
Hari sudah sore saat Mega selesai dengan pasien terakhirnya, ia pun mulai berkemas membereskan meja kerjanya bersiap hendak pulang ke rumahnya. Diliriknya jam tangannya, masih setengah jam lagi sebelum Fajar datang menjemputnya dari lapangan.
Mega melepas jasnya, menaruhnya di gantungan lalu duduk santai sambil membuka gallery foto di ponselnya. Bibirnya tersenyum lebar melihat gambar terbaru Rumi yang sedang bersepeda membonceng Aera di belakangnya. Jagoannya itu menatap lurus ke depan dengan bibir tersenyum, sementara Aera tertawa lebar sambil memegang erat pinggang Rumi.
“Hem, lucunya. Bener-bener gemesin nih anak,” gumam Mega seraya memperbesar gambar Aera.
Tiba-tiba muncul satu nama di layar ponselnya yang langsung mengalihkan perhatian Mega, ia pun menggeser icon hijau dan menerima panggilan masuk dari Yola.
“Ya, Yol. Iya, aku masih di klinik. Kira-kira setengah jam lagi sambil nunggu mas Fajar jemput. Ada apa, kalau mau ketemu aku tungguin deh bentar.”
“Aku otw ke sana, tungguin ya mba.” Terdengar sahutan Yola dari seberang telepon.
“Oke.”
Yola tiba di klinik dengan mengendarai motornya, dan langsung menemui Mega di ruangannya. Wajahnya terlihat pucat dan lesu.
Ia mengeluhkan rasa tidak nyaman di perutnya, mual yang dialaminya pagi hari dan nafsu makannya yang menurun.
“Asli gak nyaman banget, Mba. Aku takut asam lambungku kumat, perut laper tapi mulut gak enak buat makan. Udah minum vitamin juga tapi tetap gak ngaruh,” ucap Yola sambil mengusap perutnya.
“Siklus bulananmu lancar gak?”
“Lancar kok, cuman bulan kemarin kayak ngeflek gitu. Apa itu ya yang bikin perut Aku gak nyaman?”
“Bentar, selera makanmu menurun kan. Apa Kamu gak pengen makan sesuatu, yang seger-seger gitu?” Mega lalu mengetik di ponselnya, setelah itu ia perlihatkan pada Yola. “Kalau lihat ini gambar, pengen gak?”
Yola menatap gambar di ponsel Mega dengan mata tak berkedip. Seketika ia meneguk liur dan langsung berucap, “Pengen Mba, Aku mau.”
Mega terkekeh mendengarnya, “Sudah kuduga,” ucapnya masih dengan tawa di bibirnya. “Buat mastiin, biar Aku periksa dulu aja ya.”
Beberapa menit kemudian, Yola keluar dari ruangan Mega dengan wajah sumringah. Hilang sudah wajah lesunya berganti dengan senyum ceria.
“Mas, jemput aku sekarang di klinik mba Mega ya.” Yola menghubungi Pras suaminya yang kebetulan berada di lapangan bersama Fajar.
“Kamu sakit, kok gak kasih kabar? Ya udah, aku jemput sekarang.” Pras terdengar khawatir.
“Mas, Aku duluan mau jemput Yola. Lagi di klinik, sakit gak kasih kabar lagi. Bikin khawatir saja,” ucapnya bergegas menuju mobilnya.
“Yola sakit?” tanya Fajar. “Sekarang lagi di klinik sama Ega?”
Pras hanya menganggukkan kepalanya, “Belum tau sakitnya apa, nelpon juga barusan. Ya udah Aku duluan, Mas.”
“Hati-hati, kalau ada apa-apa cepat kabari!” seru Fajar mengingatkan, yang dibalas Pras dengan mengangkat ibu jarinya.
Sepuluh menit kemudian, Fajar sudah dalam perjalanan menjemput Mega di klinik. Saat ia tiba di sana, Yola dan Pras sudah pulang dan Mega tengah menunggunya sambil bermain ayunan yang ada di halaman kantornya.
