
Mega terbangun di tengah malam dengan tubuh meringkuk di atas ranjang. Angin dingin yang berembus masuk dari jendela kamarnya yang terbuka, terasa menusuk kulit kakinya.
Ia memicingkan matanya, melihat ke arah jarum jam dinding yang menunjuk angka satu. Dengan malas, ia bangun dan menyeret langkah kakinya menutup jendela kamarnya.
Wajahnya menengadah, bulan bersinar terang menyinari bumi. Sejenak Mega terdiam mengagumi keindahan langit malam.
Tinggg tiinggg ...
Bunyi tiang listrik disusul suara kentongan yang dipukul secara bergantian menandakan dimulainya jam ronda malam di desanya.
Mega menutup jendela kamarnya dan kembali membaringkan diri di atas tempat tidurnya. Waktu berlalu begitu cepat, detik berganti menit, menit berganti jam tapi matanya sulit untuk terpejam.
Di luar rumah para peronda malam berkeliling mengitari rumah warga menjaga keamanan desanya, sementara di dalam kamarnya mata Mega terus terbuka berputar melihat langit-langit kamarnya. Hingga pagi menjelang barulah Mega bisa tertidur kembali, dan akibatnya ia bangun kesiangan.
Bergegas Mega bangun dan langsung membersihkan diri, menunaikan kewajibannya yang tertunda. Kurang tidur membuat tubuhnya terasa kurang nyaman.
Mumpung hari libur kerja, Mega memilih untuk menyegarkan dirinya dengan berolahraga, lari pagi keliling desanya.
Ternyata di teras rumah ada ayah yang sudah bersiap melakukan olah raga pagi seperti dirinya.
“Ayo Yah, kita lari bareng.” Mega merangkul lengan ayahnya berjalan beriringan.
“Mau lari pagi atau jalan, nih. Kamunya ngelendot gitu,” ucap ayah, menghentikan langkahnya sejenak menatap wajah anak gadisnya.
“Lari lah, kan baru mulai.”
Mega melepas rangkulannya dan tersenyum balas menatap ayahnya.
“Kemon lah,” sahut ayah yang langsung disambut tawa Mega.
Dan seperti kebanyakan orang tua lainnya, setiap bertemu dan berpapasan dengan teman atau tetangga di jalan mereka akan berhenti dan mengobrol lama.
Entah itu membahas soal kegiatan sehari-hari, saling bertanya tentang keluarga anak dan istri masing-masing, sampai pada persoalan yang terjadi di desa mereka. Semua dibahas dalam satu waktu, hingga pagi yang seharusnya diisi dengan kegiatan olah raga pagi berakhir dengan obrolan pagi.
Mega lebih banyak diam sesekali tersenyum menimpali ucapan ayahnya.
“Kalau ada waktu, main-main ke rumah kami nak Mega. Kebetulan ada Wulan, anak kami yang baru saja datang setelah menyelesaikan studinya di kota besar.” Ucap bu Iskandar dengan rasa bangga yang terdengar jelas.
Ya, orang tua mana yang tidak berbangga hati melihat anaknya bisa menyelesaikan sekolahnya dan meraih gelar sarjana, walau mereka berasal dari desa.
“Iya, Bu. Kapan-kapan Saya mampir,” sahut Mega tersenyum ramah, sembari menjawil pinggang ayahnya untuk segera melanjutkan perjalanan mereka.
“Ya sudah, kami lanjut dulu.” Pamit mereka berdua.
Ketika bertemu kembali dengan tetangganya yang lain, mereka kembali berhenti dan saling menyapa. Kali ini Mega dengan cepat menarik lengan ayahnya dan langsung membawanya pergi setelah terlebih dahulu bersalaman.
“Kamu ini, ya. Namanya juga kenalan, paling tidak saling menyapa sebentar. Biar tali silaturahmi kita tetap terjaga dengan warga lainnya,” ucap ayah sambil menepuk tangan Mega yang melingkar di lengannya.
“Paham, Ayah. Tapi nggak harus tiap orang yang papasan sama kita, diajak ngobrol semua. Kapan olahraganya,” sahut Mega.
“Kamu ya,” balas ayah sambil mengacak rambut Mega.
Mereka melanjutkan lari paginya. Begitu sampai di ujung gang dekat rumahnya, baju Mega basah kuyup dan rambut panjangnya berantakan.
Melihat penampilan anaknya seperti itu, ayah tertawa lebar.
“Masih muda masa kalah sama Ayah,” ucap ayah melihat Mega yang mengatur napasnya. “Usiamu hampir separuh dari usia Ayah, tapi soal kekuatan tubuh Ayah lebih baik dari Kamu yang masih muda itu.”
Mega hanya meringis mendengar ucapan ayahnya, dan membiarkan ayah melanjutkan lari paginya sementara dirinya langsung pulang ke rumah.
Baru saja Mega berbelok memasuki gang rumahnya, dilihatnya mobil Fajar sudah terparkir manis di depan pagar.
Senyum mengembang di bibir Mega, secepat kilat ia melesat memasuki halaman rumahnya.
Di teras rumah terlihat dua orang yang sedang bercengkerama sambil tertawa cekikikan ditemani makanan ringan dan minuman hangat yang sudah tersedia di atas meja.
“Mas Warno, Sri.”
“Bu dokter,” jawab mereka secara bersamaan.
“Kalian berdua ... tumben kemari pagi-pagi. Terus pakai mobil juga?” Mega menunjuk ke arah mobil di depan.
“Oh, begini bu dokter. Saya akan menjelaskan maksud kedatangan kami berdua pagi ini. Ekhem, tes 123.” Warno berdeham sebelum melanjutkan bicaranya.
