I Am Yours

I Am Yours
10. Getah bening



“Capai?” tanya mas Rizky saat melihat Mega pulang dan langsung menghempaskan bokongnya di kursi teras depan rumahnya.


   “Dikit,” jawab Mega singkat sambil memejamkan matanya sejenak, duduk sambil berselonjor kaki.


   “Diajak jalan kemana saja tadi sama Pras. Mas kok nggak lihat dia pamitan,” tanya mas Rizky lagi sambil menuangkan teh di poci ke dalam cangkir yang ada di atas meja.


   “Kebun obat terus lanjut makan tempat bu Retno,” jawab Mega lalu membuka matanya, menarik kakinya malas. Duduk tegak hendak berdiri dengan kedua tangan masih bertumpu pada pegangan kursi.


   “Mas Pras langsung pulang tadi, sudah sore juga. Lagi pula mau pamitan sama siapa, lah wong nggak ada orang di rumah. Mega datang sudah sepi,” sahut Mega lalu mengambil gelas teh di atas meja dan langsung menyeruputnya.


   “Walah ini bocah! Teh punya Mas itu,” protes mas Rizky.


   “Minum dikit doang,” sahut Mega nyengir dan sukses mendapatkan pelototan mata dari mas Rizky.


    “Dah ah, mau mandi dulu. Makasih tehnya mas ganteng,” ucap Mega kemudian meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong, dan langsung ngeloyor pergi masuk ke dalam rumah.


   “Mas, mama sama ayah kemana?” tanya Mega dari balik pintu, dengan handuk di pundaknya.


   “Selametan di tempat bude Nurul, akiqah cucunya anak mas Dewo.”


   “Ooo.”


   “Lah, ngapain masih di situ!” mas Rizky mengerutkan alisnya melihat Mega masih berdiri di depan pintu. “Lepas magrib kita nyusul ke sana ya dek, nggak enak loh diundang tadi.”


   “Iya, mas. Kalau gitu Aku siap-siap dulu,” jawab Mega lalu bergegas membersihkan diri.


   Malamnya, dengan mengendarai mobil mereka berdua pergi menuju rumah bude Nurul yang letaknya berada di desa sebelah.


   Suasana hangat penuh kekeluargaan, sambutan ramah sang pemilik rumah membuat Mega betah berlama-lama di tempat bude Nurul. Apalagi setelah sekian lama tidak bertemu, banyak cerita yang ingin mereka dengar dari Mega.


   Dan mama Indri, dengan bangga bercerita tentang anaknya yang kini pulang kembali ke desanya dengan menyandang gelar dokter.


   Ada yang menarik perhatian Mega saat melihat seorang wanita muda yang duduk dengan kaki terentang di depan televisi, seperti menahan sakit di salah satu kamar yang ada di rumah bude Nurul.


   “Kebetulan sekali ada mba Mega,” suara bude Nurul berbisik di telinganya. “Siapa tau mba Mega bisa bantu,” imbuhnya lagi sambil memegang tangan Mega.


   “Ya bude,” Mega tersenyum ramah. “Kalau ada yang bisa Aku bantu, dengan senang hati pasti Aku bantu.”


   Bude Nurul lalu mengajak Mega masuk ke dalam kamar Sundari, wanita muda yang sedari tadi dilihat Mega tengah meringis menahan nyeri.


   “Sundari,” wanita itu menyebutkan namanya sambil tertunduk malu.


   “Mega,” kata Mega memperkenalkan dirinya.


   “Mba Mega ini seorang dokter, mumpung beliau ada di rumah kita jadi jangan sungkan untuk bertanya. Ayo Ndari, ceritakan sakitmu sama mba Mega ini.” Bude Nurul menyentuh tangan Sundari.


   Sundari lalu membuka roknya dan terlihat bagian pahanya terdapat benjolan seperti bisul dan membengkak. Demikian juga pada bagian dalam hidungnya mengalami hal sama hanya lebih menyerupai jerawat kecil.