“Kangen masa kecil ya,” ucap Fajar sambil mendorong ayunan Mega.
Mega meringis mendengarnya, “Ho oh, masa kecil kurang bahagia. Makanya pengen main lagi. Heii! Jangan kenceng-kenceng dorongnya Mas, pusing tau!”
Fajar tersenyum menanggapi, “Ya udah, berenti mainnya kalau pusing.”
Fajar menahan tali ayunan lalu memeluk bahu Mega dari belakang.
“Yank, tadi Pras buru-buru datang ke sini begitu dengar Yola sakit.” Fajar bertanya sambil merapikan rambut Mega yang sedikit berantakan tertiup angin. “Memang Yola sakit apa, yank?”
“Oh, hamil toh. Syukurlah, akhirnya setelah lama menunggu ...”
“Iya hamil, baru 8 minggu. Rentan sih, makanya tadi Aku larang pulang naik motor. Biar minta dijemput suaminya aja, motornya dititip rumah ayah dulu.” Jelas Mega.
“Oh gitu.” Fajar manggut-manggut.
“Balik yuk, Mas. Kasihan Rumi nunggu lama.”
“Oke.”
Mega memeluk lengan Fajar, berjalan menuju mobilnya.
“Ntar mampir di paman dawet, yank. Biasa request Rumi tadi,” ucap Fajar saat sudah berada di dalam mobil.
“Minta lagi?”
“Namanya suka, ya gitu. Gak ada bosannya,” ucap Fajar terkekeh mengingat Rumi.
Saat melewati pertigaan jalan utama, Fajar menepikan mobilnya. Mega pun bergegas keluar saat dilihatnya gerobak paman penjual dawet langganannya sudah tampak mangkal di tempat biasanya.
“Yank, beli dawetnya dibanyakin. Ada Aera di rumah, entar gak kebagian lagi kalau keduluan Rumi.” Fajar mengingatkan.
“Mas gak ikut turun, temenin Aku beli?”
“Bentar tungguin,” sahut Fajar seraya mengambil topi yang berada di jok belakang mobilnya.
Fajar menggandeng tangan Mega, berjalan beriringan menuju gerobak dawet si paman yang sepertinya sudah ramai antri para pembeli.
“Percaya kalau Rumi suka banget sama itu dawet, asli emang enak banget. Jadi geli sendiri kalau ingat Rumi suka nungguin kita minum sambil bilang, ‘ayah kok gak diabisin minumnya. Padahal memang baru dikit minumnya, punya dia dah abis duluan. Hahaha,” ucap Fajar tertawa mengingat Rumi.
Mega menghentikan langkahnya, menoleh dan ikut tertawa mendengar ucapan suaminya itu.
“Iya, anakmu tuh Mas. Kalau sudah suka sama sesuatu, susah banget buat berbagi. Saking sukanya sampai gak mau ngalah sama Aera.”
“Ish, kalau Rumi kayak gitu aja bilang anakku. Giliran Rumi kalem, penurut, bilang anakmu yank.”
“Ya memang gitu, Aku kan memang kalem, penurut.” Mega memasang senyum semanis mungkin, membuat Fajar gemas melihatnya.
“Kelamaan gak punya adik makanya gitu, biasa kan dapetin apa-apa semua untuk Rumi sendiri. Coba kalau punya adik lagi, pasti Rumi lebih mudah untuk berbagi.”
“Ish, mulaiii modusnya. KB mas, ingat KB!”
“Rumi kan dah 8 tahun, nambah satu lagi kan gak papa yank.”
“Ntar dipikirin lagi.”
“Dibuat yank, dibuat. Kelamaan mikir, kapan jadinya?!”
“Ya dipikirkan dulu dong, sayang. Setelah itu baru dibuat,” balas Mega langsung ngacir meninggalkan Fajar, ikutan antri bareng pembeli lainnya.
“Ish, aku kan juga pengen punya baby lagi kayak Pras.”
🌹🌹🌹