
Mega duduk menyandarkan punggungnya pada batang pohon kelapa di belakangnya. Ombak yang bergerak menghantam karang, angin yang berembus menerpa barisan pohon cemara yang berjajar rapi di pinggir pantai menimbulkan suara seperti melodi indah yang membuainya. Perlahan matanya pun terpejam saat kantuk tiba-tiba datang menyerangnya.
“Bangun sayang.”
Mega tidak tahu berapa lama ia tertidur, lamat-lamat ia mendengar suara lirih seseorang terdengar begitu dekat di telinganya.
Mega mengerjap, membuka matanya perlahan. Dilihatnya Fajar berdiri setengah membungkukkan badannya dengan tangan kanan terulur padanya.
Seketika Mega bergerak, menegakkan punggungnya dan berdiri menyambut uluran tangan Fajar.
“Yang lain pada ke mana?”
Mega menolehkan wajahnya, dilihatnya tenda tempat keluarganya berkumpul sudah kosong.
Ia menutup mulutnya rapat-rapat saat sebuah kuap panjang lolos dari bibirnya.
“Ish! Bisa-bisanya Kamu tertidur yank,” ucap Fajar sambil mengacak gemas rambut Mega.
Mega terkekeh, memiringkan kepalanya menghindar dari tangan Fajar yang masih berusaha mengacak rambut panjangnya.
“Anginnya sejuk banget, bikin mata jadi pengen merem. Asli bikin ngantuk,” ucap Mega kemudian sambil merapikan rambutnya, menyisirnya dengan jarinya lalu mengikatnya ekor kuda.
Matanya kembali sibuk memindai sekelilingnya, mencari keberadaan keluarganya. Hari sudah semakin siang, sinar matahari bersinar cukup terik.
Diliriknya jam mungil di pergelangan tangan kanannya itu, sudah lewat jam dua siang. Diusapnya perutnya yang mulai terasa lapar, sepertinya ia melewatkan makan siangnya tadi.
Teringat saat mama memanggilnya untuk makan siang bersama, tapi Mega menolaknya halus dengan alasan masih berbincang dengan Yola.
“Pada ngilang kemana sih orang-orang? Kenapa juga nggak bangunin Aku dari tadi, ketinggalan ‘kan jadinya.” Mega merengut sebal.
“Itu mereka di sana. Lagi jalan-jalan di pinggir pantai,” ucap Fajar menunjuk ke arah sebelah kanan pantai.
“Oh!” Mega menajamkan penglihatannya saat matanya menangkap bayangan Pras berjalan bersisian dengan ayahnya.
“Itu bukannya mas Pras ya, yang lagi jalan bareng sama ayah. Kapan datangnya itu orang?” tanya Mega sambil memicingkan matanya.
“Tadi kebetulan dia lagi mancing di dekat pantai sebelah sana, terus jalan lihat kita ada di sini.” Fajar menjawab dengan nada datar sambil melipat tangan di dada. Kenapa?”
“Oh! Ya nggak kenapa-kenapa , sih. Kebetulan banget pas lagi jalan pas ketemu kita di sini,” ucap Mega sambil tersenyum menatap ke arah Fajar. “Kita gabung ke sana yuk Mas,” imbuh Mega lagi sambil menarik lengan Fajar.
“Eits! Mau gabung ke sana mana?” tanya Fajar, kedua tangannya bergerak menahan pundak Mega agar diam tidak melangkah pergi dan tetap bersamanya.
“Ituu ke sana, gabung sama mama.”
“Nanti saja, temani Aku makan dulu. Lagi pula Kamu juga pasti belum makan ‘kan,” ucap Fajar lalu merangkulkan lengannya di bahu Mega, berjalan bersama menuju tendanya.
“Tapi abis itu kita ke sana ya,” ucap Mega di sela langkahnya.
“Hemm.”
“Yang lain sudah pada makan ya Mas,” tanya Mega sembari mengeluarkan makanan dari kotaknya dan menyajikannya di atas meja.
