I Am Yours

I Am Yours
21. Sakit



Mega menatap lelaki di hadapannya itu, terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Entah kesalahan apalagi yang sudah dibuatnya, hingga lelaki itu datang dengan wajah marah dan seperti sedang menahan emosinya.


   Kulit wajahnya kemerahan dan mata itu sesekali mengerjap cepat. Detik berikutnya Fajar menggelengkan kepalanya kuat sambil mendesis memegang keningnya seperti menahan nyeri.


   Mega menautkan alisnya, heran melihat tingkahnya. Kalau Fajar datang hanya ingin bersitegang dengannya, ia sudah siap menghadapinya.


   “Berhenti menatapku seperti itu!” ucapnya dengan kening bertaut.


   Nah, kan! Kebiasaan suka marah-marah nggak jelas, rutuk Mega dalam hati.


   “Kalau datang cuma buat marah-marah, mending balik aja deh. Di sini puskesmas, tempat dokter dan pasien bertemu. Lagi pula sudah jam makan siang, Aku mau istirahat!” ucap Mega cepat lalu berjalan melewati Fajar yang masih berdiri di ambang pintu.


   GREPP!


   Fajar mencekal lengan Mega, menahan langkahnya sementara sebelah tangannya bersandar pada dinding di sampingnya. “Tolong,” desisnya pelan.


   Mega menghentikan langkahnya, merasakan hawa panas dari tangan Fajar di lengannya. Mengikuti nalurinya, Mega berbalik dan tanpa sadar tangannya terulur begitu saja memegang dahi Fajar seperti hendak mengukur suhu tubuhnya. Lalu kemudian meletakkan tangan itu di dahinya mencoba membandingkan dengan suhu tubuhnya sendiri.


  “Mas Fajar sakit? Badannya panas sekali,” tanya Mega kemudian.


   “Pusing,” sahut Fajar kemudian.


   Ia melepas pegangan tangannya di lengan Mega, lalu menarik kursi di depannya sambil sedikit menundukkan wajahnya. Tubuh tegap itu terlihat lemas dan seperti kehilangan tenaganya.


   Mega lalu kembali ke bangkunya, duduk sambil menatap wajah lelaki di hadapannya itu. Bibirnya pucat dan wajahnya yang kemerahan itu ternyata karena suhu tubuhnya yang tinggi.


   “Maaf mengganggu jam istirahatmu, tapi Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Tadi di perkebunan juga hampir pingsan, makanya Aku langsung secepatnya datang kemari.” Fajar mengangkat wajahnya, balas menatap Mega.


   Mega menghela napas, lalu mengambil alat pengukur tekanan darah dan meminta Fajar untuk mengulurkan tangannya.


   “Terlalu giat bekerja, kehujanan, dan berpanas-panas di bawah terik matahari. Orang kuat dan sehat seperti dirimu bisa kalah oleh penyakit hanya karena terlalu lelah bekerja,” ucap Mega memasang manset di lengan Fajar yang terbuka dan mulai memompa tekanan darahnya.


   “Sepertinya Kamu tahu banyak tentang diriku selama ini,” ucap Fajar menarik sudut bibirnya, tatapannya melembut saat mendengar nada suara Mega. “Selama ini Aku memang terus menerus bekerja, terkadang seharian penuh berada di lapangan.”


   DEG!


   Mata itu, kenapa menatapnya seperti itu. Dan kenapa juga dadanya jadi berdebar seperti ini, gumam Mega dalam hati.


   Ia hanya sekedar menyampaikan pendapatnya karena yang dia tahu selama ini, Fajar selalu disibukkan dengan pekerjaannya hingga kurang memperhatikan kesehatan dirinya sendiri.


   “Berapa tekanan darahnya, dokter?” tanya Fajar setengah meringis saat merasakan tekanan kuat di lengannya.


   “Ya? Eh, maaf.” Mega tersadar, rona merah menjalar di pipinya saat menyadari tangannya masih berada di lengan Fajar.


   “Sedikit tinggi,” jawab Mega lalu menyebutkan angka yang tertera di meteran penunjuk dan dengan segera melepas manset di lengan Fajar.


