
Hari menjelang senja ketika Mega sampai di halaman rumahnya. Matahari belum sepenuhnya tenggelam meskipun suasana di sekitar rumahnya saat ini sudah mulai meredup.
Mega turun dari mobil sambil tak lupa mengucapkan terima kasih pada Fajar yang sudah mengantar dirinya pulang.
“Biar Aku saja yang bawa kopermu,” cegah Fajar saat Mega hendak mengeluarkan koper miliknya dari dalam bagasi mobil Fajar.
“Nggak usah, Mas. Aku bisa kok,” tolak Mega, lalu menarik keluar kopernya.
“Eits!” dengan gerakan cepat, Fajar mengambil alih koper dari tangan Mega. Menaruhnya di halaman rumah, kemudian dengan cekatan mengeluarkan dus dan barang-barang lainnya dari dalam bagasi mobilnya.
“Banyak juga barang bawaanmu,” ucap Fajar setelah menutup pintu mobilnya. “Apa Kamu tidak berniat balik ke kota lagi?”
Mega menggeleng, “Aku sudah memutuskan untuk tinggal dan menetap di sini. Sebagian barang yang ada di koper besar itu isinya peralatan medis dan obat-obatan yang sengaja aku bawa dari kota,” jelas Mega pada Fajar yang berdiri dengan kedua tangan di pinggang.
“Koper yang ini!” tunjuk Fajar pada salah satu koper besar warna coklat.
“Iya,” sahut Mega.
“Kalau begitu Kamu bantu bawa yang ringan saja,” perintahnya pada Mega.
“Jadi nggak enak, Aku kok malah jadi ngerepotin Mas gini.” Mega berucap lirih.
“Tidak masalah buatku. Toh, tidak setiap hari juga Aku bantu Kamu seperti ini.” Fajar tersenyum samar.
“Ya, memang tidak setiap hari sih Mas. Tapi tetap saja bikin aku jadi tidak enak sama Mas, sekalinya bikin repot nggak tanggung-tanggung. Koper besar, berat pula isinya.”
“Kan tidak harus diangkat, Ga. Cukup didorong saja,” ucap Fajar lalu mulai memindahkan barang milik Mega ke dalam teras rumahnya.
Tiba-tiba lampu teras rumah menyala terang, mama muncul dari dalam rumah dengan membawa nampan berisi minuman hangat dan sepiring goreng pisang dan ubi.
“Kebetulan sekali ada nak Fajar di sini. Ayo, silahkan dicicipi makanannya. Mumpung masih hangat,” ucap Mama sambil meletakkan nampan di atas meja.
“Terima kasih sudah mengantar Mega pulang,” ucap mama lagi sambil menepuk bahu Fajar. “Maaf, sudah merepotkan.”
“Tidak merepotkan sama sekali kok Bu, justru Saya senang melakukannya.” Fajar tersenyum penuh arti sambil melirik ke arah Mega yang melengoskan wajahnya saat mendengar ucapannya.
“Eyy, nggak jelas. Repot kok malah senang,” rutuk Mega dalam hati.
Mama hanya tertawa mendengarnya, “Mas Inug bercanda itu, Ma. Mana ada orang dibuat repot malah senang,” ucap Mega.
“Jadi ternyata nama Inug itu panggilan spesial Mega untuk nak Fajar toh,” kata mama lalu tersenyum lebar, melihat pada Mega yang menjadi malu dan salah tingkah.
“Iya, Bu. Panggilan spesial, hanya Mega yang memanggil Saya dengan nama itu.” Fajar seperti mendapat dukungan, semakin melebarkan senyumnya.
“Ish! Bukan seperti itu kok, Ma. Mas Inug bercanda itu,” ucapnya lagi, dan langsung menutup mulut dengan tangannya saat menyadari ia kembali menyebut nama Fajar dengan panggilan Inug.
Mama tertawa mendengarnya, dan wajah Mega makin merona menahan malu. Bisa-bisanya lelaki itu bercanda seperti itu pada mamanya.
“Ya sudah, Ibu tinggal dulu ke dalam. Jangan lupa diminum wedang jahenya,” kata mama hendak masuk ke dalam rumah kembali.
“Kalau begitu Saya juga mau langsung pamit pulang. Sudah hampir magrib,” ucap Fajar berpamitan.
“Kalau begitu diminum dulu wedang jahenya,” kata mama kembali menyuruh Fajar.
“Terima kasih untuk bantuan Mas hari ini,” ucap Mega tulus.
Fajar menganggukkan kepalanya, lalu menyalakan mesin mobilnya. Sejenak ia terdiam, lalu menoleh lagi pada Mega.
“Ega,” panggilnya sebelum ia pergi meninggalkan halaman rumah Mega.
“Ya, Mas Inug.” Mega menundukkan sedikit wajahnya, membalas tatapan Fajar padanya.
“Aku tidak sedang bercanda tadi, Aku senang bisa membantumu hari ini. Aku juga senang mendengarmu memanggil namaku dengan panggilan seperti itu,” ucapnya menatap lekat wajah Mega.
DEG!
“Su-sudah sore. Pulang sana, gih.” Mega berusaha bersikap biasa, meski jantungnya berdebar keras mendengar ucapan Fajar barusan.
“Aku pulang dulu,” pamit Fajar lalu meninggalkan halaman rumah Mega.
Mega masih berdiri bengong di depan teras rumahnya, sampai suara mama terdengar memanggil namanya.
“Mega, Ayo masuk sayang.”
“Iya, Ma.”
“Ada apa, kok bengong?”
Mega tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Nggak ada apa-apa, Ma.”
Mega menggamit lengan mamanya, melangkah bersama memasuki rumah.
“Nak Fajar lelaki yang baik, Mama senang melihatnya. Pekerja keras, tanggung jawab dan sangat menyayangi keluarganya. Di usianya yang masih terbilang muda, dia sudah mampu berbuat banyak untuk warga desa kita ini. Terutama untuk anak-anak muda desa ini,” ucap Mama panjang lebar, sambil terus mengusap lembut rambut Mega.
“Ma, kami hanya berteman biasa. Tidak lebih,” ucap Mega seperti mengerti arah pembicaraan mamanya.
“Lupakan laki-laki itu, dia hanya masa lalu buatmu sayang.”
“Ma.”
“Mama hanya mengingatkan, sudah saatnya Kamu menata hati. Memikirkan untuk memulai hubungan yang baru dengan lelaki lain. Lupakan Bayu, dia bukan jodoh yang tepat untukmu.” Mama menatap lekat mata Mega, tersenyum menyentuh sudut mata yang mulai berair itu.
“Mamaaa,” Mega memeluk erat mama.
Saat ini pun Mega sudah melupakan nama Bayu dari hatinya, tapi untuk mengukir nama baru di hatinya bukanlah perkara yang mudah untuknya.
Bu dokter Mega
Mas bos Fajar
🌹🌹🌹