I Am Yours

I Am Yours
27. Ular!



“Woww!”


   Mega melebarkan matanya, memandang takjub pada deretan tanaman salak pondoh yang tumbuh bergerombol di setiap pohonnya.


   “Apa lahan seluas ini punya mas semua?” tanya Mega antusias, ia melebarkan tangannya ke arah tanah luas di depannya. 


   “Tidak semua milikku, hanya sampai batas pohon mangga besar di seberang sana saja. Sebagian lagi milik warga yang tanahnya kami garap bersama untuk budi daya salak pondoh ini,” jelas Fajar.


   Mega berjalan memutar, melihat dari tempat yang lebih tinggi. Dari sana ia dapat melihat beberapa pohon mangga besar yang membatasi lahan satu dengan yang lainnya.


   “Mas Totok, tolong batang daunnya dipotong dulu sedikit. Biar tidak menghalangi jalan,” perintah Fajar pada Totok, salah satu anak buahnya yang bertugas memanen buah hari itu.


   “Oh ya, yang lain ke mana mas?” tanya Fajar lagi, tubuhnya bergeser menyamping saat Totok melewatinya dengan membawa parang yang akan digunakannya untuk memotong dahan pohon salak.


   “Sebagian bersama mas Bayu di lahan sebelah sana, mas bos. Sudah banyak yang dipanen barusan, jadi buah yang sudah ditimbang sama mas Bayu disuruh langsung muat di mobil.” Totok menjelaskan.


   “Jadi Bayu sudah ada bersama petani lainnya, ya mas Totok.”


   “Iya, mas bos. Lagi pula hanya tinggal kebun bagian sini saja yang belum kita panen,” ucap Totok lagi, ia pun bergerak masuk ke dalam kebun salak dan mulai memotong dahan yang menghalangi jalan masuk.


    Fajar menoleh ke atas saat mendengar suara tawa tertahan dari Mega.


   “Kenapa tertawa, ada yang lucu?” tanya Fajar menautkan alisnya.


   “Memang harus selalu ada sesuatu hal yang lucu baru boleh tertawa?” tanya Mega balik.


   Ia kembali turun menapaki jalan yang sedikit berbatu, dan berdiri tepat di hadapan Fajar dengan kedua tangan terlipat di dada.


   “Aku pikir panggilan mas bos yang disematkan padamu itu hanya panggilan khusus mas Warno untukmu.” Mega menatap dengan wajah tengadah, maklum pria di hadapannya itu memiliki perawakan yang cukup tinggi dibanding kebanyakan lelaki lain di desanya.


   “Ternyata anak buahmu yang lain juga memanggil dengan panggilan yang sama,” tambah Mega lagi, kali ini ia tidak lagi menyembunyikan tawanya.


   “Ish! Tadinya memang hanya Warno yang memanggilku dengan sebutan mas bos. Tapi lama kelamaan, anak buahku yang lain melakukan hal yang sama dengan Warno. Ya sudah, Aku biarkan saja. Toh, panggilan itu tidak terlalu buruk juga kedengarannya.”


   “Iya, sih. Pas banget, dan sesuai sama mas.” Mega tersenyum lebar.


   Fajar menatap lekat ke dalam mata Mega, melihat senyum dan tawa wanita itu membuat hatinya berdesir. Sudah cukup lama ia tidak pernah sedekat ini dengan seorang wanita, kehadiran Mega di dekatnya kini membuatnya merasa lebih bersemangat menjalani hari-harinya.


   “Kenapa menatapku seperti itu? Jangan bilang kalau mas menyukaiku, karena itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi,” ucap Mega spontan, seraya mengingat masa lalu.


   “Ada lingkar hitam di bawah garis matamu,” ungkap Fajar berdalih sambil menoleh pada Mega.


   “Hmm, alasan saja.” Mega melengos mendengar ucapan Fajar yang hanya tertawa kecil melihatnya.


   Fajar lalu masuk ke dalam kebun salak diikuti Mega dari belakang, sesekali tangannya menyibak daun pohon salak yang menjuntai di depannya.


  


   “Buahnya besar-besar, pasti rasanya juga manis.”


   Mega tengah asik memperhatikan para pekerja memetik buah dan menaruhnya dalam keranjang besar yang terbuat dari anyaman bambu, sampai ketika matanya menatap sesuatu benda yang bergerak di salah satu pohon di dekatnya.


   “U-uulaar!”


   Mega menjerit keras dan langsung berlari memeluk erat lengan Fajar yang berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya pucat seketika, lututnya gemetar tiba-tiba.


   “Hei, tenang! Itu hanya ular pohon biasa, tidak akan membahayakan kita semua.” Fajar menenangkan.


   “Tidak berbahaya katamu?! Dia mendesis dan membuka mulutnya seperti itu tidak berbahaya katamu?” Mega mengulang ucapan Fajar. Mega memang paling takut dengan hewan melata yang satu itu.


   Fajar lalu mengambil kayu panjang yang ada di dekat keranjang buah, dan mulai menghalau ular kecil itu.


   “Yang berbahaya justru teriakanmu itu, bisa membuat orang lain terkejut dan terluka.”


   Mega langsung melepaskan pelukannya di lengan Fajar, beringsut menjauh. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu padanya, rutuk Mega dalam hati. Matanya lalu menelisik wajah lelaki itu, mencari bekas luka di keningnya dulu.


   Seolah mengerti arti pandangan mata Mega di wajahnya, perlahan Fajar menyibak rambut yang menutupi keningnya. Ada bekas luka yang tampak mulai samar di sana.


