
Cuaca malam hari itu sangat cerah, bintang bertebaran di langit. Bulan tampak indah, sinarnya memenuhi halaman rumah Mega yang tengah dipenuhi dengan anak-anak muda teman Rizky dan Mega.
Sore sepulangnya mereka semua dari pantai, Mega berinisiatif untuk mengadakan pesta kebun sebelum kepulangan bunda Rini keesokan harinya. Dan Yola serta Sri langsung menyetujuinya dan berjanji akan membantu Mega menyelesaikan pekerjaannya.
“Kamu nggak capek, yank. Masak banyak loh itu, dan perlu waktu juga ‘kan. Sekarang saja sudah hampir jam empat sore,” tanya Fajar setibanya mereka di rumah Mega, sembari menurunkan barang belanjaan yang mereka beli dari pasar tadi.
“Aku ‘kan ngerjainnya nggak sendirian, ada Yola, Sri, juga yang bantuin. Cuman masak nasi sama buat lalapan sayuran, sisanya kalian para lelaki yang bakar ayam sama ikannya. Gimana, mau kan?” ucap Mega sembari menyambut plastik barang terakhir dari tangan Fajar, dan menaruhnya di samping pintu dapur rumahnya.
“Kalau gitu Aku pulang ke rumah dulu. Abis magrib langsung kemari lagi bareng Warno sama Rendra,” ucap Fajar kemudian, namun belum juga beranjak pergi dari hadapan Mega.
“Ya udah, Mas pulang dulu sana. Biar Sri sama Yola tetap di sini aja. Kalau mau ganti pakaian, biar pakai baju aku dulu aja.”
“Sekarang mereka berdua dimana?” tanya Fajar lagi, sambil melihat ke arah dalam rumah mencari sosok dua wanita yang disebutkan namanya oleh Mega barusan.
“Ada di dalam, lagi beres-beres barang dari pantai tadi.”
Fajar mengusap rambut Mega sebentar sebelum berbalik pergi. “Aku pulang dulu ya.”
“Iya, hati-hati.” Mega tersenyum mengantar Fajar hingga masuk ke dalam mobilnya dan berlalu meninggalkan halaman rumahnya.
Setelah membersihkan diri, Mega memulai pekerjaannya di dapur bersama Yola dan Sri. Bunda Rini dan mama yang berniat membantu mereka di dapur harus puas dengan hanya melihat saja, karena Mega melarang mereka membantunya kali ini.
Sebelum magrib, sayur dan nasi sudah matang. Hanya tinggal membuat sambal saja, dan Sri yang sudah siap mengolahnya.
Cuaca malam hari itu sangat cerah, bintang bertebaran di langit. Bulan tampak indah, sinarnya memenuhi halaman rumah Mega yang kini dipenuhi dengan anak-anak muda.
Ada dua alat panggangan di depan mereka, salah satunya belum menyala. Fajar dan Rizky mulai menyalakan bara api, sementara yang lainnya sibuk membakar ikan dan ayam di panggangan satunya yang sudah menyala sejak tadi.
“Terima kasih, ya sayang. Bunda senang banget bisa berkumpul dengan kalian semua di sini,” ucap bunda Rini tersenyum haru melihat usaha Mega dan yang lainnya untuk menyenangkan hatinya.
“Sama-sama Bunda,” ucap Mega sambil memeluk lengan bundanya.
Di atas meja panjang kini sudah tersedia makanan lengkap, dan buah serta minuman sebagai pelengkapnya. Sebagai tuan rumah, Mega dengan telaten membantu siapa saja untuk mengambilkan makanan ke dalam piring mereka.
Suasana semakin semarak saat Rizky keluar dari dalam rumah dengan gitar di tangannya.
Sambil menyantap makan malam, Rizky bermain gitar dan bernyanyi untuk mereka semua.
“Kamu nggak makan, yank?” tanya Fajar saat Mega datang dan duduk di sebelahnya.
“Sudah tadi bareng yang lain di dalam,” sahut Mega tanpa menoleh pada Fajar, matanya terus asik memperhatikan Rizky memetik gitar dan bernyanyi.
Sesekali bibirnya ikut berdendang menirukan lagu yang dinyanyikan Rizky, sambil menggerakkan kepala dan tangannya mengikuti irama Lagu.
