I Am Yours

I Am Yours
36. Surat bersampul biru



Fajar mondar-mandir di ruang kerjanya, dilihatnya arloji di pergelangan tangannya. Sudah lebih dari sepuluh menit menunggu, namun yang ditunggu belum datang juga.


   “Hemm,” Fajar mengesah kesal, sembari berjalan cepat lalu menarik laci paling atas di balik meja kerjanya.


   Dengan langkah lebar, Fajar keluar dari ruangannya yang berada di lantai dasar rumahnya dan membiarkan pintunya tetap terbuka.


   Sambil berjalan menuju teras rumahnya, ia mengambil ponsel di balik saku jas yang dikenakannya lalu menghubungi nomor ponsel Warno.


   Tanpa menunggu lama, terdengar suara cempreng dari seberang telepon.


   “Halo mas bos,” Warno menjawab panggilan telepon dari Fajar.


   “Suwarnooo!” teriak Fajar lantang memanggil nama asistennya itu. “Cepat kemari!”


   Warno yang berada di halaman belakang sedang membersihkan kandang kuda, terkejut mendengar teriakan Fajar.


   “Siap mas bos!” jawabnya tak kalah lantang.


   Dilemparnya begitu saja sapu ijuk yang berada di tangannya itu, secepat kilat ia berlari untuk menemui Fajar. Hampir saja Warno jatuh terjungkal menabrak dua keranjang besar berisi rumput yang tadi ditaruhnya di depan kandang.


   “Hadir mas bos!” ucap Warno dengan napas tersengal, jarak kandang kuda ke teras rumah lumayan jauh karena harus berlari memutari gudang dan kebun obat yang berada di belakang rumah utama.


   Senyum terbit di wajah Fajar saat dilihatnya Warno masih mengenakan pakaian yang biasa dikenakannya saat membersihkan kandang. Sisir besar yang biasa digunakan untuk menyisir surai kuda masih berada di dalam saku atas bajunya.


   “Lepas bajumu, No. Jangan pakai baju itu ke sana nanti,” ucapnya lebih seperti perintah.


   “Memangnya Saya mau disuruh ke mana mas bos?” tanya Warno sembari melepas pakaiannya, lalu melipatnya dan menaruhnya di lantai rumah yang terbuat dari granit.


   “Ini.” Fajar lalu menyerahkan amplop di tangannya pada Warno.


   “Apa ini mas bos?” tanya Warno sambil membolak-balik amplop di tangannya itu. “Weleh, wangi pisan mas bos. Surat cinta?” Warno memicingkan matanya mencoba menebak isi di balik amplop yang beraroma wangi itu.


   “Ish, Kepo!” Wajah Fajar memerah, bukan karena emosi. “Apa Kamu pikir Aku mau kasih bu dokter nota tagihan barang? Yang benar saja.” Fajar melengos memalingkan wajahnya.


   “Sudah cepat, buruan antar ke puskesmas sana, Warno. Jangan banyak tanya, kasih langsung ke tangan bu dokter. Awas saja kalau sampai dititipkan ke orang lain,” ucap Fajar berkacak pinggang.


   “Biar Saya selesaikan dulu nyapu kandangnya mas bos, tinggal sedikit lagi tadi. Setelah itu baru Saya ke puskesmas. Pagi gini kan  sibuk-sibuknya bu dokter meriksa pasien di puskesmas,” ucap Warno mencoba menghindar.


   “Se ka rang!” jawab Fajar tegas tidak ingin dibantah.


   “Siap mas bos, laksanakan!” jawab Warno tanpa banyak alasan lagi.


   “Good!” Fajar mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum lebar menampakkan barisan gigi putihnya yang terawat rapi.


   “Dihh! Giliran urusan bu dokter saja kenceng banget bicaranya. Jaman sudah canggih, ada ponsel tinggal telepon, kenapa juga harus pakai surat-suratan segala. Si mas bos bikin orang repot saja,” Warno ngedumel sembari berjalan mengambil motornya yang terparkir di samping rumah.


