
Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah hidupnya, Mega melihat Fajar, lelaki yang dulu dikenal dingin dan jarang sekali tersenyum itu kini tengah tertawa lebar padanya karena telah berhasil menggoda dan membuatnya kesal.
Mega mendelik marah. Jelas-jelas dia ketakutan, Fajar justru sengaja menggodanya. Tak cukup hanya sekali, Mega kemudian mengambil dua buah salak lagi dan langsung melemparnya kembali ke arah Fajar yang berlari menghindar.
Settt! Fajar memutar tubuh Totok yang menghalang jalannya.
Buggh!
“Aduhh!” terdengar suara orang mengaduh.
“Eh! Maaf mas, salah lempar.” Mega meringis, meminta maaf saat lemparannya mengenai pundak Totok yang tiba-tiba muncul di depannya dengan membawa sepatu bot hitam di tangannya.
Mega menaruh buah salak di tangannya kembali ke dalam keranjang, dan bergegas mendatangi Totok. Dari balik bahunya, ia melihat Fajar tersenyum mengoloknya.
“Nggak apa-apa, mba. Cuman kaget saja tadi kok tiba-tiba ada salak terbang,” celetuk mas Totok sambil mengusap pundaknya, menjawab permintaan maaf Mega padanya.
“Maaf, Mas.” Mega menahan senyum, untung saja bukan tongkat kayu yang terbang.
“Mas bos, ini sepatunya. Moga saja tidak kebesaran di kaki mba nya,” kata Totok memutar tubuhnya menghadap Fajar, dan menyerahkan sepatu di tangannya pada Fajar.
“Ya!” jawab Fajar menaikkan topinya, “Kebesaran dikit tidak masalah,” ucapnya lagi, matanya melirik ke arah Mega yang memandangnya dengan sorot mata penuh tanda tanya.
“Para pekerja sudah siap di tempat, hanya tinggal menunggu perintah mas bos saja.”
“Baiklah! Kita ke sana sekarang,” ucapnya pada Totok. “Ehm, Ega. Kamu bisa pakai sepatu bot ini,” kata Fajar lalu menaruhnya di dekat kaki Mega.
“Sepatu siapa ini? Kenapa Aku harus pakai sepatu ini, buat apa? Biar Aku pakai sepatuku saja,” tolak Mega.
“Sepatu yang Kamu pakai sekarang ini, tidak cocok untuk berjalan di kebun. Coba perhatikan, ujung sepatumu yang runcing itu memudahkan pasir masuk di kakimu dan itu akan menghambat jalanmu.” Fajar berucap serius.
Mega menatap sepatu jalannya yang berujung runcing, lalu beralih pada sepatu bot di dekat kakinya. Tanah yang dipijaknya itu memang mengandung banyak pasir, dan sepengetahuan Mega tanah berpasir seperti itu memang sangat baik untuk tanaman seperti salak.
Mega masih ragu untuk memakainya, apalagi melihat bentuknya. Sudah pasti jalannya akan seperti robot nanti, pikir Mega dalam hati.
“Jangan melihat bentuknya, tapi lihat fungsi dan kegunaannya saat ini. Dengan memakai sepatu bot ini, akan memudahkanmu berjalan di dalam kebun.” Fajar bicara seolah bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Mega saat ini.
“Iya, iya. Aku pakai,” jawab Mega dengan bersungut, lalu melepas sepatunya dan membawanya dalam tangan kemudian menggantinya dengan memakai sepatu bot.
Awalnya terasa susah melangkah, tapi beberapa meter ke depan Mega bisa dengan cepat menyesuaikan langkahnya dan berjalan seperti biasa.
Fajar hanya tersenyum kecil melihatnya, mereka pun berjalan bersama memasuki area kebun hingga bertemu dengan banyak pekerja yang telah siap dengan keranjang rotan di tangannya.
Dari tempatnya berdiri, Mega mengawasi setiap pekerja yang memanen buah. Ia mulai menaruh simpati pada Fajar melihat secara langsung keberhasilan usahanya dalam mengelola kebun salak miliknya dan warga, apalagi saat melihat bagaimana interaksi antara lelaki itu dengan para pekerjanya.