“Kami berdua diperintahkan bos kami untuk menjemput bu dokter pagi ini. Sementara beliau berhalangan karena ada urusan yang harus diselesaikan terlebih dahulu,” jawab Warno diplomatis, di sampingnya Sri terus terkekeh mendengar gaya bicara Warno.
“Menjemput Saya?” Mega mengernyitkan dahi. “Memang kita mau pergi ke mana?” tanya Mega lagi.
“Ke mana tadi kata mas bos, Sri. Aku kok lali yo,” tanya Warno pada Sri sambil mengetuk dahinya, berusaha mengingat perintah Fajar padanya.
“Ish, mesti lalian wong iki.” Sri bersungut sambil menepuk keras bahu Warno. “Pantai jare mas bos, inget po ra!”
“Hillihh, dadi wong kok lalian teros. Yo inget, lah wong barusan Aku seng ngomong.”
Mega tersenyum di kulum melihat kedua orang di depannya. “Ya sudah, tunggu barang satu jam. Saya baru saja selesai olahraga, masih keringatan.”
“Siap, bu dokter.”
“Saya pamit ke dalam dulu, silah kan dicicipi makanannya.” Mega berpamitan, masuk ke dalam rumah mengganti pakaiannya yang basah sambil menunggu suhu tubuhnya normal kembali sebelum membersihkan diri.
Satu jam kemudian Mega telah siap dengan dirinya, mereka pun bergegas pergi setelah sebelumnya berpamitan dengan orang tua Mega di rumah. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di tempat yang dituju.
“Pagi gini air pantai masih anget, bu dokter. Enak buat berendam,” ucap Sri ketika mereka sudah berjalan-jalan di tepi pantai.
“Iya,” jawab Mega singkat. “Kita di sini dulu aja ya, Sri. Nanti aja kalau mau ke sana.”
Seperti ada yang kurang tanpa kehadiran Fajar saat seperti sekarang ini. Mega terus menengok ke arah luar, menunggu kedatangan Fajar.
“Setelah urusannya selesai, mas bos bilang mau langsung menyusul kita ke sini. Paling sebentar lagi datang,” ucap Sri seolah tahu apa yang dipikirkan Mega.
“Kamu tau aja sih, Sri. Aku mikir apa.” Mega tersipu malu.
“Ya tau lah, dari tadi bu dokter lihat ke sana terus.” Sri mengarahkan dagunya ke arah pintu masuk lokasi pantai.
“Huaaa, main air lagi.”
Warno tiba-tiba saja melewati mereka berdua dan langsung berlari ke pantai sambil melepas bajunya dan melemparnya sembarangan.
“Astaga!” teriak Sri gusar melihat baju Warno jatuh tepat di dekat kakinya.
“Nggak jelas banget ki bocah! Yang nyuruh berenang siapa, biar kapok kedinginan nggak bawa baju ganti. Biar basah sekalian,” ujar Sri sambil memungut baju Warno dan menaruhnya di atas bangku panjang yang ada di bawah pohon kelapa.
“Perhatian juga Kamu, Sri.” Mega terkekeh melihat Sri menyimpan baju Warno meski terus menggerutu.
“Bukan apa-apa bu dokter. Kita ke sini niatnya cuma buat anter bu dokter, nggak pake acara berenang segala. Lah dia, langsung main nyemplung aja!” sewot Sri.
Mega tak dapat menahan tawanya, apalagi saat dilihatnya Warno keluar dari dalam air dan langsung berlari menarik tangan Sri untuk ikut dengannya.
Terdengar teriakan protes Sri, tapi tak lama kemudian keduanya malah asik main simbur-simburan di dalam air dan tertawa bersama lupa dengan semua ucapannya pada Mega barusan.
Mega terus tersenyum memperhatikan keduanya bermain di dalam air, ia memilih berdiri di tempat yang teduh dan menyadari kehadiran Fajar yang berjalan di belakangnya.
Mega langsung menengadahkan kepalanya saat menyadari sepasang tangan kokoh memeluk tubuhnya dari belakang.
“Mas,” ucapnya perlahan.
“Hmm.”
Fajar hanya bergumam, dan terus memeluk erat Mega.
“Sudah selesai urusannya?” tanya Mega sambil memiringkan kepalanya ketika merasakan napas hangat Fajar di lekuk lehernya.
“Hmm,” jawab Fajar lagi.
“Apa sih, dari tadi ham hem terus!”
Fajar tertawa, mencium pipi Mega dengan cepat lalu melepaskan pelukannya dan berlari ke arah pantai bergabung bersama Warno dan Sri.
“Yank! Ayo sini,” panggil Fajar sambil mengusap wajahnya yang terkena cipratan air.
Mega berlari kecil dan langsung mendapat siraman air dari Sri, membuat baju yang dikenakannya basah.
“Eh, basah Sri.” Mega menyipitkan matanya saat air pantai mengenai wajahnya.
“Nggak masalah basah juga, namanya juga main di pantai.” Fajar menyambut tangan Mega dan membawanya berjalan di tepi pantai menghindar dari siraman Warno dan Sri.
“Ish, mereka malah asik main air. Kita tinggalin yuk,” ajak Fajar sambil menarik tangan Mega berjalan menjauh.
Mega berlari kecil mengikuti langkah kaki Fajar, tangan keduanya saling bertautan. Di bawah pohon kelapa keduanya berhenti.
“Apa yang ingin Kamu lakukan saat berkencan dengan kekasihmu,” tanya Fajar sambil menghela rambut yang menutupi wajah Mega.
Mega menatap dalam wajah Fajar, “Apa saja, asal berdua dengannya.”
🌹🌹🌹
Happy reading all, makasih buat dukungannya. Mampir baca karya baruku juga ya, lopeyu ❤❤❤