
Siang itu Mega masih berada di dapur rumahnya, dibantu dengan Sri sibuk membuat adonan kue untuk diberikan pada tetangga sebelah rumah yang baru saja melahirkan anaknya.
Meski dengan perut besar karena usia kehamilannya yang sudah memasuki bulan ke sembilan dan tinggal menunggu hari saja, tapi bumil yang satu ini masih tetap sigap mengerjakan setiap pekerjaan yang dilakoninya.
Tidak ada keluhan yang berarti selama masa kehamilannya, Mega bahkan tidak merasakan ngidam seperti perempuan kebanyakan. Biasa saja, hamil tidak membuat aktivitasnya terhambat.
Seperti saat ini, meski Fajar sudah menyarankan untuk membeli saja kue di luar tapi Mega menolaknya dengan alasan ia ingin mencoba membuat resep kue yang baru saja dipelajarinya.
“Mas katanya mau cuci mobil, kenapa masih di sini?” tanya Mega, dengan tangan sibuk menata adonan kue di atas meja.
“Nggak jadi, biar Warno saja yang cuci.”
“Dih, kok gitu. Mas Warno bukannya ada kerjaan lain?” tanya Mega lagi.
“Hmm, biarin.”
Mega tersenyum, melirik sekilas pada suaminya itu yang duduk sambil bertopang dagu terus mengawasinya.
“Tinggal masukkan ke oven, resep pertama selesai.” Mega lalu menyerahkan wadah kue yang sudah terisi penuh adonan pada Sri yang langsung memasukkannya ke dalam oven. “Lanjut resep kedua.”
“Kali ini biar saya saja yang mengerjakannya, bu dokter duduk saja.” Sri langsung meraih mixer di tangan Mega, dan membereskan peralatan yang tersisa.
Mega terkekeh melihatnya, ia berjalan kembali ke arah rak kaca besar dan mengambil wadah kue yang baru.
“Dengar ya, Sri. Ibu hamil itu harus banyak gerak apalagi mau lahiran gini. Biar lancar pas hari H nya,” ucap Mega berjalan sambil melirik pada Fajar.
Sudah sejak tadi suaminya itu duduk di sana melarangnya untuk mengerjakan apa-apa, karena takut wanitanya itu kelelahan. Tapi Mega tidak mengindahkannya, ia malah tertawa dan dengan sengaja menggoda suaminya itu. Dan dengan cueknya menggerakkan pinggangnya sesekali menjentikkan jarinya mengikuti irama musik yang diputarnya.
“Yank, duduk dulu. Kamu nggak capek apa dari tadi bolak-balik kayak gitu, udah biar Sri aja yang selesaiin bikin kuenya.” Fajar ngeri melihat istrinya itu bolak-balik berjalan di depannya dengan perut besarnya.
“Ish, dari tadi protes terus.” Mega berkacak pinggang, bibirnya mengerucut sebal melihat sang suami terus saja menyuruhnya berhenti.
“Aku takut Kamu kelelahan, yank. Nurut ya?” Fajar menangkup wajah Mega, menatapnya dengan sorot mata khawatir yang terlihat jelas.
Mega menarik napas, balas menatap Fajar. “Dikiiit lagi, selesai Aku pasti berenti terus istirahat.”
Fajar menoleh pada Sri lalu dengan matanya ia memberi kode untuk menyelesaikannya. “Sri, ambil alih semuanya!” perintahnya tegas lalu menghela bahu Mega dan membawanya ke luar dari sana.
“Biar saya saja yang menyelesaikan sisanya. Bu dokter silah kan istirahat,” ucap Sri cepat-cepat mengambil alih pekerjaan Mega.
“Jangan sampai salah adonan ya, Sri. Pakai coklat yang sudah Aku cairkan tadi, dan ... Mas eh!” Mega masih sempat bersuara sebelum lengan kuat Fajar meraih tubuhnya dan menggendongnya masuk ke dalam kamar mereka.
“Siap bu dokter!” terdengar sahutan Sri, sebelum Fajar menutup pintu kamar.
“Istirahat, tidur!” ucap Fajar tak mau dibantah.
“Nggak ngantuk gimana bisa tidur, sayang?”
“Aku temenin!”
Fajar lalu merebahkan dirinya di samping Mega, “Coba pejamkan matanya, Aku nyanyiin ya.”
“Hem.” Mega tersenyum mendengarnya, ia merapatkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya.
Fajar mengusap lembut perut Mega, tidak lama kemudian terdengar nada lembut mengalun dari bibirnya.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja, wanitanya itu sudah terlelap. Ia tersenyum lalu mengecup sayang kening Mega lama, lalu turun pada perut wanitanya.
“Sehat terus ya sayang,” bisiknya sebelum turun dari ranjang.
Fajar keluar dari kamarnya dan menyelesaikan rencananya yang tertunda karena sedari tadi sibuk mengawasi istrinya itu di dapur.
Beberapa jam kemudian, aroma wangi kue menguar dari dalam dapur rumah Fajar. Membuat lelaki yang tengah sibuk mencuci mobil di depan rumahnya itu seketika meneguk liurnya.
“Wanginya,” gumamnya, lalu menoleh pada Warno yang sedang menyiangi tanaman obat di halaman samping rumahnya.
Fajar mematikan kran, menggulung selang dan menaruh di tempatnya semula. Ia kemudian berjalan mendekati Warno.
