
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Fajar sudah datang menjemput Mega. Kali ini lebih cepat setengah jam dari pada biasanya.
Sebenarnya sejak semalam Mega sudah mengatakan pada Fajar untuk berangkat kerja sendiri saja, tetapi lelaki itu menolak dan bersikeras akan menjemputnya sebelum ia berangkat ke kota.
“Kok sepi, belum pada bangun?” tanya Fajar sembari melihat ke dalam rumah.
“Ada, mama lagi di kamarnya sama bunda Rini. Kalau ayah tadi pamit ke kebun belakang, petik buah.”
“Oh,” Fajar menganggukkan kepala. “Ya sudah, pamitan dulu sana.”
“Sudah dari tadi pamitan juga,” sahut Mega. “Ayo berangkat, katanya mau ke kota pagi-pagi.”
Keduanya lalu berjalan beriringan menuju mobil Fajar yang terparkir di halaman rumah, dengan sigap Fajar membukakan pintu mobil untuk Mega.
“Mas nyetir mobil sendiri ke kota? Tumben nggak bareng sama mas Warno,” tanya Mega setelah berada di dalam mobil, sembari memasang sabuk pengaman di tubuhnya.
“Nggak, Aku ke kota ‘kan bareng sama Pras. Beli bibit tanaman sekalian sama bahan bangunan buat ruko juga.”
“Pras? Maksudnya mas Prasetyo yang rumahnya dekat empang eyang Sastro itu bukan, sih?”
“Ish! Iya, Pras. Yang naksir Kamu dari dulu,” sahut Fajar dengan nada tak suka.
Mega menahan senyum mendengar ucapan Fajar, “Biarin juga, masa orang suka dilarang. Cemburu?” ucap Mega kemudian.
“Ish!” Fajar menoleh, menatap Mega dengan sorot mata tak suka yang terlihat jelas.
“Setahu Aku, kalian berdua bukannya lagi kerja sama ya. Dua orang yang sama-sama punya banyak lahan perkebunan dan sekarang lagi mencoba mengembangkan bibit unggul tanaman padi dengan pola tanam yang baru. Benar seperti itu Mas?” selidik Mega, ia mendengar semua dari Rizky kakaknya tentang kerja sama antara Fajar dan Pras.
“Iya, benar.”
“Kalian bersahabat ‘kan, bukan rival kan?”
“Kami bersahabat dekat. Ada satu hari di mana dia terang-terangan menceritakan ketertarikannya padamu, waktu itu Aku belum bertemu denganmu lagi. Dan Aku tidak pernah menyangka kalau wanita yang dia maksudkan itu Kamu, yank.”
“Teruss?”
“Aku kasih semangat lah buat kejar Kamu. Ish!”
Mega tertawa lepas, apalagi melihat wajah masam Fajar. Sudah sedari tadi ia berusaha menahan tawanya.
“Kami sempat jalan bareng ke kebun obat miliknya, sehari setelah kedatanganku kembali ke desa ini. Hanya jalan-jalan saja, dan dia sempat menyebut nama mas.”
“Nggak!” Mega menggeleng kuat. “Waktu itu juga pertama kalinya Aku bertemu dengan dokter Rendra. Dia menawarkan tumpangan karena ban mobil mas Pras bocor.”
“Aku hanya ingin memastikan saja, andai waktu itu Pras menyatakan perasaannya padamu. Apa yang akan Kamu lakukan?”
“Aku nggak mau berandai-andai, toh pada kenyataannya hal itu tidak terjadi.” Mega menatap lekat pada lelaki di sampingnya itu.
Tiba-tiba Mega memukul lengan Fajar kuat, membuat laki-laki itu mengaduh dan setengah berteriak karena terkejut.
“Egaa!” serunya sambil mengusap lengannya yang panas.
“Biarin sakit juga! Apaan, lagian masih pagi sudah manyun aja. Aku tuh sukanya sama mas Inug, bukan yang lain.” Mega berpaling dan menatap lurus ke jalan.
“Yess!” Fajar mengepalkan tangannya, ucapan Mega barusan sukses membuat hati Fajar plong dan kembali tersenyum cerah.
“Jangan ngambek dong, yank. Aku tuh beneran sayang sama Kamu, jujur saja Aku nggak suka ada yang dekat-dekat Kamu.”
Mega menghela napas, lalu tersenyum mengangguk.
Fajar mengusap kepala Mega, sepanjang perjalanan menuju puskesmas ia terus menggenggam jemari Mega dengan tangannya yang bebas.
“Jangan pulang sendiri, tunggu sampai Aku datang jemput Kamu sore nanti.” Fajar menahan tangan Mega yang hendak membuka pintu mobil.
“Iya, Aku tunggu. Hati-hati di jalan,” ucap Mega sebelum ia turun dari mobil.
Mega melambaikan tangannya, sampai lelaki itu berlalu dari hadapannya.
Hari ini Mega berharap waktu cepat berlalu, karena ia ingin secepatnya pulang dan bertemu dengan bundanya.
Semalam mereka berbincang hingga larut malam, waktu yang hanya tersisa sedikit itu ingin Mega manfaatkan dengan baik. Menyenangkan bundanya dengan membawanya jalan-jalan.
Sepanjang pagi hingga menjelang sore hari, Mega disibukkan dengan banyaknya pasien yang datang ke puskesmas. Sehingga perhatiannya teralihkan, dan ia melupakan ponselnya yang terus berbunyi di dalam laci meja kerjanya.
Ya, Fajar menghubungi Mega, tapi hingga panggilan ke sekian kalinya belum juga diangkat hingga membuat lelaki itu khawatir.
Sementara si empunya ponsel sedang sibuk menangani pasiennya yang terjatuh dari pohon kelapa, mengalami muntah hingga beberapa kali. Mega lalu memberi surat pengantar untuk membawa pasien tersebut ke rumah sakit besar di kota dengan ambulan puskesmas.
🌹🌹🌹