
Setelah makan siang bersama di kantin puskesmas tadi siang, hubungan Mega dan Fajar tidak sekaku saat pertama bertemu lagi. Walaupun demikian, Mega tetap menjaga jarak dan menjawab seperlunya bila ditanya oleh Fajar.
“Sepertinya hubungan kalian jadi lebih membaik sekarang,” ucap Rendra saat melihat Fajar yang terus saja berdiri di depan pintu ruang kerjanya, menatap pada Mega yang sedang berkumpul bersama bidan Yati dan yang lainnya.
“Kau pikir kami bermusuhan? Seperti anak kecil saja.”
Fajar tersenyum sekilas, menggelengkan kepalanya. Ia kemudian berbalik lalu menarik kursi yang ada di depan Rendra, duduk menyender pada tembok yang ada di belakangnya.
“Hanya kalian berdua yang bisa menjawabnya,” jawab Rendra diiringi senyum lebar di wajahnya.
“Aku hanya kagum padanya, dengan latar belakang pendidikan yang dimilikinya ia lebih memilih untuk bekerja dan membantu warga desa kita. Padahal pekerjaan dan kariernya di kota besar sangat menjanjikan.” Fajar terdiam sesaat, lalu menoleh pada Rendra.
“Sementara banyak sekali anak muda di desa kita ini yang berlomba-lomba mengejar mimpinya pergi ke kota besar. Ingin merubah nasib katanya, jika tetap tinggal di desa tidak akan jadi apa-apa. Paling hanya akan jadi petani saja, seperti aku contohnya.” Fajar kembali tersenyum menunjuk dirinya sendiri.
“Tepatnya petani berdasi,” Rendra membalas ucapan Fajar. “Menjadi seseorang yang sukses dalam hidupnya tidak harus pergi keluar dari desa ini dan mas Fajar sudah membuktikannya. Sukses dan bermanfaat untuk orang banyak.”
“Sayangnya tidak semua orang sama pemikirannya dengan kita.” Fajar termenung sesaat, matanya menerawang mengingat saat lalu.
Seperti ucapan seseorang yang dulu pernah dekat dengannya. Fajar terlalu mencintai tanah kelahirannya, tempat dimana dia dan adiknya lahir dan dibesarkan. Ia menolak untuk pergi ke Jakarta dan memilih untuk tetap tinggal, membangun desanya dengan kemampuan dan juga ilmu yang dimilikinya.
“Kenapa kamu menolak, mas. Ayo kita ke Jakarta, kamu nggak akan jadi apa-apa kalau tetap tinggal disini. Percuma! Paling cuma jadi petani, dan jangan salahkan aku jika nantinya aku dapat seseorang yang lebih baik segalanya darimu di sana nanti.”
“Jadi laki-laki, tidak boleh ada kata penyesalan dalam setiap keputusan yang sudah diambilnya.” Fajar membalas ucapan Astri padanya.
Akan aku tunjukkan padamu bagaimana aku hidup dengan orang yang akan aku nikahi nanti. Orang yang akan terus bersamaku ketika aku berhasil bahkan gagal sekalipun, yang mencintaiku sampai akhir.
Fajar melepas kepergian Astri, wanita yang dulu dekat dengannya. Ia bertekad untuk membuktikan ucapannya dengan terus belajar dan bekerja, hingga ia berhasil menyelesaikan kuliahnya dan meraih gelar sarjananya di bidang pertanian.
Berkat kerja kerasnya, ia bisa membantu warga desanya dengan membuka lapangan kerja baru. Dengan modal yang dimilikinya ia membantu pemuda di desanya untuk terus bersekolah dengan memberi mereka beasiswa.
“Maaf, apa tidak sebaiknya kita berangkat ke posyandu sekarang? Sudah hampir jam 2 siang, Aku lihat sepertinya banyak warga yang sudah menunggu di sana.” Mega bertanya pada Rendra, melirik sekilas pada Fajar yang duduk dengan berselonjor kaki.
“Apa mas Fajar mau ikut bergabung dengan kita?” tanya Rendra.
“Lain kali saja, Dra. Siang ini Aku mau memeriksa panen kol di perkebunan,” jawab Fajar lalu bangkit dan berdiri di depan mereka berdua. “Silahkan kalian berangkat ke posyandu. Jangan sampai warga menunggu terlalu lama,” imbuhnya lagi.
“Baiklah, mas. Kami berangkat duluan,” ucap Rendra.
Mega menganggukkan kepalanya pada Fajar, lalu melangkah beriringan bersama Rendra menuju posyandu yang letaknya tidak jauh dari puskesmas. Hanya berjarak lima puluh meter saja. Di sana sudah ramai orang, terutama para ibu yang sedang menggendong anak mereka.
Diawali dengan penimbangan berat badan anak, kegiatan kemudian berlanjut dengan sesi tanya jawab. Dokter Rendra mulai menjawab pertanyaan seorang ibu yang anaknya mengalami demam di sertai muntah dan bintik kemerahan di tubuhnya. Sang ibu mengira demam yang dialami anaknya karena sedang tumbuh gigi.
“Demam tinggi itu di luar pertumbuhan gigi anak. Kalau tumbuh gigi biasanya anak akan rewel, susah makan, air liurnya berlebih, sering menangis dan sering menggigit benda.”
“Kalau terjadi demam pada anak, ini yang bisa ibu lakukan. Perbanyak ASI, hindari pakaian yang tebal bagi si bayi. Suhu rumah 18 – 23 derajat celcius. Kasih teether dingin yang sudah dibekukan, tapi jangan terlalu beku untuk mengatasi rasa gatal. Dan beri obat penurun panas. Jika terjadi demam dalam 24 jam, muntah dan diare, segera bawa ke dokter.”
“Matur suwon pak dokter penjelasannya, Saya mohon pamit dulu. Anak Saya masih dalam pantauan, semua petunjuk dokter sudah Saya lakukan sebelumnya. Hanya penggunaan teether saja yang belum, alhamdulillah sudah lebih dari 24 jam. Sudah nggak muntah lagi dokter,” ibu itu menjabat erat tangan dokter Rendra, sembari tersenyum ramah pada Mega yang berdiri di samping dokter Rendra.
“Sama-sama, bu. Moga cepat pulih dedek bayinya,” ucap dokter Rendra dan Mega berbarengan. Keduanya balas menjabat tangan si ibu dan tersenyum lebar saat melihat si ibu berlari kecil pulang menuju rumahnya yang berada tidak jauh dari puskesmas.
“Apa ada yang mau bertanya lagi? Monggo, silahkan ditanyakan. Kita masih ada waktu satu jam lagi sebelum kegiatan di posyandu kita ini selesai,” tanya dokter Rendra pada warga.
Dari balik kaca jendela mobilnya, Fajar menatap ke arah posyandu. Melihat bagaimana interaksi antara Mega dan warga desa. Sesekali dilihatnya Mega tertawa sambil menutup mulutnya saat menjawab pertanyaan warga yang ditujukan padanya.
🌹🌹🌹