Fajar tidak hanya diam menonton dan main perintah saja, tapi ia turun tangan membantu dan terlihat nyaman berada di dekat para pekerjanya, begitu juga sebaliknya.
Hati Mega penuh suka cita melihat kebun salak yang luas dan buahnya yang besar-besar. Dengan kamera ponselnya, Mega mengabadikan pemandangan menarik di depannya itu.
Fajar dan pekerja lainnya tersenyum lebar memegang gerombol buah salak di tangannya masing-masing dan memamerkan padanya, Mega pun langsung memotret wajah-wajah gembira di depannya itu.
Suasana semakin ramai saat Bayu dan pekerja lainnya datang bergabung. Dalam waktu singkat panen hari itu selesai dengan cepat.
Hingga tak terasa waktu berlalu dengan cepat, langit sore mulai tampak. Mega berjalan beriringan bersama Fajar keluar dari dalam kebun, satu kantong plastik besar salak pondoh berada di tangan Fajar untuk Mega bawa pulang.
“Panen tahun ini, kami sudah mulai mengekspor salak ke luar negeri. Alhamdulillah, hasilnya positif. Pesanan mengalir lancar, berkat kerja keras warga juga doa kita semua. Kita berhasil menghasilkan laba bersih tahun ini menjadi tiga kali lipat dari tahun sebelumnya,” ucap Fajar di sela perjalanan keluar dari kebun.
“Oh, ya. Apa mereka menyukainya?”
“Ya, banyak warga asing yang datang berkunjung dan langsung melihat kebun salak kita. Dan mereka menyukainya,” ucap Fajar dengan nada bangga.
“Melihat panen hari ini, Aku percaya kalau para petani salak yang sukses seperti dirimu ini bisa dengan mudah memberikan beasiswa pada para pemuda desa kita untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi,” ucap Mega salut.
Sepanjang perjalanan pulang, di dalam mobil Mega terus bertanya banyak hal pada Fajar tentang apa saja usahanya selama ini.
Ternyata tidak hanya perkebunan dan tanaman obat saja yang Fajar punya, bahkan bengkel alat motor dan kios yang menjual alat-alat pertanian lengkap di desanya itu pun ternyata milik Fajar juga.
Bahkan ia membeli sebuah ruko dan mengembangkan usaha penjualan alat-alat pertanian di kota, dengan dibantu para pemuda desa yang mendapat beasiswa darinya.
“Pantas saja mereka memanggilmu dengan sebutan mas bos, sesuai dengan apa yang mas miliki saat ini. Pengusaha muda yang sukses, memiliki banyak usaha dan aset perkebunan yang luas.” Mega mengacungkan jempolnya.
“Kamu terlalu memuji,” jawab Fajar tetap fokus dengan jalan di depannya.
“Pasti banyak wanita yang datang dan ingin menjalin hubungan dengan Mas, lalu kenapa sampai sekarang masih sendiri?” tanya Mega penasaran.
Fajar melirik sekilas pada Mega lalu tersenyum samar, “Aku hanya ingin lebih selektif dalam memilih pasangan.”
Mega manggut-manggut, “Apa ada kriteria tertentu untuk menjadi pasanganmu, Mas?”
“Kenapa bertanya seperti itu, apa Kamu berminat mendaftar untuk menjadi pasanganku?” tanya Fajar tiba-tiba.
“Hah!” Mega melongo, detik kemudian ia menggeleng kuat. “Nggak minat!” jawabnya cepat.
“Bercanda, jangan diambil hati ucapanku tadi.” Fajar terkekeh lalu melirik Mega lagi, kali ini ia melihat wajah wanita itu berubah tegang.
Iiieewww, serius aja aku nggak minat, apalagi bercanda. Nggak banget, bisik hati Mega.
Fajar menghela napas dalam, tangannya semakin kuat mencengkeram stir mobilnya.
Bagaimana kamu bisa menjalin hubungan dengan pria lain, sementara nama Bayu masih bercokol kuat di hatimu, bisik hati Fajar.
🌹🌹🌹