I Am Yours

I Am Yours
44. Bunda Rini



Mega menggigit kuku jarinya, berdiri gelisah di depan ruang tunggu penumpang di terminal. sudah lebih dari sepuluh menit bis yang membawa bunda Rini belum juga tiba.


“Bukannya tadi Kamu bilang bisnya sudah sampai terminal, kok belum kelihatan?”


“Iyaa. Tadi bunda bilangnya gitu di telpon,” jawab Mega sambil terus memperhatikan pintu gerbang terminal bis.


“Sudah, ngapain berdiri terus. Duduk sini!” Fajar menarik tangan Mega.


Mega menoleh sesaat, tangannya masih dalam genggaman Fajar.


“Biar berdiri aja, nanti nggak kelihatan kalau bunda datang.”


“Ish! Bisnya kan gede. Masa nggak kelihatan,” balas Fajar yang akhirnya ikutan berdiri di samping Mega.


Mega meringis mendengarnya, wajahnya menengadah menatap pria di sampingnya itu.


“Makasih ya, Mas. Sudah mau repot-repot nemanin Aku jemput bunda,” kata Mega tersenyum tulus.


“Yaa,” jawab Fajar sambil tersenyum balas menatap wajah Mega, untuk beberapa saat lamanya keduanya terdiam dan hanya saling menatap dengan tangan masih saling menggenggam.


Brreeemm, Jjeesssss.


Mega mengalihkan pandangannya saat mendengar suara derum kendaraan besar memasuki pelataran terminal.


Bis itu berhenti tepat di seberang jalan, tidak berapa lama pintunya terbuka dan penumpang pun mulai turun satu persatu.


Mega menatap lurus ke depan, memindai setiap penumpang yang turun dari dalam bis.


“Itu sepertinya bunda Rini,” ucap Mega saat melihat seorang wanita paruh baya memakai gamis lebar, turun dari dalam bis sambil menenteng tas besar di pundaknya.


“Bundaaa!” seru Mega memanggil bunda Rini, sehingga wanita itu pun mengangkat wajahnya.


Dengan tak sabar dan tergesa, Mega melepaskan genggaman tangan Fajar lalu berlari ke arah bunda Rini.


“Eh! Yank, jangan lari.” Fajar terkejut dan langsung ikut berlari menyusul Mega di belakangnya.


Bunda Rini menoleh, tersenyum lebar. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menyambut Mega dan merangkumnya dalam pelukannya.


“Bundaa.” Mega memeluk erat pinggang bunda Rini.


“Bunda kangen banget sama Kamu,” ucap bunda Rini kemudian, sambil menangkup wajah Mega dan mengusap pipinya lembut. “Gimana kabarmu, ayah mama Kamu juga gimana kabarnya. Sehat-sehat semua kan?”


“Alhamdulillah, sehat semuanya bunda.”


“Syukurlah, Bunda bawain oleh-oleh makanan kesukaan Kamu sama manisan juga buat mama Kamu.”


“Bunda bawain makanan kesukaan Aku?” ucap Mega dengan mata berbinar yang dibalas dengan anggukan kepala bunda Rini.


“Ekhemm!”


Keduanya pun menoleh pada Fajar. Lelaki itu sedari tadi terus saja memperhatikan Mega yang tengah berbincang, membiarkan wanita itu melepas rindunya pada bundanya.


Bunda Rini menatap Fajar lalu beralih pada Mega, melihatnya dengan sorot mata bertanya yang terlihat jelas.


“Siapa itu, kok nggak langsung dikenalin sama Bunda?” tanya bunda Rini setengah berbisik di telinga Mega.


Mega tersipu malu dan langsung melepaskan pelukan tubuhnya. “Teman Mega, Bunda.”


“Teman biasa atau teman dekat?” goda bunda Rini.


“Ish Bunda. Bentar juga Bunda pasti tau kok,” sahut Mega dengan pipi merona.


Masih dengan memeluk pinggang bunda Rini, Mega mengenalkannya pada Fajar yang langsung saja mengulurkan tangannya.


“Maaf ya, Nak Fajar. Bunda sampai lupa kalau ada temannya Mega di sini,” ucap bunda Rini, tersenyum menyambut uluran tangan Fajar.


“Nggak apa-apa Bunda, sudah lama tidak bertemu. Ega pasti kangen sama bundanya,” sahut Fajar.


“Oh ya, barang Bunda yang lainnya mana?” tanya Fajar. Sempat didengarnya bunda Rini menyebut oleh-oleh makanan kesukaan Mega, tapi dilihatnya bunda Rini hanya membawa tas besar yang berada di pundaknya.