“Sudah, Aku sengaja nunggu Kamu tadi biar makan sama-sama dengan yang lain. Malah ketiduran,” ucap Fajar sambil menyendok nasi ke dalam piring.
Mega hanya tersenyum menanggapinya, mereka makan dengan tenang hingga selesai. Mega kemudian membereskan peralatan makan dan duduk sejenak untuk beristirahat.
“Pantainya bersih, terawat. Pengunjung yang datang juga lumayan banyak. Kalau pengelola pantai bisa melihat peluang usaha dengan baik, tempat ini bisa menghasilkan banyak keuntungan.”
Fajar menunjuk beberapa orang yang duduk menunggu di balik meja sambil menawarkan barangnya kepada para pengunjung pantai yang datang.
“Iya sih, itu coba sepeda geletakan di pinggir jalan habis pakai. Harusnya dikembalikan sama pemiliknya,” balas Mega mengikuti arah tangan Fajar.
“Mereka nggak punya tempat buat menampung barang-barangnya, sepeda itu disewakan perjam dengan tarif yang lumayan tergantung jenis sepedanya. Tapi coba lihat yank, setelah pemilik sepeda selesai menyewakan dan hendak pulang, sepeda-sepeda itu ditaruh di tempat terbuka cuman diikat sama tali seadanya. Kehujanan, kepanasan juga, sudah pasti barang jadi cepat rusak. Nggak terawat, berkarat, lama-lama pengunjung nggak ada yang mau pakai dan sewa lagi.”
“Harusnya ada tempat untuk membantu mereka, itu juga ibu-ibu yang berjualan minuman hanya pakai meja seadanya. Untung saja masih pakai payung tenda. Kira-kira ada yang beli nggak sih dagangannya,” tanya Mega sambil terus memperhatikan sekelilingnya.
“Pengelola pantai harusnya bisa bangun beberapa kios sederhana saja, untuk mereka menaruh barang di sana. Yah, masalah sewa bisa dibicarakan kemudian. Coba lihat Yank, mereka harus bolak-balik berjalan sambil memanggul ban di bahunya dan menawarkannya pada para pengunjung yang hendak berenang. Mau sewa apa nggak. Sudah begitu harus terus berpanas-panasan di sana,” ucap Fajar saat melihat seorang lelaki pemilik ban di pinggir pantai sedang menawarkan barang.
“Teruss, Mas tertarik mau bantu mereka bangun kios di sini?”
Fajar mengangguk cepat, “Iya, nanti Aku bicara sama pengelola pantai ini.”
Lalu hening sesaat, Mega memutar tubuhnya dan terus memperhatikan sekelilingnya sementara Fajar meminta waktu sebentar untuk menerima telpon yang masuk dari ponselnya.
Beberapa saat kemudian.
“Mas bos!” teriak Warno sambil berlari ke arah mereka berdua, pakaian yang dikenakannya basah semua.
“Ya! Ada apa, No.”
“Bu dokter,” sapa Warno sambil tersenyum pada Mega sebelum memulai bicaranya.
“Ish mas Warno, ngapain coba pakai ajak ayah segala. Yah pasti nolak lah,” sela Mega melirik sebal pada Warno.
Fajar terkekeh mendengarnya, Warno memang suka asal ceplos kalau bicara sama orang.
“Aku nggak bawa baju ganti, No. Bisa basah semua pulang nanti, kalau ikutan naik permainan yang satu itu.”
“Wah, mas bos nggak asik. Beli saja nanti di toko depan gapura pantai ini, ada yang jualan baju sama perlengkapan renang lainnya di sana. Lengkap mas bos.”
“Ayo, ikutan Mas. Aku juga pengen naik banana boat, seru pasti.” Mega antusias.
“Memangnya ada dimana permainan itu, No. Aku nggak lihat dari tadi,” tanya Fajar sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.
“Gimana mau lihat kalau mas bos dari tadi duduk di sini saja. Di sana loh, di ujung kanan pesisir pantai ini.” Warno mulai tak sabar.
“Ya sudah kalau begitu. Ayo mas Warno, kita berdua saja kalau memang mas bosmu nggak mau ikutan.” Mega lalu bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan Fajar di belakangnya, padahal ia berharap Fajar mau ikut bersamanya.
