
Pagi hari di dapur rumah Fajar.
Sreng sreng ...
Pagi itu Mega tengah sibuk di dapur, membuat nasi goreng buat sarapan paginya bersama Fajar sementara sang suami masih berada di dalam kamar.
Saat hendak mengambil bumbu yang sudah diuleknya dan mencampurnya di penggorengan, gerakannya terhalang tubuh Fajar yang tiba-tiba saja datang dan langsung memeluknya dari belakang.
“Yank,” bisik Fajar manja di telinganya.
“Hemm,” jawab Mega. “Aku lagi masak nih, mending Mas duduk di sana deh.” Mega mengarahkan dagunya ke meja makan.
Fajar menggeleng, dan itu membuat Mega geli karena dagu Fajar menggesek pundaknya.
“Mas, ih. Aku nggak konsen masaknya kalau Mas nempel terus kayak gini!” protes Mega pada Fajar yang terus saja memeluknya dari belakang, menempelkan dagunya di bahu Mega.
“Pesan aja napa, yank. Nggak usah masak segala, jadi repot kan.” Fajar masih memeluk Mega, tidak peduli protes wanita itu padanya.
“Nggak repot, Mas. Happy kok, sambil masak kita juga bisa bersenang-senang. Nih ya, sambil masak bisa dengerin musik, goreng nasi sambil joget-joget. Lagian bosan makan gitu mulu. Pengen makan masakan sendiri, pakai sambal ngulek sendiri. Hmm, enak.” Cerocos Mega menyapukan lidah di bibir. “Sayangkan bahan banyak di kulkas dianggurin,” imbuhnya lagi.
“Hmm.”
“Bentar selesai kok, nunggu dikit lagi.” Mega mengusap tangan Fajar yang berada di pinggangnya.
“Hmm!”
Mega meringis mendengar suaminya itu hanya mengucapkan satu kata yang sama, segera setelah masakannya matang Mega langsung mematikan kompor.
“Selesai!” ucapnya kemudian, menaruh nasi goreng dalam wadah yang sudah disiapkan.
“Hmm!”
Mega terkekeh, berbalik lalu mencium pipi Fajar gemas. “Hmm hmm terus.”
“Hmm, lagi ciumnya.”
“Ish!” Mega memutar bola matanya, “Makan yuk,” ajaknya menggamit lengan Fajar menuju meja makan, lalu duduk berdampingan.
“Hmm.”
“Astaga! Hmm juga,” balas Mega lalu menghadiahi suaminya itu ciuman beruntun di wajahnya. “Awas aja kalau masih hmm lagi!”
“Hehehe, love you my wife.” Fajar menatapnya penuh cinta, hingga membuat Mega terpukau dan tak bisa memalingkan wajahnya.
“Hmm.” Fajar mengulurkan piring di tangannya, membuat Mega tersadar. “Yank, jadi maem nggak nih.”
“Eh! Jadi dong,” sahut Mega cepat.
Hmm, ternyata cinta saja tidak cukup membuat perut kita kenyang. Mega tersenyum sendiri.
•••••
“Mas, jadi nggak jalan ke pantainya. Keburu siang, panas nanti.”
Mega keluar dari kamar mandi, berjalan sambil mengusap rambutnya yang basah. Wangi sabun menguar dari tubuhnya, ia lalu menarik kursi dan duduk di depan meja rias.
“Tunda aja kali, yank. Aku pengen di rumah aja sama Kamu,” sahut Fajar lalu menaruh ponselnya, beranjak mendekati Mega.
“Ya udah, kita di rumah aja. Tapi ngapain coba, masa di kamar terus.” Mega mencebikkan bibirnya.
Fajar terkekeh mendengarnya, “Bentar Aku mikir dulu, kali aja langsung dapat ide lagi.”
“Ish, Aku lagi lemot nggak bisa baca pikiran Mas.”
“Sini Aku bantu keringin rambutnya, yank. Kali aja langsung konek sama ide Aku,” sahut Fajar, menarik kursi Mega ke belakang mendekat padanya lalu mengambil handuk dari tangan Mega dan mulai menggosok rambut kepalanya.
“Pelan-pelan, Mas. Jangan pakai tenaga dalam, kepalaku jadi pusing digoyang-goyang gitu!” protes Mega.
“Ish, ini sudah paling pelan, yank. Lembut penuh kasih sayang,” balas Fajar gemas, menaruh handuk di sampingnya lalu ganti memijat bahu Mega.
Mega meringis, “Kayak gitu dibilang pelan, gimana yang kuatnya eh.” Mega menepuk paha Fajar yang mengapit tubuhnya.
“Jangan nyender gitu, yank. Tegakin badannya,” ucap Fajar mendorong bahu Mega yang malah bersandar padanya.
“Hehe biarin, enak nyandar juga.” Mega mendongak, mengusap pelan dagu Fajar yang ditumbuhi rambut halus. “Mas tadi nggak cukur janggutnya?”
Fajar memeluk pinggang Mega, mencium lembut keningnya. “Nggak, sengaja nggak dicukur. Buat bikin geli-geli Kamu,” jawab Fajar enteng, lalu menggesekkan janggutnya pada pipi dan leher Mega.
“Eyy, hahaha. Geli Mas!” Mega mengikik geli.
“Bhuuhh!” Fajar memalingkan wajahnya sesaat.
“Kenapa?”
“Kemakan rambut Kamu, yank.”
“Astaga, hahaha.”
“Ish, malah ketawa.” Fajar manyun.
Mega menahan tawanya, lalu memutar tubuhnya. Mereka berdua kini duduk saling berhadapan.
Mega kemudian mengalungkan lengannya di leher Fajar, menatapnya lembut. Perlahan wajahnya mendekat, napasnya hangat menyapu wajah lelaki itu.
Cup cup ...
Mega mengecup kedua sisi bibir Fajar, pucuk hidungnya yang mancung, kedua matanya yang ditumbuhi alis tebal, lalu berakhir pada dagunya yang sering membuat Mega geli.
Fajar membelalakkan matanya, terkejut dengan tindakan Mega. Untuk sesaat lamanya ia terdiam, namun detik berikutnya Fajar terkekeh geli lalu memeluk erat Mega.
“Love you my wife,” bisik Fajar mesra di telinga Mega.
“Love you my husband,” balas Mega sambil memejamkan matanya, tersenyum bahagia merasakan kehangatan dan kasih sayang Fajar padanya.
Perasaan haru dan bahagia jadi satu kini. Bahagia karena tahu dirinya dicintai dengan teramat sangat oleh lelaki itu, sama seperti dirinya yang sungguh-sungguh mencintai suaminya itu dengan sepenuh hatinya.
🌹🌹🌹