Fajar menoleh, tersenyum gemas melihatnya. Tangannya meraih ponsel dari dalam saku bajunya, lalu mengetikkan tulisan di atasnya.
“Yank, Kamu tau lagu ini ‘kan?”
Mega menolehkan wajahnya, lalu beralih melihat layar ponsel Fajar.
“Tau, memang kenapa dengan lagu itu?” tanya Mega sambil menyentuhkan jarinya, menggeser turun tulisan yang tertera di sana.
“Bisa nyanyiinnya, nggak?”
“Bisa! Lalaalalaa gitu kan lagunya,” ucap Mega sambil menyanyikan lirik lagu yang diminta Fajar.
“Siip deh kalau begitu,” ucap Fajar lalu meraih tangan Mega dan membawanya berdiri, lalu berjalan mendekati Rizky.
“Ish! Kalau bisa terus kenapa?”
Fajar membisikkan sesuatu di telinga Rizky dengan tangan masih menggenggam jemari Mega.
Mega menautkan alisnya, matanya menatap Rizky dengan sorot tanya yang terlihat jelas. Sementara kakak lelakinya itu hanya tersenyum lebar lalu menyerahkan gitar di tangannya pada Fajar dan mikrofon padanya.
Fajar kemudian menarik salah satu bangku kosong di dekatnya untuk Mega, dan menyuruh gadis itu untuk duduk.
“Mau ngapain sih?!” tanya Mega dengan suara mendesis.
“Mau nyanyi lah bareng Kamu,” balas Fajar. “D u e t!”
“Ish, bicara aja suara Aku fales. Ini malah diajak nyanyi,” protes Mega lalu duduk menghadap ke depan.
“Ayo bu dokter, nyanyi dong!” suara nyaring Warno mulai terdengar.
“Maaf ya teman-teman, kalau Aku nyanyi yang ada nanti kalian semua pada sakit telinganya. Masa mau dengar suara sumbang Aku?”
“Ayo mba, nyanyi.” Yola ikut bersuara. “Kalau mau dengar suara bagus atau merdu tinggal putar lagunya Adele, beres. Kita maunya dengar suara mba Mega,” imbuhnya lagi.
Mega menoleh pada Fajar yang duduk di sampingnya, tersenyum dan menganggukkan kepala padanya.
“Baiklah, lagu yang tadi ya.”
Wuittt wiittt!
Cieee duet ni yee!
Terdengar siulan panjang, Mega menoleh dan langsung tersenyum malu saat matanya menangkap sosok mama dan bundanya yang ikutan berdiri memberi semangat padanya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara Fajar dan Mega berduet menyanyikan salah satu lagu yang pernah dibawakan Andien dan Pasya Ungu.
Suara lembut dan manja Mega membuat Fajar tak berkedip saat menatapnya, mereka berdua bernyanyi dan terus saling menatap satu sama lain.
Saat bahagiaku
Duduk berdua denganmu
Mungkin aku terlanjur
Tak sanggup jauh dari dirimu
Kuingin engkau s'lalu
'Tuk jadi milikku
Kuingin engkau mampu
Kuingin engkau selalu bisa
Temani diriku
Sampai akhir hayatmu
Meskipun itu hanya terucap
Dari mulutmu
Dari dirimu yang terlanjur mampu
Bahagiakan aku
Hingga ujung waktuku
Selalu
Seribu jalan pun kunanti
Bila berdua dengan dirimu
Melangkah bersamamu
Kuyakin tak ada satu pun
Yang mampu merubah rasaku untukmu
Kuingin engkau s'lalu
'Tuk jadi milikku
Kuingin engkau mampu
Kuingin engkau selalu bisa
Temani diriku
Sampai akhir hayatmu
Meskipun itu hanya terucap
Dari mulutmu
Dari dirimu yang terlanjur mampu
Bahagiakan aku
Hingga ujung waktuku
Selalu
Mungkin aku terlanjur
Tak sanggup jauh dari dirimu
Kuingin engkau s'lalu
'Tuk jadi milikku
Kuingin engkau mampu
Kuingin engkau selalu bisa
Temani diriku
Sampai akhir hayatmu
Meskipun itu hanya terucap
Dari mulutmu
Dari dirimu yang terlanjur mampu
Bahagiakan aku
Hingga ujung waktuku
Selalu
🌹🌹🌹