   “Apa ada keluhan lain selain panas dan pusing?” tanya Mega kembali setelah berhasil menguasai keadaan. “Flu, batuk pilek seperti itu?”


   Fajar menggelengkan kepalanya, “Hanya tenggorokanku yang terasa sakit, pahit.”


   Mega lalu meminta Fajar untuk berbaring di brangkar dan mulai memeriksanya dengan stetoskop di tangannya. Semua baik-baik saja, hanya pada bagian tenggorokannya saja terjadi radang dan kemerahan.


   “Siang ini sudah makan apa belum?” tanya Mega.


   “Tadi pagi juga tidak sarapan?”


   “Hanya minum teh saja, itu pun tidak habis satu gelas.”


   Mega lalu menulis resep obat dan memberikannya pada Fajar, “Mas Fajar harus makan, biar nggak lemas lagi. Obatnya juga harus dihabiskan, kecuali obat penurun panasnya. Kalau sudah turun panasnya, hentikan pemakaiannya.”


   “Terima kasih,” ucap Fajar tulus.


   Mega menganggukkan kepalanya. “Dalam tiga hari ke depan, Mas harus benar-benar beristirahat. Jangan minum yang dingin-dingin, alangkah baiknya konsumsi air lemon.”


   “Akan Aku lakukan,” ucapnya tersenyum. “Terima kasih sekali lagi, Ega.”


   Mega tertegun sesaat mendengar Fajar memanggilnya dengan nama kecilnya. Hanya Bayu yang memanggilnya dengan nama itu, dan kini lelaki itu mengingatkannya lagi.


   “Panggil Mega saja mas Inug,” ucap Mega kemudian, lalu menutup mulutnya dengan tangannya.


   Fajar tertawa kecil mendengarnya, “Ternyata Kamu juga masih mengingat panggilan itu,” imbuhnya lagi.


   Fajar lalu berpamitan pulang, tapi saat ia berdiri tubuhnya kembali melemah dan ia terduduk lagi di kursinya.


   “Pusing dan mual.”


   “Mas Inug harus nurut kalau mau cepat sembuh, harus makan, minum obat lalu istirahat!” cetus Mega dengan nada khawatir yang terdengar jelas. “Tunggu di sini dulu sebentar, biar Aku buatkan teh manis.”


   Siang itu hanya Mega dan seorang perawat yang berada di puskesmas, sementara dokter Rendra dan yang lainnya sedang berada di rumah sakit besar di kota membawa pasien rujukan yang harus di rawat di sana.


  


   Mega lalu bergegas menuju dapur puskesmas dan mulai membuat minuman untuk Fajar. Sejenak tangannya berhenti mengaduk gula di dalam gelas, bertanya pada dirinya sendiri. Mengapa dia jadi sekhawatir ini melihat kondisi laki-laki itu, padahal Fajar bukan siapa-siapa baginya.


   Saat Mega kembali ke ruangannya, dilihatnya lelaki itu sudah tidak ada di sana. Mega segera keluar mencari Fajar dan tersenyum lega saat mendapati lelaki itu ada di ruang tunggu puskesmas, duduk memejamkan mata menunggu dengan berselonjor kaki dan kedua tangan terlipat di dada.


   “Mas minum dulu tehnya,” ucap Mega mengulurkan minuman di tangannya.


   Fajar membuka matanya, menegakkan tubuhnya lalu menerima minuman dari tangan Mega.


   “Kamu nggak istirahat, makan siang dulu sana.”


   “Sudah makan roti barusan,” ucap Mega lalu menunjukkan roti di tangannya.


   “Mana kenyang kalau cuman makan roti saja. Temani Aku makan siang,” ajaknya lalu menaruh gelas ke atas meja dan berdiri menatap Mega.


   “Di kantin puskesmas lagi?”


   “Kamu mau makan di luar?” Fajar balik bertanya.


   “Nggak! Di kantin saja,” katanya mengulas senyum.


   Keduanya lalu berjalan menuju kantin puskesmas, air teh manis yang baru saja diminum Fajar sedikit banyak mampu membuat tubuhnya sedikit lebih baik.


🌹🌹🌹