   “Akibat teriakanmu itu, Aku harus menerima tiga jahitan di keningku.”


   Mega mengalihkan pandangannya, “Bukan salahku kalau seperti itu kejadiannya. Mas yang tidak mau diajak ke puskesmas waktu itu,” ucap Mega setengah bergumam.


   “Bagaimana Aku bisa lupa, waktu itu mas berteriak menyuruhku pulang. Padahal Aku hanya ingin menolong mengobati lukamu,” ucap Mega sambil menundukkan wajahnya.


   Fajar pun mengingatnya, lalu lintasan masa lalu itu berkelebat dalam benaknya.


   Waktu itu Fajar terluka karena hendak menolong Mega yang ketakutan saat melihat ular pohon di kebun belakang rumahnya.


   Karena terburu-buru mendengar jeritan Mega, ia berlari dan terjatuh. Kakinya tersangkut akar pohon besar yang dilewatinya, keningnya terluka dan berdarah. Sementara ular yang membuat Mega berteriak ketakutan sudah pergi dan menghilang di balik semak.


   “Sedang apa Kamu di kebun belakang rumahku!” teriak Fajar marah, darah menetes di pipinya tanpa disadarinya.


   “Aku mau ambil jambu air. Tiba-tiba ular itu muncul di sana,” tunjuk Mega ke atas pohon jambu yang sedang berbuah lebat.


   Kebun belakang rumah Fajar dan Bayu memang ditanami banyak pohon buah yang tumbuh subur, tidak jarang sepulang sekolah Mega dan kawan-kawannya mampir ke sana bersama Bayu hanya untuk sekedar memetik buah dan memakannya langsung di tempat.


  


   Walaupun kerap mendapat omelan Fajar, karena letaknya yang bersebelahan dengan hutan bambu sehingga banyak terdapat hewan melata seperti ular di sana.


   “Bilang kalau mau, biar Aku yang ambilkan. Dan jangan ke kebun ini sendirian, lagi pula ngapain juga bolak-balik datang ke rumahku sendirian. Alasan saja!”


   Tadinya Mega memang datang ingin menemui Bayu di rumahnya, tapi laki-laki itu sedang bermain bersama teman-temannya. Alih-alih ingin kembali pulang ke rumahnya, Mega malah tergiur saat melihat buah jambu di kebun belakang rumah Fajar berbuah lebat.


   Mega bukannya takut dan berlari menangis seperti biasanya saat Fajar memarahinya, ia justru berjalan mendekat karena terdorong rasa ingin menolong mengobati luka di kening Fajar robek dan mengeluarkan darah.


   “Jangan mendekat! Jangan coba-coba menyentuhku,” ucap Fajar gusar saat Mega hanya berjarak beberapa senti saja darinya, apalagi saat tangan halus itu hendak menyentuh keningnya.


   “Kening mas berdarah, biar aku obati lukanya.”


   “Tidak perlu! Hanya luka kecil, sebaiknya Kamu pulang sebelum Aku benar-benar marah padamu.” Fajar menepis tangan Mega.


   “Keningmu robek, kalau tidak segera diobati bisa infeksi.”


   “Jangan sok tahu, Kamu. Sudah seperti dokter saja lagaknya,” Fajar menyeka keningnya dengan ujung lengan bajunya, terasa perih namun berusaha ditahannya.


   Mega tidak peduli, dikeluarkannya sapu tangannya lalu diusapnya kening yang berdarah itu. “Mas harus secepatnya ke puskesmas,” ucapnya kemudian.


   “Apa telingamu bermasalah? Cepat pergi dari sini sekarang!” perintah Fajar.


   “Bagaimana bisa Mas menyuruhku pulang, sementara Mas terluka karena Aku!” Mega balas berteriak.


   “Biarkan Aku menolongmu, setidaknya biarkan Aku membersihkan luka di keningmu.” Mega menurunkan nada bicaranya.


   Detik berikutnya sapu tangan di tangannya itu telah penuh dengan noda darah, Fajar akhirnya membiarkan Mega melakukan maunya.


   “Jangan pernah lakukan hal itu lagi, bagaimana kalau Kamu terluka dan tidak ada yang mendengar teriakanmu.” Fajar menghela napas sejenak, ada nada khawatir tersirat jelas dalam ucapannya. Detik berikutnya suaranya kembali meninggi. “Apa Kamu mau mati konyol, hah?!”   


   “Nyatanya Aku baik-baik saja sampai saat ini,” jawab Mega tak peduli. “Karena ada mas Inug yang akan datang menolongku,” ucapnya lagi.


   “Bagaimana bisa Bayu menyukai gadis seperti dirimu!” desisnya kesal.


   Tanpa sadar Fajar tertawa kecil mengingat semuanya. Dilihatnya saat ini Mega berusaha terlihat berani di depannya, meski wajahnya tampak masih pucat dan matanya liar mengawasi sekelilingnya. Timbul niat jahil Fajar untuk menggodanya.


   “Ularrr!”


   Fajar melempar ranting kecil di depan Mega, yang langsung membuat wanita itu menjerit kencang.


   “Aaarrrggghh!!!”


   BRUKK!


   Mega menubruk tubuh Fajar dan memeluknya kembali, saat didengarnya lelaki itu tertawa lepas Mega sontak mengangkat wajahnya. Merasa dikerjai, Mega lalu mengambil salak pondoh di dalam keranjang dan melempar Fajar.


   “Aduh! Hei, sakit tau!”


   “Rasakan pembalasanku!” dengus Mega kesal saat lemparannya sukses mengenai punggung lelaki itu.


🌹🌹🌹