   “Sakit mba, panas sama nyut-nyutan. Ditambah tadi pas pecah jadinya perih juga,” kata Sundari menceritakan sakitnya.


   “Jangan panik, Aku lihat ini bukan bisul. Kalau sudah pecah seperti ini nggak perlu pakai operasi segala macam. Malah mudah menyebar dan nanti tumbuh lagi,” Mega menenangkan.


   “Iya, mba. Saya tenang kok, dari pagi Cuma tiduran saja. Digerakkan tambah sakit.”


   “Sudah berapa lama bengkak seperti ini, dan sebelumnya apa sudah diobati?”


   “Sudah mba, dikasih salep dari puskesmas.”


   “Boleh Aku lihat salepnya?”


   Bude Nurul lalu mengambil salep yang ada di atas nakas dan menyerahkannya pada Mega.


   “Di desa kita ini banyak tanaman obat, daun sadagori salah satunya. Daun sadagori itu bisa menghilangkan rasa gatal sama nyeri pada bisulnya. Cepat kempes juga, dan dalam beberapa hari bisa langsung pecah juga. Nanti kelenjarnya nggak tumbuh lagi, bisa di kompres ke area hidung juga. Bisa juga pakai kunyit dan minyak pohon teh.”


   “Bisa juga cari di apotik telor kodok yang sudah dikeringkan. Biasanya di apotik ada itu, nanti dicampur air hangat sedikit saja, terus dikompres.”


   “Kelenjar? Maksudnya mba?” tanya bude Nurul heran.


   “Ya, ini bukan bisul tapi kelenjar getah bening. Getah bening mengalami pembengkakan. Getah bening banyak penyebabnya, bisa masuk kanker atau TBC kulit tergantung penyebabnya.  TBC tidak melulu di paru-paru, TBC kulit bisa menyerang luar kulit, bisa di organ dalam lain seperti di rahim, juga daerah sensitif pria atau wanita.” Mega menjelaskan panjang lebar.


   Tanpa Mereka sadari, banyak pasang mata dan telinga yang melihat dan mendengarkan penjelasan Mega dari balik pintu yang terbuka.


   “Sekarang bude bisa bantu Aku, tolong ambilkan air hangat larutkan garam, buat mba Sundari pakai untuk berkumur sebanyak lima kali. Dan kalau ada pereda nyeri bisa diminumkan.”


   “Tunggu sebentar bude ambilkan,” jawab bude Nurul lalu bergegas ke dapur. “Hei kenapa pada berdiri di sini, ayo masuk saja kalau mau lihat mba Mega periksa Sundari,” ajak bude Nurul pada tamunya yang tengah memperhatikan Mega menjelaskan.


   “Biar kami disini saja, bude. Sekalian belajar mumpung  ada mba dokter disini,” kata mereka menanggapi ajakan bude Nurul.


   “Silahkan kalau mau melihat mba Sundari,” ucap Mega kemudian.


   “Oh ya, apotik terdekat di desa kita ini ada dimana ya, bude. Kalau bisa beli obatnya, bukan salep karena ini bukan bisul.”


   “Lumayan jauh jaraknya mba Mega. Kalau nggak salah yang paling dekat itu yang letaknya di samping puskesmas desa kita,” jawab bude Nurul sambil membawa air larutan garam dalam wadah.


   “Lumayan jauh ya bude,” Mega tersenyum. “Silahkan berkumur,” katanya pada Sundari.


   Mega lalu melihat jam tangannya, berpikir sejenak. “Kalau mba mau menunggu, Aku bisa ambilkan obat pereda nyeri yang bisa mba minum. Kebetulan Aku bawa dan sekarang ada di rumah.”


   “Terima kasih banyak bu dokter, dengan senang hati Saya mau menunggu.” Sundari memegang erat tangan Mega dengan mata berbinar, tersirat rasa terima kasih yang tulus dari matanya yang kini mulai berkaca-kaca.


   Mega balas memegang tangan Sundari, menganggukkan kepalanya lalu berpamitan.


🌹🌹🌹