“Masih di bagasi, satu buah koper sama dua kardus berisi makanan.” Bunda Rini lalu meminta pada kernet bis untuk menurunkan barang bawaannya.


“Kalau begitu, biar Saya ambil mobil dulu. Kalian tunggu di sini saja,” ucap Fajar setelah menurunkan barang bawaan bunda Rini, setelah itu ia pun bergegas mengambil mobilnya.


“Bagaimana dengan pekerjaanmu di sini?” tanya bunda Rini setelah beberapa saat Fajar pergi.


“Alhamdulillah, lancar Bunda. Mega senang sekali, keberadaanku di puskesmas desa ini benar-benar dibutuhkan warga.”


“Pastinya Kamu disibukkan dengan banyaknya pasien yang datang berobat setiap harinya,” ucap bunda Rini sambil mengusap rambut Mega.


“Nggak tiap hari juga ramai pasiennya, Bun. Ada kalanya dalam sehari hanya ada lima sampai sepuluh pasien saja. Terkadang warga yang datang ke puskesmas bukan hanya untuk berobat saja. Tapi untuk konsultasi kesehatan,” jawab Mega.


“Lalu bagaimana dengan kehidupan pribadimu?”


Mega sejenak terdiam, lalu menatap dalam mata bunda Rini.


“Sampai sejauh ini kehidupan pribadi Mega baik-baik saja, Bunda.” Mega menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya, ia tahu apa yang dimaksudkan bundanya.


“Maksud Bunda, hubungan khusus dengan seorang pria yang istimewa menurut Mega. Apa Fajar orangnya?”


Mega tersenyum, “Di kota kan Mega nggak pernah punya teman khusus pria, Bun.”


“Itu artinya di tempat ini ada, dan laki-laki itu Fajar kan?”


“Ish, Bunda kok jadi kepo ih.” Mega tertawa.


“Bagaimana mau punya teman pria istimewa, kalau Kamu tidak pernah memberi kesempatan mereka untuk mendekatimu. Kamu selalu menjaga jarak, terlalu hati-hati. Setiap ada yang mendekatimu secara khusus, Kamu langsung berubah sikap dan menutup diri. Itu masalahnya!”


“Masa Mega seperti itu sih, Bun.”


“Apa Bunda harus menyebutkan nama mereka satu persatu biar Kamu ingat? Bagaimana dengan Dito yang selalu datang setiap malam Minggu ke rumah, dan rela menunggumu berjam-jam. Padahal Kamu sengaja menghindarinya dengan mengambil jam kerja lebih di rumah sakit.”


“Mega ngeri aja lihatnya, Bun. Orangnya agresif banget, suka takut sendiri. Jadi nggak nyaman kalau dekat-dekat sama dia” jawab Mega saat mengingat sosok Dito, lelaki yang pernah berusaha mendekatinya.


“Namanya juga lagi jatuh cinta, segala cara dilakukan untuk mendapatkan perhatianmu.” Bunda menepuk tangan Mega yang berada di pangkuannya. “Cobalah bersikap lebih hangat dan membuka diri pada mereka, jangan terlalu menjaga jarak.”


Mega hanya bisa tersenyum kecut, ia memang terang-terangan menjauhi Dito karena tidak nyaman dengan sikapnya.


“Bunda lihat Fajar laki-laki yang baik, dan sepertinya Kamu juga tidak terlihat takut berduaan dengan dia. Justru Bunda lihat Kamu nyaman berdekatan dengannya,” kata Bunda lagi.


Mega terdiam sesaat, mencoba menyimak semua ucapan bunda Rini padanya. Ya, Mega memang merasa nyaman berdekatan dengan Fajar. Sikapnya yang penuh perhatian, membuat Mega merasa aman dan terlindungi ketika bersamanya.


Saat Fajar keluar dari dalam mobilnya, melipat lengan kemejanya ke batas siku lalu membuka bagasi mobilnya dan mengangkat barang bawaan bunda Rini. Semua tidak luput dari perhatian Mega, matanya tak lepas mengawasinya dan terus memandangnya.


Fajar menutup bagasi mobilnya, berjalan memutar lalu membuka pintu mobilnya. “Ayo kita pulang,” ucapnya kemudian sambil tersenyum menatap kedua wanita di hadapannya.


Bunda Rini memegang lengan Mega, membuat wanita itu tersadar dan menoleh padanya.


Bunda Rini menganggukkan kepalanya dan tersenyum penuh arti pada Mega. “Kita pulang,” ucapnya kemudian.


Saat pandangannya bertemu dengan Fajar, sorot mata laki-laki itu menatapnya dengan penuh kasih. Senyum Mega pun mengembang.


🌹🌹🌹