   “Eits, nggak pakai ngomel Suwarno!” seru Fajar yang masih mendengar ucapan Warno.


   Tapi tidak lama kemudian Warno terkekeh sendiri saat membaca tulisan Fajar di belakang amplop yang tertutup rapat itu.


   “Jadi penasaran mas bos nulis apa,” ucap Warno dalam hati sambil menerawang isi di dalam surat.


   Diarahkannya amplop berwarna biru itu ke langit, sinar matahari pagi bahkan tidak mampu menembus isi yang tertulis di dalamnya.


   “Tidak salah lagi, ini pasti surat cinta. Mas bos romantis juga, ngajak kencan bu dokter lewat suratnya,” tebak Warno lalu tertawa geli.


   Sepanjang perjalanan menuju puskesmas, senyum tak lepas dari bibir Warno. Tadinya ia sebal saat pekerjaan mengurus kandang kuda terganggu hanya karena mas bos memintanya untuk mengantar surat kepada Mega.


   Tapi saat membayangkan tingkah aneh mas bos nya yang tidak biasanya itu, kerap salah tingkah saat berada di dekat Mega membuatnya tidak dapat menahan tawanya lagi.


   “Apa ini?” Mega meraih amplop berwarna biru yang ada di atas meja kerjanya, matanya menyipit menatap ke arah Warno yang dari tadi terlihat senyum-senyum sendiri.


   “Ehemm!”


   Warno berdehem sejenak sambil mengusap ujung hidungnya, ia menghela napas sebelum memulai bicaranya.


   “Mas Warno, amplop apa ini?” tanya Mega kembali mengulang pertanyaannya.


   “Mas bos hanya menyuruh Saya untuk mengantar dan memastikan kalau surat ini sampai ke tangan bu dokter, langsung tanpa perantara orang lain. Kalau soal apa isinya, Saya kurang tahu bu dokter.” Warno menjelaskan.


   “Begitu?” Mega menatap lurus pada Warno. “Apaan sih, pakai surat-suratan segala.” Mega yang merasa penasaran lalu membuka amplop surat yang tertutup rapat itu.


   Mega membaca dengan teliti, menyusuri kata demi kata. Sedetik kemudian senyumnya mengembang dan wajahnya tampak cerah.


   Warno yang penasaran saat melihat perubahan pada raut wajah Mega, memiringkan wajahnya. Ujung jari telunjuknya perlahan menyentuh lembar kertas yang tengah dibaca Mega.


   “Eyy, mas Warno mau ngapain?” Mega langsung memundurkan tubuhnya, mendekap erat surat bersampul warna biru itu ke dadanya. Matanya mendelik menatap Warno.


   Warno hanya meringis melihatnya, “Penasaran bu dokter, seumur-umur baru kali ini Saya lihat mas bos kirim surat buat cewek. Mau ngajak kencan saja kok ya pakai surat-suratan segala, biasanya juga bicara langsung sama orangnya. Ini kok beda.”


   “Sok tahu mas Warno,” jawab Mega sambil melengos. “Yang ngajak kencan itu siapa coba?”


   “Ya siapa lagi kalau bukan mas bos, bu dokter. Masa Saya,” jawab Warno sambil menaikkan sudut bibirnya.


   Mega tak dapat menahan tawanya lagi, “Ish! Harusnya mas Warno ikutan senang lihat mas bosnya bersikap romantis seperti ini.”


   “Hmm, sudah kuduga. Benar toh,” ucap Warno mencebikkan bibirnya dengan tangan terlipat di dada.


   “Ya sudah, tolong sampaikan sama mas Inug jemput saja setelah jam 2 siang ini. Aku tunggu,” jawab Mega kemudian masih dengan senyum lebar di bibirnya.


🌹🌹🌹