I Am Yours

I Am Yours
34. Monoton



Hari masih pagi ketika Mega keluar dari dalam rumahnya, hendak berangkat menuju puskesmas. Ia sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya, karena motor yang biasa dipakainya sedang di service di bengkel.


   Berjalan santai hingga sampai di depan mulut gang rumahnya, Mega melambai pada ojek yang mangkal di seberang jalan.


   “Ojek Neng!” teriak tukang ojek dari seberang jalan.


   Belum sempat Mega menjawab teriakan tukang ojek itu, ia dikejutkan dengan datangnya sebuah mobil berwarna hitam yang berhenti mendadak tepat di tempatnya berdiri saat ini.


   “Ish!” Mega spontan memundurkan langkahnya, sedikit menepi di pinggir jalan. Ditatapnya sosok lelaki yang ada di balik mobil yang ada di sampingnya itu, sepertinya ia mengenalnya.


    “Selamat pagi, Ega.” Sapa Fajar memasang senyum manis. Ia menyembulkan wajahnya dari balik kaca mobilnya yang terbuka.


   “Pagi juga,” balas Mega. “Mas sudah sembuh?” tanya Mega, menatap pada Fajar yang keluar dari dalam mobilnya dan berjalan memutar menghampirinya.


   “Alhamdulillah bu dokter Ega, terima kasih atas pertolongannya waktu itu. Sekarang pinggangku sudah tidak sakit lagi, dan luka di kakiku juga sudah mengering.” Ungkapnya tulus.


   “Syukurlah kalau seperti itu. Mas Warno gimana kabarnya?”


   “Warno sehat dan sudah kembali bekerja seperti biasa lagi,” jawab Fajar. “Kamu mau berangkat kerja, Aku antar ya.”


   “Apa tidak merepotkan?”


   “Tidak sama sekali, justru Aku senang melakukannya.” Fajar tersenyum.


   “Neng, ojeknya jadi nggak?” tanya tukang ojek mendekati tempatnya berdiri, dengan motornya. 


   “Maaf, Pak. Nggak jadi,” jawab Mega pelan sambil meminta maaf.


   “Ya tidak apa-apa, Neng!” katanya, lalu menyalakan mesin motornya kembali berlalu dari hadapan Mega dan Fajar.


   Fajar mengangkat bahunya, kemudian mengajak Mega masuk ke dalam mobilnya. Tidak butuh waktu lama mereka berdua sudah sampai di puskesmas.


   “Habis ini Mas mau pergi ke mana?” tanya Mega.


   “Ke kebun, Ga. Aku bukan orang kantoran, tidak ada yang namanya cuti atau hari libur di tempatku bekerja. Tidak kerja ya tidak ada pemasukan,” ucap Fajar kemudian.


   “Seru kayaknya kalau kerja seperti Kamu gitu, Mas. Nggak monoton, nggak ngebosenin, nggak itu-itu saja suasananya yang dihadapi tiap hari. Bebas berbuat apa saja, bebas melakukan hal yang disukai. Tidak terikat dengan aturan orang lain,” ucap Mega.


   “Setiap pekerjaan pasti ada aturan yang harus dipatuhi, tidak terkecuali kami para petani ini. Kalau mau, kapan-kapan Aku ajak Kamu ikut ke lapangan. Biar Kamu tau gimana petani bekerja di lapangan terbuka,” ucap Fajar lagi.


   “Iya. Aku mau,” jawab Mega cepat.


   Fajar tersenyum mendengarnya, “Sepertinya Kamu butuh waktu untuk rileks.”


   “Mungkin, terkadang jenuh kalau sudah pulang dari tempat ini dan sampai di rumah tidak ada yang bisa dilakukan lagi.”


   “Kalau waktumu banyak senggang setelah pulang bekerja, Kamu bisa bergabung dengan pemuda desa kita di karang taruna. Atau ...” Fajar teringat gudang kecil di sebelah rumah Mega.


   “Atau apa?”


   “Bukan apa-apa,” katanya cepat, “Ya sudah, Aku pamit dulu,” ucap Fajar lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya.


   “Oke!”


   Mega melambaikan tangannya pada Fajar. Sementara di depan pintu puskesmas, pak mantri tersenyum menatap Mega yang masih berdiri tak bergerak di tempatnya.


   “Sepertinya tidak lama lagi kita bakal dapat undangan dari bu dokter sama mas Fajar,” ucapnya lalu berdiri sejajar di samping Mega.


   “Eh! Undangan apaan Pak?”


   “Ya, undangan. Undangan peresmian hubungan bu dokter sama mas Fajar ke jenjang yang lebih tinggi lagi,” jawabnya penuh arti.


   “Ish, Bapak bisa saja. Kami tidak ada hubungan apa-apa selain hanya berteman biasa,” jawab Mega.


   “Tapi yang terlihat di mata tua Saya ini, bu dokter sama mas Fajar terlihat seperti pasangan sebenarnya. Kalian berdua sering sekali bertemu, bukan suatu kebetulan yang di sengaja. Bu dokter juga jadi lebih perhatian sama mas Fajar, dan mas Fajar terlihat jauh lebih semangat saat bersama dengan bu dokter,” ucap pak mantri panjang lebar.


   “Masa sih, Pak?” tanya Mega lalu melangkah beriringan masuk ke dalam puskesmas. “Sepertinya Bapak tau banyak tentang mas Fajar?”


   “Saya ini pamannya, adik dari almarhum bapaknya Fajar. Jadi Saya tau banyak soal Fajar dan Bayu, Saya juga tau hubungan bu dokter dan mas Bayu dulu.”


   “Oh!” Mega mendekap mulutnya.


   Pak mantri tersenyum lebar, “Sudah lama sekali Saya tidak pernah melihat Fajar tersenyum dan tertawa seperti saat bersama bu dokter.”


   Mega terpaku diam sejenak, lalu beralih menatap pak mantri. Sedetik kemudian Mega tersenyum kembali. “Saya harus bekerja, sudah hampir jam delapan pagi. Terima kasih sudah berbagi cerita dengan Saya, pak.”


   “Sama-sama. Saya pamit dulu, tadi Saya hanya mampir sebentar. Pagi ini Saya harus pergi ke desa sebelah, ada keluarga yang akan mengkhitankan anaknya.” Pak mantri berpamitan.


   “Silahkan, Pak.”


   “Kami berdua baru saja saling mengenal pribadi masing-masing, biarkan hubungan kami mengalir apa adanya seiring waktu yang akan menjawabnya,” bisik Mega dalam hati mengiring kepergian pak mantri dari pandangan matanya.


   “Selamat pagi, bu bidan.” Mega menyapa bidan Yati yang berada di ruangan kerjanya.


   “Selamat pagi, bu dokter.” Suara bidan Yati membalas sapaan Mega, berbaur dengan suara tangisan bayi yang sedang ditimbangnya.


   “Pasien pertama bu dokter,” bisiknya pada Mega lalu mengarahkan bayi dalam gendongannya ke arah Mega.


   Mega tersenyum melihatnya, diusapnya pipi mungil bayi dalam pelukan bidan Yati. “Ibunya mana?”


   “Lagi ke kamar kecil.”


  


   “Oh.”


   Sepagi itu puskesmas telah ramai dengan kedatangan warga yang datang untuk berobat. Begitulah dari hari ke hari kesibukan yang dijalani Mega setiap harinya kini.


   Bangun pagi, lalu berangkat ke puskesmas, pulang sore hari dan bila malam hari ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mengobrol dan menonton televisi. Harus diakuinya, terkadang ia kangen dengan kehidupan lamanya bersama bunda Rini di kota.


🌹🌹🌹