
Makan siang hari itu berlangsung lancar, semua orang duduk dalam satu meja menikmati masakan yang sudah tersaji lengkap di atas meja.
Ada ayam goreng kalasan, pecel lele request dari ayah lengkap dengan terong goreng, timun, kol mentahan juga daun kemangi. Tidak ketinggalan tempe dan tahu goreng, juga secobek besar sambal sebagai pelengkap. (Buka warung sekalian kita di sini 😂😂)
Mega memilih duduk di samping mamanya dan Fajar duduk di samping ayahnya. Sementara Yola dan Rendra di sisi kiri dan kanan.
Suasana kekeluargaan terlihat jelas, sesekali diselingi candaan ayah dan Fajar yang terkekeh melihat cara makan Rendra yang kerepotan karena tidak terbiasa makan hanya menggunakan tangan saja.
“Coba rasakan bedanya, Nak Rendra. Makan sambal dan lalapan seperti ini menggunakan tangan langsung, dengan makan menggunakan alat.”
Ayah lalu mencolek sambal dalam cobek dan memperlihatkannya pada Rendra, kemudian mulai mengunyahnya.
“Beda, lebih nikmat dengan tangan langsung. Coba saja,” ucap ayah lagi.
“Cobain, Dra. Beda kalau kita makan pakai sendok garpu, memang sih tangan tetap bersih. Tapi sensasinya itu, hemm nggak bakalan sama kalau kulit tangan kita bersentuhan langsung dengan mulut. Lebih nikmat,” ucap Fajar ikut menimpali.
Rendra meneguk liur dengan susah payah, dilihatnya mereka semua makan dengan nikmat walau tangannya belepotan dengan sambal.
Ia lalu menoleh pada Yola, adiknya itu terlihat nyaman dan begitu menikmati makanannya dengan menggunakan tangannya.
Padahal selama ini, setiap makan bersama keluarganya mereka selalu makan dengan alat lengkap dan tidak pernah berbicara apa lagi saling bercanda sampai acara makan selesai. Rupanya banyak perubahan yang terjadi pada Yola setelah berteman dekat dengan Mega.
Mega yang paham melihat Rendra terlihat kurang nyaman, sejak awal sudah menyediakan mangkuk sambal sendiri untuk Rendra tanpa harus bercampur dengan yang lainnya.
“Apa dokter nggak bisa makan pedas, biar Saya buatkan yang lain.” Mega menatap Rendra yang masih memegang alat makan di tangannya.
“Bisa, Saya suka masakan pedas.” Rendra menjawab cepat, lalu menaruh alat makannya. “Saya mau coba makan pakai tangan,” ujar Rendra lalu mencoba mengikuti seperti yang dilakukan ayah dan Fajar.
Semua memperhatikan apa yang dilakukan Rendra, walau awalnya terlihat canggung tapi Rendra berhasil menyelesaikannya dan melahap habis makanannya.
“Bisakah baunya hilang dalam sekejap?” tanya Rendra sambil mengangkat tangannya ke atas, setelah sebelumnya mencium aroma dari tangannya sendiri.
“Saya tidak akan bisa bekerja dengan baik jika aroma tangan Saya seperti ini,” ucapnya lagi sambil menatap satu persatu orang-orang di hadapannya itu dengan muka memelas.
Semua orang tertawa mendengar ucapan Rendra, mama bahkan hampir tersedak melihatnya.
“Tenang, Mas. Dicuci bersih pakai jeruk nipis juga bentar hilang kok baunya,” sahut Yola santai sambil tetap menikmati makanannya.
“Sama Dra, kita semua juga ngerasain hal yang sama. Tinggal cuci bersih seperti kata Yola, beres.” Fajar menimpali.
“Yakin bakal hilang baunya?” Rendra menatap ke arah Mega, berharap wanita itu punya saran lain.
Mega menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Yola. “Pakai jeruk nipis bisa, daun kemangi atau timun ini juga bisa.”
“Maafkan Saya, ini pengalaman baru buat Saya. Sejujurnya, Saya sangat menikmatinya dan bersyukur sekali bisa makan satu meja dengan semua orang di sini. Terima kasih sudah menerima kami dengan sangat baik di rumah ini, terutama ayah dan mama dokter Mega. Terima kasih,” ucap Rendra tulus.
“Sama-sama, nak Rendra. Kalian sudah kami anggap seperti anak-anak kami sendiri. Anggap rumah ini seperti rumah kalian sendiri,” balas ayah tersenyum hangat.
Setelah selesai makan siang, Rendra berpamitan untuk bekerja. Sementara Fajar dan Yola masih tetap berada di rumah Mega.
Ayah dan Fajar mulai mengecek pembangunan ruko, sementara mama memilih untuk beristirahat di kamarnya.
Di dalam kamar Mega.
Yola memandang lurus ke arah kaki bukit dari balik jendela kamar Mega yang terbuka, angin berembus sepoi-sepoi.
