I Am Yours

I Am Yours
26. Menjemputmu



“Kamu!”


   Mega membelalakkan matanya, mulutnya setengah terbuka, terkejut melihat kehadiran Bayu di dekatnya.


   Bayu menoleh, memiringkan badannya. Tertegun dan menatap Mega lama. Tas yang tadi berada di bawah kakinya dan hendak dipindah tempat, terlepas dari tangannya dan jatuh menimpa kaki Mega.


   “Aaduuhh!” Mega mengaduh, merasakan nyeri pada ujung jemari kakinya yang tertimpa tas Bayu.


   “Ma-maaf,” suara Bayu tersendat, ia lalu merendahkan tubuhnya dan meraih tasnya kembali dan menaruhnya di pangkuannya.


   “Sakitt Bayyuu!” desis Mega menyebut nama Bayu sembari menyentuh ujung jari kakinya.


   “Maaf.”


   Untuk kedua kalinya Bayu meminta maaf, ingin rasanya ia menyentuh dan mengusap kaki Mega yang terlihat memerah seperti dulu lagi. Tapi hal itu tidak mungkin ia lakukan, mengingat keadaan mereka sudah jauh berbeda.


   Beberapa saat keduanya kembali terdiam. Seperti halnya Mega, Bayu juga tampak terkejut dan tidak menyangka akan bertemu dengan Mega di dalam satu kendaraan bis yang sama.


   Mungkin tujuan perjalanan mereka juga sama pula, karena hanya bis ini satu-satunya kendaraan yang akan membawa mereka berdua pulang kembali ke desanya. Untuk ke sekian kalinya, Bayu kembali hanya menatap bengong pada Mega.


   “Kenapa Kamu bisa ada di sini? Sana jauh-jauh duduknya,” ucap Mega pada Bayu setelah mampu menguasai dirinya kembali.


   Ingatan tentang luka masa lalu yang kembali hadir, mempengaruhi sikap Mega pada Bayu. Ia terang-terangan menolak berdekatan dengan lelaki itu.


   “Hm, kumat! Rupanya belum sembuh juga penyakitmu yang satu itu,” cetus Bayu menanggapi ucapan Mega. “Aku sedang ada urusan di kota.”


   “Bukannya Kamu juga tahu, kalau hanya bis ini satu-satunya kendaraan yang akan membawa kita pulang ke desa. Lagi pula, hanya kursi ini satu-satunya yang masih kosong dan tersisa.” Bayu setengah bergumam.


   Mega lalu mengedarkan pandangannya, melihat bis yang padat penumpang. Ia menghela napas berat saat menyadari kebenaran ucapan Bayu.


   “Suka atau tidak suka Kamu ya harus tetap terima,” ucapnya lagi sambil melirik Mega yang menatapnya dengan sorot mata tak suka.


    Saat bis bergerak meliuk, spontan Mega berpegangan kuat pada kursi yang ada di depannya. Dan setelah jalan kembali datar, Mega menarik kakinya dan bergeser menjauh, merapatkan tubuhnya pada dinding bis yang dingin.


   Sepanjang perjalanan, Mega lebih banyak menatap ke luar kaca jendela. Bayu yang berusaha mencairkan suasana dengan mengajaknya berbicara tidak dihiraukannya.


   “Terima kasih Kamu sudah kembali pulang dan baik-baik saja,” ucap Bayu yang membuat Mega menoleh padanya.


   “Terima kasih karena Kamu tetap tegar dan kuat, dan berhasil melewati ini semua. Dan Kamu berhasil mewujudkan cita-citamu. Maaf, sudah membuatmu terluka.” Bayu menatap dalam mata Mega, ia tulus meminta maaf.


   Mega memalingkan wajahnya, ia sebenarnya ingin mendengar alasan kenapa Bayu lebih memilih menikahi Alya ketimbang menunggunya pulang, dan mengingkari janjinya.


   “Aku yang tidak bisa setia pada satu hati, jarak dan waktu ternyata membuatku tidak mampu bertahan dan melupakan janjiku padamu. Maaf, Aku tahu tidak mudah bagimu untuk memaafkan perbuatanku.” Bayu menghentikan sejenak bicaranya, menarik napas dalam.


   “Kehadiran Alya mampu mengobati rinduku padamu, sampai pada akhirnya kami melakukannya.” Bayu memandang wajah Mega, ia harus mengungkapkan semuanya pada Mega. Karena ini waktu yang tepat untuk menceritakannya.


   “Cukup! Aku nggak mau dengar lagi.” Mega menutup telinganya, setitik air mata jatuh membasahi pipinya.


   Ia sudah mendengar itu semua dari orang tuanya, dan Mega bisa menerima alasan itu hingga saat ini. Tapi mendengar langsung pengakuan dari mulut Bayu seperti ini, masih saja membuat hatinya sakit dan luka itu kembali berdarah.


   “Maaf.” Bayu mengulang kembali ucapannya.


   Mega semakin merapatkan tubuhnya pada dinding, dengan tangan gemetar dibukanya sedikit kaca jendela bis. Membiarkan angin sejuk masuk menyentuh tubuhnya, mungkin dapat mendinginkan hatinya yang panas.


   Lambat laun, mata Mega mulai mengantuk dan tidak lama kemudian Mega pun tertidur.


   Bayu tersenyum saat melihat kepala Mega mulai menunduk dalam. Saat bis melaju kencang di jalan yang kembali berkelok, tubuh Mega ikut bergerak ke samping dan kepalanya jatuh menyentuh pundak Bayu.


   “Huffhh,” Bayu menahan napas, melirik pada Mega yang masih tertidur. Ia memajukan tubuhnya sedikit, lalu menahan kepala Mega agar tidak terjatuh dan tetap nyaman bersandar padanya.


