lagi kira-kira dalam satu minggu ke depan, kami sudah bisa memanen hasilnya.”
Fajar mengambil pisau lipat yang diselipkan di dalam keranjang makanan, lalu memotong sebagian daun bawang dan memberikannya pada Mega.
“Selain umbinya, daunnya juga bisa dimanfaatkan untuk bumbu masakan.”
Mega menatap kagum pada lelaki yang tengah berdiri di hadapannya itu, begitu banyak hal baru yang diketahuinya tentang pekerjaan yang dijalani Fajar. Petani yang sukses menggarap lahannya dan menghasilkan banyak keuntungan.
“Selain tempat ini, apa ada lagi yang tidak Aku ketahui tentang lahan milikmu Mas?” tanya Mega.
“Ada, akan Aku perlihatkan kebun lainnya. Tapi tidak sekarang,” jawab Fajar sambil tersenyum lebar.
“Sepertinya Aku sudah dibuat penasaran bahkan sebelum Aku melihatnya,” balas Mega tersenyum.
“Hari ini cukup sampai di sini dulu, lain waktu Aku pasti ajak Kamu ke tempat lainnya. Siapkan tenagamu karena medannya jauh lebih sulit dari pada di sini,” ucap Fajar kemudian.
“Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba,” jawab Mega.
Waktu sudah menunjukkan jam empat sore, Mega mengajak Fajar untuk pulang. Melewati jalan pintas untuk sampai lebih cepat, Fajar menggenggam tangannya erat membawa Mega melewati jalan setapak yang dipenuhi semak belukar dan rumput ilalang yang panjang.
Entah sudah berapa banyak rumput tajam yang menggores kaki Mega yang terbalut celana panjang dari bahan kain, hingga menyisakan perih di daerah mata kakinya.
“Aduh!”
Mega berteriak saat kakinya tersandung akar pohon yang dilewatinya hingga hampir terjatuh, kalau saja tidak ada tangan kuat Fajar yang menahan tubuhnya.
Dari atas bukit, terlihat mobil Fajar terparkir. Mega mengangguk meski kakinya terasa perih.
Fajar yang melihatnya lalu menghentikan langkahnya, ia kemudian berjongkok di depan Mega.
“Naiklah ke punggungku, Aku tahu Kamu lelah.”
Fajar menekuk sebelah kakinya di atas tanah, dan menaruh keranjang makanan di sampingnya.
“Aku lumayan berat, yang ada Mas nanti kelelahan. Biar Aku jalan saja, masih kuat kok.” Mega menolak tawaran Fajar.
“Naiklah! Jangan menolak,” ucap Fajar mengulang ucapannya.
Sejenak Mega merasa ragu, tapi sedetik kemudian ia sudah berada di punggung Fajar. Berjalan menuruni lereng bukit, tangan Mega melingkar di leher Fajar.
“Kakimu berdarah,” ucap Fajar saat dilihatnya kaki Mega mengeluarkan darah.
“Hanya luka kecil, bukan masalah. Nanti sampai di rumah Aku obati sendiri,” jawab Mega.
“Hem!”
“Tadi kesandung akar pohon nggak sengaja,” jawab Mega lagi.
“Hmm!”
“Oke, Aku obati saat kita sampai di mobil.”
Setelah sampai di bawah dan berada di dekat mobilnya, Fajar menurunkan Mega dengan hati-hati. Ia kemudian membuka pintu mobilnya lalu mencari kotak obat.
Fajar lalu mengambil karpet dan membukanya di atas tanah, lalu menaruh kotak obat di atasnya.
“Duduklah!” perintahnya pada Mega.
Mega menurut, ia mengambil air di dalam botol dan mulai mencuci kedua tangannya.
“Biar Aku sendiri saja yang bersihkan lukanya,” ucapnya kemudian lalu meminta kotak obat dari tangan Fajar.
“Biar Aku yang melakukannya,” jawab Fajar dengan nada suara tak ingin dibantah, menyuruh Mega untuk tetap duduk dan membiarkan dirinya yang mengobati lukanya.
Untuk sesaat lamanya Mega terpaku melihat Fajar yang dengan penuh kelembutan membersihkan luka di kakinya.
“Aku bisa melakukannya dengan baik dan benar. Aku belajar banyak darimu bagaimana cara mengobati luka, seperti yang Kamu lakukan padaku waktu itu.”
“Tapi ini hanya luka kecil, Mas. Tidak bisa disamakan dengan luka yang Mas alami waktu itu,” jawab Mega.
Fajar mengangkat wajahnya, menatap di kedalaman mata Mega. “Aku minta maaf. Lain kali, Aku tidak akan pernah membiarkan hal ini terjadi lagi. Kamu terluka saat bersamaku, tidak akan pernah!”
Untuk ke sekian kalinya Mega hanya mampu terdiam, mata itu menatapnya lekat. Ada penyesalan dan kekhawatiran terlihat jelas di sana.
Ucapan Fajar menyentuh perasaannya. Ada rasa aman dan nyaman menyeruak, menyentuh dinding hatinya saat merasakan perhatian Fajar padanya.
“Terima kasih.” Hanya itu kata yang mampu terucap dari bibir Mega.
Perlahan bibir Mega tersenyum. Memang masih terasa samar, tapi ada yang berdesir dalam hatinya.
🌹🌹🌹