
“Yank!” Fajar melambaikan tangannya saat dilihatnya Mega tengah berdiri di ambang pintu ruko yang terbuka lebar.
Mega tersenyum, berjingkat mengangkat kakinya melewati bahan material bangunan yang berada di bawah kakinya.
“Menurut Kamu, ruang praktik dokter sebaiknya ada di sebelah mana?” tanya Fajar saat Mega sudah berada di dekatnya.
Mega memutar tubuhnya, matanya mulai memindai mengitari ruangan sekelilingnya. Dari pintu masuk hingga bagian belakang ruko di batasi oleh sekat dinding tembok yang tebal.
“Ada dua ruangan kosong di sini, apa dua-duanya ruang praktik dokter juga?” tanya Mega lalu membuka knop pintu dan melongok masuk ke dalam.
“Ruang praktik dokter satu saja, terserah Kamu maunya yang mana. Ruang satunya lagi buat gudang penyimpanan obat-obatan,” jawab Fajar.
“Kok terserah Aku?” Mega mengerutkan keningnya, ia menutup kembali knop pintu lalu berkeliling di dalam bangunan ruko.
“Iya, terserah Kamu. Sekarang Kamu yang tentukan maunya sebelah mana. Jadi besok ruang satunya bisa langsung dibuatkan rak-rak,” jawab Fajar mengikuti Mega di belakangnya.
“Kok Aku lagi yang tentukan, bukannya yang mau menempati ruangan ini nanti itu dokter Rendra. Harusnya Mas bisa tanya langsung sama dia tadi,” sahut Mega heran.
“Ish, kalian ‘kan sama-sama dokter. Apa salahnya bantu kasih masukan biar hasilnya jadi lebih baik,” sahut Fajar beringsut mendekati Mega, wanita itu masih sibuk melihat-lihat bangunan ruko.
“Aku bangun ruko di tanah milik keluargamu ini memang salah satunya untuk tempat praktik kerja dokter di desa ini. Selain itu juga buat mempermudah warga yang mau datang berobat malam hari, sementara di puskesmas tutupnya sore hari.”
“Ada tiga pintu di ruko ini. Di bagian tengah, Aku sengaja buat lebih besar dari pada dua bagian di sebelahnya. Sekaligus buat tempat apotek juga. Jadi pasien yang berobat di ruko ini, bisa langsung menukar resep obatnya sekalian di sini juga.”
“Sebelah kanan, ruangan pertama sebaiknya untuk tempat praktik dokter.” Mega sudah menentukan.
“Sebenarnya kami juga berpikir seperti itu,” sahut Fajar sambil tersenyum.
“Kami? Maksudnya dengan kami ...?”
“Aku dan Rendra,” jawab Fajar kemudian.
“Ish!” Mega melengos mendengarnya. “Terus, ngapain pakai tanya Aku lagi coba?”
“Kami juga ‘kan mau mendengar pendapatmu, yank. Ternyata kita sepemikiran,” sahut Fajar masih tetap tersenyum.
“Balik ke rumah yuk, nanti Yola nyariin. Kasihan nungguin dari tadi,” ajak Mega.
Ia mengulurkan tangannya menautkan jemarinya pada lengan Fajar.
“Yakin dalam satu bulan bisa selesai ini ruko?” tanya Mega di sela langkah keduanya.
“Lewat satu bulan sih,” jawab Fajar. “Kenapa, sudah nggak sabar mau cepat tebar undangan?”
“Apaan, sih. Tanya doang, juga.”
Fajar mencebik, “Ngaku aja lah, biar senang juga ini hati.”
“Heii, masih lama tau! Buat apa juga buru-buru, mending jalani aja dulu.”
Padahal dalam hati Fajar berharap kalau hubungannya dengan Mega bisa secepatnya di resmikan, secepatnya pula bisa tebar undangan!
“Mas Fajar,” sapa Pras saat keduanya sudah sampai di teras rumah Mega, yang langsung disambut dengan tepukan tangan Fajar di bahunya.
“Dek Mega,” sapanya pula pada Mega.
“Ngopi, Dek.” Ucapnya lagi sambil mengangkat cangkir kopi di tangannya.
Lelaki itu tengah beristirahat bersama rekannya yang lain, sambil menikmati secangkir kopi panas.
“Maaf, Aku ke dalam dulu. Silahkan dilanjut ngopinya,” ucap Mega sambil menganggukkan kepalanya lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya.
“Mba, dari mana saja. Aku cariin kok langsung ngilang,” tanya Yola sambil menarik lengan Mega mengajaknya duduk di sofa.
“Barusan tadi lihat ruko di sebelah bareng mas Fajar,” jawab Mega.
“Oh, ruko bakal klinik kesehatan itu ya.”
“Klinik kesehatan? Kok Kamu tahu soal itu. Apa mas Fajar yang cerita,” tanya Mega sambil menyeruput minuman di atas meja.
“Bukan, mba. Mas Rendra yang bilang. Aku juga dengar dari mama mba Mega, kalau malam sering ada warga yang datang ke rumah ini buat berobat atau sekedar meminta resep obat.”
“Iya sih, mereka datang jauh-jauh kadang harus berjalan kaki ke mari. Katanya ke puskesmas dokternya sudah pulang, jadi nyusul ke rumah.” Mega membenarkan cerita mamanya.
“Makanya gudang sebelah dibangun salah satunya ya buat klinik kesehatan untuk mba Mega ituu,” ucap Yola lagi.
“Kamu nggak salah informasi, La. Setahu Aku, klinik itu buat praktik dokter Rendra nantinya.”
“Ish, bukan Mba. Mas Rendra sendiri yang bilang kalau klinik itu nantinya buat praktik mba Mega. Makanya mas Fajar ngebut biar cepat selesai bangunannya,” koreksi Yola.
Mega terdiam sesaat, kenapa laki-laki itu tidak bicara terus terang padanya soal klinik kesehatan yang dikiranya diperuntukkan buat dokter Rendra, namun ternyata tidak menurut cerita Yola.
“Bentar, La. Aku ke depan dulu,” ucap Mega pada Yola.
Ia lalu bergegas ke depan memanggil Fajar yang tengah menikmati kopi bersama dengan yang lainnya.
“Mas Inug,” panggilnya pada Fajar, yang langsung menolehkan wajahnya.
Mega langsung menariknya ke sudut ruangan, tangannya terlipat di dada menatap Fajar dengan bibir mengerucut.
“Ada apa, kenapa mukanya cemberut begitu?”
“Kenapa nggak cerita sama Aku soal klinik kesehatan di ruko sebelah!”
🌹🌹🌹