   “Maafkan aku karena telah membuatmu kecewa dan terluka,” bisiknya dalam hati.


   Hanya tinggal beberapa kilo meter lagi, bis akan tiba di terminal kota. Mega terbangun dan mengerjapkan matanya. Saat disadarinya kepalanya masih bersandar pada bahu Bayu, sontak Mega menegakkan tubuhnya.


   Diusapnya wajahnya perlahan, dan dengan gerakan pelan dibetulkannya rambutnya yang berantakan dengan jarinya.


   “Lumayan pegal,” sindir Bayu sambil menggerakkan lengannya memutar. Ia sudah kembali dan bersikap biasa lagi pada Mega. “Nyenyak sekali tidurmu, sampai-sampai bis berhenti pun Kamu tidak terbangun.”


   Mega hanya memutar bola matanya, malas untuk menjawab. “Masalah buatmu!” gumam Mega pelan.


   “Bukan mauku, Kamu tidak perlu berpura-pura baik padaku.”


   “Apa Kamu tidak bisa bersikap lebih ramah sedikiiitt saja padaku?”


   Mega tersenyum masam, lalu menatap tajam wajah lelaki di sampingnya itu.


   “Ramah! Huh, setelah semua pengkhianatan yang kamu lakukan padaku. Dan kamu masih memintaku untuk bersikap ramah padamu,” ucap Mega dalam hati.


   “Kompres saja pundaknya, nanti juga hilang pegalnya.” Mega menjawab cepat. “Atau minta pijat saja sama istrimu nanti. Pasti langsung hilang pegalnya,” ucap Mega lagi, kali ini hanya dalam hati.


   “Astaga! Aku lupa kalau Kamu seorang dokter. Terima kasih sarannya bu dokter, akan Aku lakukan.”


   “Begitu lebih baik,” ucap Mega kemudian.


   Bis telah memasuki terminal kota, Mega bersiap-siap turun. Saat ia berdiri dan hendak melewati Bayu, lelaki itu mencekal pergelangan tangannya.


   “Mega, terima kasih Kamu sudah mau duduk bersamaku dan mendengarkan Aku bicara.” Bayu menatapnya dalam, di kedua bola matanya tersirat penyesalan dan permohonan maaf.


   Mega termangu, ia terdiam sesaat. Mengingat Alya yang tengah mengandung tua dan sangat mencintai Bayu sejak dulu. Melihat sahabatnya itu tertawa bahagia bersama keluarga kecilnya, sudah cukup menyadarkan Mega kalau mereka berdua memang tidak jodoh. Bayu dan Mega bukan pasangan yang sebenarnya.


   Seolah beban berat lepas terangkat dari dadanya, saat teringat pada sahabatnya itu. Perlahan Mega melepas pegangan tangan Bayu, ia mencoba tersenyum. “Jaga baik-baik kandungan Alya, jangan biarkan dia stres atau kelelahan. Sampaikan salamku padanya,” ucap Mega tulus.


   Mega turun dari bis dan mengambil barang bawaannya yang tersimpan di bagasi. Saat ia berbalik, hampir saja ia bertubrukan dengan tubuh tegap yang mulai dikenalnya dengan baik. Lelaki itu tersenyum menatapnya.


   “Halo,” sapanya ramah dengan senyum masih tersemat di bibirnya.


   “Mas Inug?” ucapnya terkejut melihat kehadiran Fajar. “Sudah sehat?”


   “Seperti yang Kamu lihat, Aku sehat berkat pertolongan darimu.”


   “Syukurlah kalau begitu,” jawab Mega. “Mas sedang apa di sini, mau jemput seseorang atau gimana?” tanya Mega kemudian mengingat ada Bayu yang juga berada satu bis dengannya.


   “Menjemputmu.”


   “Kok? Dari mana mas Inug tahu kalau Aku pulang hari ini,” tanya Mega heran.


   “Rahasia!” ucapnya kembali tersenyum.


   “Eh, kenapa begitu?” Mega penasaran.


   Mengenal lebih dekat selama beberapa hari saja, membuat Mega melihat banyak perubahan pada Fajar. Lelaki itu kini lebih banyak tersenyum dan lebih bersikap ramah padanya.


   “Mas, Aku langsung ke perkebunan ya. Sekalian buat laporannya,” sela Bayu yang muncul tiba-tiba.


   “Satu jam lagi Aku nyusul ke sana, Bay. Tolong Kamu atur dulu supaya hasil panennya bisa langsung dimuat di mobil,” ujar Fajar pada Bayu.


   “Oke, Mas. Aku jalan dulu,” ucap Bayu lagi lalu meninggalkan mereka berdua.


   “Aku pikir Mas mau jemput Bayu,” ucap Mega pelan.


   “Bayu menitipkan motornya di sini. Setelah dia pulang kembali dari kota, motor dia ambil lagi.” Fajar menjelaskan.


   “Oh, begitu.”


   “Ya, memang begitu.” Fajar tertawa kecil.


   “Ayo Aku antar Kamu pulang,” ucapnya kemudian, lalu membantu membawa barang bawaan Mega.


   “Sepertinya Mas sibuk dan ditunggu kehadirannya di perkebunan. Aku bisa pulang sendiri naik angkot atau ojek. Silahkan Mas lanjut kerjanya saja,” tolak Mega halus.


   “Aku kemari memang ingin menjemputmu, Ega. Begini saja, bagaimana kalau Kamu ikut ke perkebunan? Kami sedang panen buah salak pondoh dan sayuran lainnya. Kamu mau?” ajak Fajar tiba-tiba.


   “Salak pondoh? Aku mau ikut ke perkebunan,” jawab Mega langsung bersemangat.


🌹🌹🌹