I Am Yours

I Am Yours
13. Menyebalkan



Mega pernah berharap, cintanya pada Bayu yang tumbuh di usia remajanya saat itu akan berkembang menjadi cinta dewasa seiring bertambahnya usia mereka nantinya. Bukan hal mustahil, tidak sedikit yang mengalaminya dan berhasil hingga ke jenjang pernikahan.


   Di bawah langit malam yang bertabur bintang, mereka berdua mengikrarkan janji. Janji untuk selalu setia menjaga hati hanya untuk satu nama, walau jarak menjadi pemisahnya.


   “Bayu dan Mega diciptakan untuk selalu bersama-sama, seperti angin dan awan tak akan pernah berpisah. Seperti nama kita berdua,” Bayu tersenyum manis, tangannya menggenggam erat jemari Mega.


   Tapi ternyata keberuntungan tidak berpihak padanya. Setahun setelah kepergiannya menuntut ilmu di luar kota kelahirannya, Mega mendapat kabar dari kedua orang tuanya kalau Bayu akan menikah dengan Alya yang tidak lain adalah sahabat karibnya sendiri.


   Hancur dan terluka pastinya, perasaan terkhianati. Sakit tapi tak berdarah, janji hanya tinggal janji. Selama hampir satu minggu, Mega hanya bengong dan menangis. Ya! Menyesali kisah cintanya yang kandas. Menangisi kebodohannya mempercayai janji palsu Bayu. Bukankah Bayu dan Mega diciptakan untuk selalu bersama-sama?


   “Mega, kok bengong?” tegur dokter Rendra yang melihat Mega masih berdiri terpaku di depan pintu masuk puskesmas, menatap lurus ke arah luar.


   Mega mengerjapkan matanya, lalu menoleh pada Rendra yang berdiri di sampingnya dengan kedua tangan masuk dalam saku celana panjangnya.


   “Hmm, seperti mengenang masa lalu?” katanya sambil memandang jauh ke depan.


   Mega menautkan alisnya, tersenyum samar lalu memutar tubuhnya saling berhadapan. “Apa yang dokter ketahui tentang masa lalu itu?” tanya Mega mengulang ucapan Rendra.


   Rendra tersenyum mendengar pertanyaan Mega padanya, matanya masih memperhatikan Bayu yang tengah asik bermain bola bersama dengan Rio di lapangan kecil yang berada persis di samping puskesmas.


   “Sesuatu yang seharusnya tidak membuat seseorang menyesali hidupnya dan melakukan tindakan bodoh!”


   Rendra dan Mega spontan menoleh bersamaan saat mendengar jawaban tiba-tiba dari seseorang yang sepertinya sejak tadi sudah mendengar percakapan mereka berdua.


   ‘Mas Fajar!” seru Rendra melihat siapa yang berbicara pada mereka berdua.


   Suara itu terdengar familiar di telinganya, Mega menerka dalam hati. Ia mengangkat wajahnya, matanya terbelalak melihat sosok lelaki yang tengah berdiri kokoh di depan ruangan Rendra.


   “Mas Inug,” desisnya menyebut nama pendek Fajar. Tidak ada yang berubah, wajah datar dengan senyum tajam itu masih sama seperti dulu. Sinis dan tanpa basa-basi.


   Mega merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, tubuhnya sedikit gemetar mengingat pertemuan terakhirnya dengan lelaki itu.


   Sejak awal mereka berdua tidak pernah saling menyukai, dan Mega hanya ingin menghindarinya. Sikap lelaki itu selalu merendahkannya, dan itu berlangsung selama beberapa tahun.


   Terlebih lagi sejak Mega dekat dengan Bayu adiknya. Semua itu karena kesan yang salah terhadap dirinya, dan Mega tidak berusaha untuk mengubah pendapat laki-laki itu padanya.


   Biarlah dia dengan prasangkanya, Mega tidak peduli dan ambil pusing. Apalagi Bayu yang selalu membelanya bila sedang berhadapan dengan kakak lelakinya itu.


   Lagi pula sikap permusuhan yang ditunjukkan Fajar padanya, tidak mempengaruhi hubungannya dengan Bayu. Justru keduanya menjadi semakin dekat. Mega tersenyum pahit mengingatnya. Waktu itu! Dan waktu itu sudah lama berlalu.


