I Am Yours

I Am Yours
63. Kencan 2



Lelah berenang di pantai, Warno menarik tangan Sri dan mengajaknya kembali ke mobil.


“Capek,” ucap Sri langsung terduduk di atas tikar yang digelar di atas pasir di pinggir pantai.


“Mas bos mana Sri, malah ngilang.” Warno duduk berselonjor kaki di samping Sri, dengan kedua tangan ke belakang menumpu berat tubuhnya.


“Muleh piye ki, Sri. Bajuku teles kabeh,” ucap Warno menoleh pada Sri.


Sri hanya diam, ia masih sibuk mengatur napasnya yang ngos-ngosan setelah lama bermain air di pantai.


Iseng, Warno menarik sehelai tali yang tersembul keluar dari tikar yang didudukinya lalu menyentuhkannya ke hidung Sri.


“Sri,” panggil Warno kalem, spontan membuat Sri menoleh padanya.


“Huachim!”


“Hahaha.”


Warno tertawa lebar melihat Sri bersin dengan keras hingga pasir di bawah kakinya beterbangan.


“Bocah eiiddann!” umpat Sri menepis tangan Warno.


Diusapnya kasar hidungnya yang terkena pasir akibat ulah Warno, lalu dengan kakinya yang bebas ditendangnya paha Warno.


“Haduh Sri!” seketika tawanya langsung berhenti. “Koen sing eiddan Sri,” balas Warno sambil mengaduh, mengusap pahanya yang sakit. “Abbuhh kakiku, Sri.”


“Sukuuur, jadi orang kok iseng banget.” Sri masih kesal, hidungnya jadi gatal.


“Ada apa, ini?” Fajar datang bersama Mega dengan membawa bungkusan makanan di tangannya.


“Kamu kenapa, No. Tau nggak, suara kalian berdua sampai kedengaran dari jauh.” Fajar mengambil tempat, duduk di sebelah Warno.


Warno mencebik, “Mas bos lebay, mana ada seperti itu.”


Fajar terkekeh mendengarnya, “Sana ganti dulu, masuk angin malah bikin repot orang nanti.”


“Ganti baju dulu, Mas.” Mega ikut menimpali, “Bersihkan badannya sekalian.”


“Nggak bawa baju ganti bu dokter,” sahut Warno dengan nada memelas.


“Itu loh bajumu di atas kursi,” tunjuk Sri ke arah bangku panjang di bawah pohon.


“Lah, terus celananya gimana?” Warno melihat celana basah yang dipakainya.


“Ish, nggak bawa ganti juga?” tanya Fajar, yang langsung dijawab dengan gelengan kepala Warno.


Seketika senyum mengembang di wajah Warno, saat Fajar mengeluarkan dompet dari saku celananya dan mencabut beberapa lembar uang.


“Beli saja di toko depan sana,” ujar Fajar.


“Ayo Sri, kita ke sana. Temani Aku belanja,” ucap Warno mengulurkan tangannya pada Sri.


“Hilih, kok koyok arek cilik. Minta ditemani segala,” Sri mencebikkan bibirnya, tapi tetap berdiri dan berjalan di samping Warno.


“Rame pasti di rumah tiap hari kalau kumpul bareng mereka berdua,” ucap Mega tersenyum.


“Pastinya,” sahut Fajar lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Mega. “Kalau Kamu mau ikutan, Kamu bisa secepatnya tinggal bersama denganku.”


“Maksudnya?”


“Maksudnya, sekarang Aku mau berbaring sebentar di sini,” ucap Fajar lalu meluruskan kakinya dan menautkan tangannya di dada.


“Kok nggak nyambung ya sama yang barusan diomongin,” gumam Mega dalam hati.


“Semalam Aku kurang tidur, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Rebahan bentar saja,” ucap Fajar memejamkan matanya.


“Kalau pegal bilang ya,” ucap Fajar masih dengan mata terpejam.


“Sekarang saja sudah pegal,” celetuk Mega.


“Ish, belum juga lima menit.” Fajar membuka matanya.


Deg ...


Jantung Mega berdebar lebih cepat. Wajah keduanya begitu dekat dan mata itu kini sedang menatapnya lekat.


“Jadi ceritanya ke pantai cuma mau rebahan doang,” ucap Mega lagi.


Fajar tersenyum mendengarnya, “Bukannya Kamu bilang mau melakukan apa saja asal bersama denganku? Sekarang hal pertama yang ingin Aku lakukan, rebahan di atas pangkuanmu.”


“Ya ya ya,” jawab Mega mengiyakan.


Ini hal pertama yang dilakukan Fajar padanya, artinya masih ada hal lain setelah ini.


Mega tersenyum tipis, matanya beralih menatap wajah di dekatnya itu. Perlahan tangannya terulur menyentuh garis wajah lelaki di pangkuannya itu, menelusuri alis matanya yang tebal tertata rapi. Hidungnya yang mancung dan kumis tipis di atas lekuk bibirnya yang tipis.


Mega menahan napasnya saat Fajar membuka matanya, menarik tengkuknya dan secepat kilat mengecup bibirnya.


Cup ...


“Itu hukumannya kalau Kamu mengganggu tidurku,” ucap Fajar santai, kembali memejamkan matanya.


Wajah Mega memerah, menahan malu. Bagaimana bisa Fajar menciumnya di tempat terbuka seperti sekarang ini.


Warno dan Sri yang sudah kembali dari berbelanja, menghentikan langkahnya sejenak. Bersembunyi di balik pohon besar yang tidak terlihat oleh Fajar dan Mega.


“Heh, ngerti Aku Sri. Kenapa mas bos nyuruh kita beli baju ganti di luar, ternyata mau berduaan dengan bu dokter.” Warno mengintip dari balik pohon.


“Lah kan niatnya kemari memang mau ngajak kencan bu dokter,” sahut Sri cepat.


“Coba Kamu lihat, Sri. Mas bos modus, pakai rebahan di paha bu dokter segala.”


“Hilih, dadi wong kok keppoo tenan to yo.”


“Astaga, Sri!” Warno menutup matanya dengan dua jari. “Mas bos!”


“Opo seh,” sahut Sri penasaran, mengintip dari balik bahu Warno. Detik berikutnya dia tersenyum geli.


“Koen ngiri tah,” tanya Sri masih senyum-senyum sendiri.


“Ora!” sahut Warno cepat, “Mas bos wani juga yo, hihihi.”


“Yo wani lah, nggak koyok koen!”


“Kamu mau di sun kayak bu dokter, tah?” tanya Warno sambil tersenyum jahil.


“Wegahh! Ayolah, ngapain kita lama-lama di sini,” tanya Sri sebal. “ Aku laper, No.”


“Ya sudah, kita ke sana sekarang.”


Tidak lama kemudian mereka makan bersama, dan Fajar menyampaikan keinginannya untuk menikmati suasana di pantai itu bersama Mega hingga matahari terbenam.


“Kita melu yo mas bos,” ucap Warno.


“Oke, No. Lagi pula ini malam minggu, besok juga masih libur. Tidak ada salahnya menikmati waktu libur kita di sini.”


Hingga sore menjelang mereka habiskan waktu bersama, bergandengan tangan menyusuri tepi pantai. Menikmati debur ombak pantai, Fajar memeluk erat Mega. Berdua bersama memandang langit sore hari.


🌹🌹🌹