Mega menarik lengan Warno, sambil terus bertanya padanya di sela langkah kakinya berjalan menuju tempat yang dituju.
Sementara Fajar tidak tinggal diam, ia mengikuti mereka berdua dari belakang sambil terus memasang telinganya dengan baik.
“Memang siapa saja yang mau ikutan naik banana boat mas Warno?”
“Mba Yola, mas Rendra, mas Pras, Saya sendiri,” ucap Warno menyebut nama satu persatu.
“Mas Pras ikutan juga?” ucap Mega sengaja berbicara sedikit keras agar didengar Fajar, ia tahu benar lelaki itu tidak suka ada yang dekat-dekat dengannya. Apalagi Pras memang menyukai Mega.
“Sri kenapa nggak ikutan?”
“Nggak, takut katanya. Soalnya nggak bisa berenang,” jawab Warno sambil terkekeh geli. “Padahal Saya juga nggak bisa berenang.”
Fajar yang mendengar Mega menyebut nama Pras langsung menghadang langkah mereka di depan.
“Aku ikut!” ucapnya tegas dengan mata melirik tajam pada Mega.
“Yess!” Warno berteriak sambil mengepalkan tangan ke udara, lalu berlari meninggalkan keduanya. Mega tersenyum senang sambil terus melangkah melewati Fajar.
Saat lengan keduanya bersentuhan, Fajar langsung meraih tangan Mega dan menautkan jemarinya.
“Tunggu Aku!” ucap Fajar menatap lekat mata Mega.
“Iya.”
Mega tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sepanjang jalan Fajar terus saja menggenggam jemari Mega, dan Mega membiarkannya.
Tentu saja hal itu membuat kecewa Pras yang melihatnya, namun ia berusaha bersikap biasa. Ia tidak menyadari ada sepasang mata sayu yang sedari tadi terus memperhatikannya.
Saat bersiap menaiki banana boat setelah sebelumnya masing-masing orang memakai pelampung di tubuh mereka, Fajar menyuruh Warno untuk duduk di depan, persis di belakang pengemudi banana boat.
Sementara ia sendiri berada di belakang Mega yang duduk di belakang Warno.
Aaaaarrgghhh!
Suara teriakan mereka terdengar nyaring saat speed boat yang menarik banana boat melesat cepat dan terus berputar mengitari pantai.
Hanya kegembiraan yang terlihat di wajah mereka, setelah melewati keseruan permainan di pantai itu.
“Kamu suka?” tanya Mega yang langsung berlari memeluk Yola.
“Suka banget,” sahutnya dengan mata berbinar.
Mega lalu menarik tangan Yola, mengajaknya berlari kecil menyusuri tepi pantai.
“Mas Inug, Aku jalan sama Yola ya.” Pamitnya pada Fajar lalu mengangguk ramah pada Pras.
“Ya, hati-hati.”
Fajar lalu berjalan mendekati Rendra dan Pras, mereka memilih duduk di atas batang pohon yang ada di dekat situ. Ia mulai bercerita tentang rencananya membantu membuat kios sederhana di pantai itu, tentunya setelah melalui persetujuan pengelola pantai. Sementara Warno memilih untuk tetap bermain di pantai.
Hamparan pasir putih, ombak pantai yang datang menerpa kaki mereka, tidak sedikit pun membuat mereka beranjak dari sana.
Rendra tersenyum lega melihat adiknya Yola akhirnya bisa tertawa lepas lagi, persahabatannya dengan Mega membuat Yola bisa kembali ceria.
Andai saja Mega masih sendiri, mungkin ia pun akan mencoba mendekatinya. Sejak awal bertemu ia sudah menyimpan rasa kagumnya di hati.
Rendra tersenyum samar saat dilihatnya pandangan mata Fajar tak pernah lepas mengawasi Mega.
“Huffh! Semoga saja ada bidadari lain yang datang setelah hari ini,” bisiknya berharap dalam hati.
🌹🌹🌹