   Mega menghembuskan napas kasar, berlama-lama berada dekat dengan lelaki itu akan membuatnya susah bernapas.


   “Aku pamit pulang dulu,” ucap Mega pada Rendra tanpa menoleh lagi pada Fajar yang berdiri mengawasinya dengan kedua tangan terlipat di dada.


   “Jangan lupa besok pagi,” kata Rendra mengingatkan Mega.


   Mega tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia lalu bergegas meninggalkan puskesmas menuju motornya terparkir. Mega berpapasan dengan Alya dan berusaha tersenyum ramah padanya.


   “Aku pamit pulang duluan, jaga kandunganmu baik-baik. Jangan terlalu lelah dan banyak pikiran,” ujarnya pada Alya tulus.


   Baru saja tangan Mega hendak mengambil kunci motor dari dalam tas ranselnya, seseorang menangkap lengannya. Membalikkan tubuhnya dan menarik tangannya ke bawah naungan pohon jambu di dekat mereka berdua.


   “Mencoba menghindariku lagi?” Fajar menatap tajam Mega. “Mau sampai kapan Kamu terus berlari dan menghindar dariku.”


   Mega menepis kasar tangan Fajar, sesaat disadarinya tempat mereka berada saat ini. Matanya menatap ke atas pada kumpulan mahluk kecil yang terus berdengung di atas kepala mereka berdua.


   “Lepaskan!” balas Mega sengit. “Siapa yang lari dan siapa juga yang menghindar! Aku hanya sedang berjaga-jaga dari serangan yang tiba-tiba,” imbuhnya lagi masih tidak melepaskan pandangannya dari atas pohon.


   “Oh ya? Serangan tiba-tiba seperti apa, tanpa diminta pun kau pasti akan menawarkan diri.”


   “Jangan bermimpi!” balas Mega lagi. “Itu tidak akan pernah terjadi.”


  “Apa kedatanganmu kali ini hanya ingin membuatku marah,” ucap Fajar gusar.


   “Bukankah hal itu akan membuatmu merasa senang, membuat orang lain merasa tidak nyaman berdekatan denganmu!”


  “Hati-hati dengan ucapanmu,” kata Fajar berjalan mendekat, memperpendek jarak di antara mereka berdua.


  “Kau yang memulainya duluan!” ucap Mega menantang, dan bersiap-siap untuk lari karena suara dengungan di atas kepalanya semakin bertambah dekat dengan mereka berdua.


   “Ah, sudahlah!” Mega menarik lengan Fajar dan membawanya berlari kecil.


   “Hei! Mau lari kemana?” Fajar tertegun menatap tangan Mega yang berada di lengannya.


   “Apa mas nggak lihat di atas pohon jambu tadi,” ucap Mega kesal saat sudah kembali berada di tempat parkir motornya. “Apa mas mau di sengat tawon juga, seperti mas Warno tadi? Bilang dari tadi biar Aku nggak perlu repot-repot.”


   “Ternyata kamu perhatian juga sama nasib orang lain,” ucap Fajar tersenyum samar.


   “Aku hanya tidak mau menambah pekerjaan dokter Rendra. Cukup mas Warno saja yang jadi korban, jangan ada tambahan lain lagi.”


   “Ish!”


   “Harus ada yang bisa memindahkan sarang tawon itu, sebelum semakin banyak yang terkena sengatannya.” Mega mengingatkan.


   Mega kemudian balik badan dan bergegas menyalakan mesin motornya yang tertunda tadi.


   “Hei! Mau pergi kemana?” tanya Fajar menahan motor Mega.


   “Pulang!” sahut Mega cepat. “Lepasin nggak!” Mega menaikkan gas motornya.


   “Menyebalkan,” ucapnya kesal setelah berhasil melepaskan diri dari Fajar.


   Lelaki itu menatap kepergiannya dengan kedua tangan bertaut di pinggang, sekilas Mega menangkap senyum terbit di lekuk bibirnya. Entah benar senyum yang dilihatnya atau hanya cibiran seperti yang biasa dilakukan lelaki itu padanya. Yang jelas kehadiran lelaki itu di dekatnya, akan membuat hari-harinya jadi menegangkan.


🌹🌹🌹