
Empat hari lamanya Mega sakit dan harus terikat di atas tempat tidurnya. Flu yang dideritanya memang cukup berat, demam dengan suhu tubuh yang tinggi.
Selama itu pula dokter Rendra rutin datang setiap hari ke rumahnya untuk memeriksa kesehatannya.
Hal itu membuat mama jadi bertanya-tanya, terlalu berlebihan menurut mama bila lelaki itu terus datang setiap hari.
Apalagi saat mama melihat Mega sudah bangun dan keluar dari kamar seperti biasa dan terlihat membaik kondisinya, dokter Rendra masih saja datang setiap hari hanya untuk sekedar memeriksa kesehatan Mega.
“Sudah pulang tamunya?” tanya Mama membuka tirai korden, bertanya dari balik pintu kamarnya.
Mega menghentikan langkahnya, menatap mama dengan alis bertaut.
“Tamu siapa, Ma?” Mega balik bertanya.
“Itu dokter Rendra,” sahut mama lalu keluar kamar, berjalan ke meja makan lalu duduk sambil menuang air putih ke dalam gelas.
“Oh, dokter Rendra. Sudah pulang barusan,” jawab Mega lalu menarik kursi dan duduk berhadapan dengan mamanya.
“Apa memang harus seperti itu, totalitas seorang dokter dalam merawat pasiennya?” Mama bertanya lagi pada Mega.
“Dokter Rendra hanya ingin memastikan apa Mega sudah lebih baik atau tidak, Ma. Itu saja,” jawab Mega sambil mengulas senyum.
“Maksud Mama, apa harus setiap hari datang memeriksa keadaan Kamu? Di luar sana banyak loh yang terkena penyakit yang sama sepertimu, Nak. Bahkan mungkin lebih berat keadaannya ketimbang yang Kamu alami saat ini,” ucap mama lagi.
“Iya, Ma. Memang lagi banyak yang terkena penyakit influenza seperti yang Mega alami saat ini,” jawab Mega membenarkan ucapan mamanya.
“Yang jadi pertanyaan Mama, kenapa dokter Rendra memeriksa keadaan mereka yang sakit sama sepertimu, cukup hanya di puskesmas saja. Sedangkan perlakuannya padamu jelas terlihat berbeda, bahkan saat sudah sembuh sekalipun dokter Rendra masih saja datang memeriksa.”
“Mungkin karena kita rekan kerja, jadi Mega dapat perlakuan yang istimewa dari dokter Rendra.”
Mama menggeleng sambil tersenyum, “Sepertinya bukan karena alasan yang Kamu sebutkan barusan, Nak. Percaya sama Mama, bukan karena hal itu.”
“Maksud Mama?”
Mama kembali tersenyum, lalu berkata, “Jika hatimu sudah mantap menentukan pilihan hanya untuk nak Fajar seorang, jangan biarkan orang lain datang dan mengacaukan perasaan tulusmu. Jangan membuat orang lain salah mengartikan sikap baikmu dan berharap sesuatu yang lebih dari hal itu. Anak Mama pasti paham maksud ucapan Mama barusan, hem?” Mama memundurkan kursinya dan bangkit berdiri, hendak kembali ke kamar.
Mega terdiam sesaat lamanya, berusaha mencerna semua ucapan mamanya barusan. Ia tidak pernah mengira bahkan berpikir pun tidak, kalau dokter Rendra melakukan semua hal padanya selama ini karena ada maksud lain.
“Ma,” panggil Mega, saat mamanya berjalan melewatinya.
“Apa dokter Rendra melakukan semua itu karena dia menyukai Mega? Apa benar seperti itu, Ma?”
“Sudah siang, sebaiknya Kamu makan dulu. Jangan lupa minum obatnya, biar benar-benar pulih.” Mama mencium pucuk kepala Mega, lalu mengusap bahunya perlahan.
“Iya, Ma.”
“Mama yakin, anak Mama bisa bersikap tegas tanpa harus menyakiti hati orang lain.” Mama tersenyum lembut.
“Iya, Ma.” Mega balas tersenyum.
Mengingat percakapan sebelumnya dengan mamanya, Mega mengatakan pada dokter Rendra kalau ia sudah benar-benar sehat dan lelaki itu tidak perlu memeriksanya lagi. Dan lusa Mega sudah bisa bekerja seperti biasa lagi.
“Terima kasih karena sudah bersedia merawat Saya dokter, sekarang Saya sudah sembuh.”
“Syukurlah kalau begitu. Saya senang mendengarnya,” sahut dokter Rendra lega.
Sekilas diliriknya wanita di hadapannya itu, kulit pipinya mulai kemerahan dan terlihat segar. Sepertinya Mega benar-benar sudah pulih, gumamnya dalam hati.
Rendra lalu memilih untuk duduk di bangku teras rumah, sementara Mega dan Yola tengah sibuk di dalam.
“Wah, sedang ada tamu rupanya.” Fajar tiba-tiba saja muncul di ambang pintu teras rumah Mega.
“Mas, kapan datang?” tanya Rendra sambil berdiri menyambut uluran tangan Fajar.
“Barusan tadi, dari bandara langsung saja pulang kemari. Kangen,” ucap Fajar sambil tersenyum lebar, ia baru saja tiba setelah beberapa hari lamanya menginap di luar kota karena urusan pekerjaan.
Matanya mulai memindai melihat sekeliling ruangan mencari kehadiran seseorang.
“Sudah lama datangnya, Dra.” Fajar bertanya sambil terus melihat ke dalam rumah.
“Kurang lebih setengah jam yang lalu,” sahut Rendra.
“Lumayan lama juga. Kamu nggak tugas di puskesmas?”
“Siang seperti biasa jam 2,” jawab Rendra. “Tuan rumahnya sedang berada di dalam bareng Yola,” kata Rendra menyadari arti pandangan mata Fajar.
“Pantas saja tidak kelihatan dari tadi,” gumamnya meski terdengar begitu jelas di telinga Rendra.
Fajar lalu mengetik pesan singkat di ponselnya, tidak berapa lama kemudian Mega keluar dari dalam rumah.
“Mas, kok nggak kasih kabar duluan kalau mau datang.” Mega keluar dengan membawa nampan berisi minuman di tangannya.
Matanya berbinar melihat kehadiran Fajar di dekatnya, sementara Rendra hanya tersenyum tipis melihat kedekatan kedua orang di depannya itu.
“Silahkan diminum, dokter. Wedang jahe masih anget,” ucap Mega.
“Aku mau juga dong, yank. Buatin satu lagi,” sela Fajar.
“Iya bentar Aku buatin,” sahut Mega. “Masuk ke dalam yuk, sudah disiapin makan siang. Dokter, kita makan sama-sama. Bareng sama ayah di dalam,” ajak Mega pada Rendra.
“Ayo, pas banget waktunya.” Fajar terkekeh, ia langsung berdiri dan berjalan beriringan dengan Mega menuju meja makan sambil memegang bahu Mega.
Rendra menghela napas dalam, antara keinginan untuk menolak karena harus satu meja makan dengan Fajar dan Mega di dalam sana, dan rasa sungkan pada ayah Mega yang sedari tadi sudah mengajaknya makan siang bersama.
🌹🌹🌹