“No, jangan dibuang rumputnya itu. Masukkan saja dalam karung, taruh di bawah pohon jambu sebelah sana.”
“Mau dibuat apa, mas bos. Tanaman pengganggu gini, Aku pikir tadi daun kucai ternyata rumput liar.”
“Kompos Warno, bisa dijadikan pupuk tanaman.” Fajar mengambil karung berisi tanah hitam dan menumpahnya di ember besar, lalu menyerahkannya pada Warno.
“Pakai ini buat taruh rumput dan daun kering, lalu tambahkan tanah hitam ini di setiap pot tanaman. Aku mau ke dalam dulu,” ucap Fajar beranjak masuk ke dalam rumah.
“Siap mas bos!”
“Kok sudah bangun, yank?” Fajar mengambil kursi dan duduk di dekat Mega berdiri.
Mega meringis, “Iya, kebangun tadi terus langsung ke sini.”
“Hmm.”
Mega tersenyum, lalu mengambil potongan kue di atas piring dan menawarkan pada Fajar untuk mencicipinya.
“Enak?”
Fajar mengangguk sambil mengangkat jempolnya. “Enak banget.”
“Suka?”
Fajar kembali menganggukkan kepalanya, “Suka banget.”
“Kalau enak, terus Mas juga suka. Besok kita buat lagi ya,” ucap Mega tersenyum penuh arti.
“Uhuk!” Fajar terbatuk seraya menggelengkan kepalanya. “Aku nggak mau lihat Kamu capek buat kue ini lagi, cukup sekali ini saja.”
“Aku nggak capek kok, apalagi tau kalau Mas suka. Bentar Aku ambilin minum,” ucap Mega terkekeh, lalu berbalik mengambil gelas di atas rak.
“Aduh!” Mega mengaduh setengah menundukkan badannya sambil memegang bagian bawah perutnya. Ia mulai merasakan kontraksi lebih sering dan lebih cepat dari pada yang sebelumnya. Mega mulai mengatur napasnya, dan perlahan sakit itu berangsur menghilang.
“Yank!”
Fajar terbelalak melihat cairan bening mengalir deras dari kedua kaki Mega.
“Kamu ngompol, yank?” Fajar menatapnya tak percaya menatap lantai di bawahnya.
Mega menunduk mengikuti arah pandang mata suaminya itu.
“Bukan ngompol Mas, air ketubanku sudah pecah. Tolong, Mas sekarang ambilin handuk!” perintah Mega tanpa beralih dari tempatnya berdiri saat itu.
“I-iya, Aku ambilin. Tapi Kamu nggak apa-apa kan, yank?” ucap Fajar terlihat khawatir.
“Aku nggak apa-apa.” Mega mengangguk, lalu lelaki itu berlalu cepat mengambil apa yang diminta Mega dan kembali dengan membawa handuk besar di tangannya dan langsung menyerahkannya pada Mega.
Mega lalu menaruh handuk itu di bawah kakinya, setelah beberapa saat lamanya air di kakinya pun berhenti mengalir.
“Mas siapin mobil, kita berangkat ke rumah sakit.” Ucap Mega lagi, ia lalu mengelap lantai di dekat kakinya tadi.
Mega mulai bersiap dan mengganti pakaiannya, ia berusaha tetap tenang meski dalam hatinya berdegup kencang menyadari persalinan dirinya sudah dekat.
Sri datang tergopoh-gopoh dari rumah sebelah, lalu bergegas mengeluarkan tas besar dari dalam kamar Mega yang sudah disiapkan jika sewaktu-waktu Mega akan melahirkan.
“Apa bu dokter baik-baik saja?” tanya Sri melihat Mega yang terlihat tenang saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.
“Aku baik-baik saja, Sri. Doakan persalinanku lancar ya, Sri.”
Sri menggenggam erat tangan Mega, tak terasa air matanya menetes. “Pasti bu dokter, doa terbaik untuk bu dokter. Semoga dimudahkan, dilancarkan persalinannya dan bu dokter juga adik bayinya selamat dan sehat.”
“Amin.”
“Aku sudah kabari ayah juga mama, sebentar mereka menyusul kita bersama mas Rizky ke rumah sakit.” Fajar menatap Mega dari balik kaca spion di depannya.
Mega terkekeh saat melihat suaminya itu terlihat gugup, Sri yang menangis, dan Warno yang kali ini lebih banyak diam duduk di kursi depan.
Hingga tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Fajar bergegas keluar menuntun Mega berjalan ke lobi rumah sakit.
“Hei, jangan pada tegang gitu dong. Biasa saja, Aku yang mau melahirkan kenapa kalian yang malah tegang?”
“Sayang!” ucap Fajar dengan tangan gemetar. “Aku ambilin kursi roda ya biar Kamu nggak capek jalannya.”
“Nggak usah, justru Aku harus banyak gerak Mas.”
Tidak lama kemudian kedua orang tua Mega datang bersama Rizky kakaknya, sementara Mega sedang diperiksa dokter di dalam ruangan.
Beberapa saat menunggu, Mega keluar ditemani Fajar. Dokter mengatakan pembukaan masih terlalu awal.
Mama yang melihat Mega langsung datang menghampiri dan memeluknya erat. Pertahanan diri Mega runtuh seketika dan dokter muda itu menangis di pelukan mama, apalagi saat mama membisikkan banyak doa ditelinganya.
🌹🌹🌹