“Mba Mega,” panggil Yola, masih tetap menatap pemandangan di depannya.
“Iya,” sahut Mega mengangkat wajahnya dari buku jurnal harian yang berada di tangannya.
Mega sedang memeriksa data pasien yang tadi diberikan Rendra padanya, ia ingin mengetahui penyakit apa saja yang sedang ditangani Rendra selama ia tidak bekerja di puskesmas.
“Aku betah berlama-lama kalau sudah berada di rumah ini, semua orang menerimaku dengan tangan terbuka.”
“Syukurlah kalau Kamu betah di sini, Aku senang mendengarnya.”
Mega tersenyum dan langsung menutup buku di tangannya, ia kini fokus menunggu Yola bicara padanya.
“Boleh, silahkan. Aku akan jadi pendengar yang baik untukmu.” Mega kembali tersenyum.
“Ehm, jadi malu.” Yola menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Lah, belum juga cerita sudah malu. Apa sih, jangan bikin orang penasaran?!”
“Tapi Mba Mega jangan ketawain, ya. Janji!”
Mega mengerutkan keningnya, ketawa kenapa coba?
“Iya, tapi cerita dulu. Kalau lucu masa nggak boleh ketawa,” sahut Mega jadi penasaran.
“kalau suka sama seseorang, wajar nggak sih kalau kita yang nembak dia duluan?” ucap Yola.
“Oh, jadi sekarang ini Kamu lagi suka sama seorang cowok. Siapa kah dia?” ucap Mega balik bertanya.
“Mas Prasetyo,” jawab Yola malu-malu. “Aku suka lihat dia sejak kita main bareng di pantai waktu itu,” imbuhnya lagi.
“Oh, banana boat. Aku ingat!” sahut Mega cepat, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Teringat bagaimana Fajar yang tidak menyukai Pras meski lelaki itu adalah rekan kerjanya, karena Pras ternyata menyukai Mega. Mungkin dengan membantu mendekatkannya pada Yola, bisa membuat Fajar tidak cemburu lagi padanya.
“Ya, gimana ya.” Mega meringis, sambil mengusap tengkuknya perlahan.
Selama ini ia belum pernah secara langsung mengungkapkan rasa sukanya duluan pada laki-laki, mikir keras mau jawab seperti apa pada Yola 😂😂
“Coba saja, dari pada harus nunggu lama keburu di gaet orang. Tapi kita juga harus siap dengan semua resikonya, diterima atau ditolak. Jangan sampai buat kita down lagi. Yang penting sudah usaha,” jawab Mega.
“Oke lah kalau begitu, gimana mau tahu hasilnya kalau kita nggak berani mencoba.” Yola mengepalkan tangannya, memberi semangat pada dirinya sendiri.
Dan sepertinya hari itu adalah hari baik buat Yola. Mereka kembali kedatangan tamu, kali ini Rizky kakak lelaki Mega datang bersama Pras dan tiga orang rekan kerjanya yang lain.
Rizky datang dengan membawa makanan yang dibelinya dari luar rumah dan langsung memberikannya pada Mega.
“Kamu masak nasi banyak ‘kan, Dek. Kami semua tadi belum makan siang,” tanya Rizky setengah berbisik sembari mengarahkan dagunya ke arah temannya di luar, ketika mereka berdua berada di dapur rumahnya.
“Iya, biar masak lagi bentar. Paling nunggu setengah jam kelar,” sahut Mega sambil menaruh ikan bakar di piring lebar, dan sayur asem di mangkuk besar.
“Ini masih banyak, Dek.” Rizky menengok magic com dan melihat isinya.
“Cukup segitu?” Mega melihat nasi yang masih tersisa setengah.
“Kurang sih kayaknya. Ya udah, biar Mas tungguin bentar. Maaf ya, Mas nggak kasih kabar dulu sama Kamu. Jadi ngerepotin,” ucap Rizky.
“Ish, masak doang nggak bakal bikin Aku repot.” Mega tersenyum mendengarnya. “Lagi pula nggak setiap hari juga, mumpung lagi di rumah.”
Rizky tersenyum sambil mengusap rambut Mega, lalu melangkah ke luar untuk menemui teman-temannya.
Mega langsung memanggil Yola dan memintanya untuk membantu menyiapkan makan siang ke dua.
“Mba, dia datang.” Yola memegang dadanya, tersenyum sambil melihat ke arah ruang tamu rumah Mega.
“Ssttt, ayo bantuin Aku siapin makanan. Kasian, mereka semua belum pada makan siang.”
“Siap, Mba.”
Yola menyiapkan dengan penuh semangat, saat semua telah siap giliran Yola yang memanggil Pras dan yang lainnya untuk segera ke meja makan. Ia melayani mereka semua dengan senang hati, sementara Mega memilih untuk mendatangi Fajar di bangunan ruko.
🌹🌹🌹