
Sudah jadi rutinitas sehari-hari Fajar mengantar jemput Mega ke puskesmas, seperti juga hari ini.
“Kalau Aku terlambat datang, tunggu ya yank. Jangan pulang sendiri, tunggu sampai Aku datang.” Fajar menahan lengan Mega yang hendak turun dari mobil.
“Iya,” sahut Mega. “Tapii ... kalau ada keadaan darurat, terus Aku harus ke satu tempat dan lupa kasih kabar sama Mas. Nggak boleh marah ya,” imbuh Mega lagi.
“Kok gitu?”
“Ya, gitu. Namanya juga darurat, sibuk, terus lupa.” Mega memasang wajah serius. “Ingat ya, darurat!”
“Ish, darurat nggak gitu! Kayak sudah direncanain, sebenarnya Kamu mau ke mana hari ini.” Fajar penasaran.
Mega tertawa karena telah berhasil menggoda Fajar, “Nggak ke mana-mana kok, sayang. Di sini saja,” sahut Mega.
“Bener ya.” Fajar mengusap rambut Mega. “Seharian ini Aku bakalan sibuk, ada investor yang datang dari luar daerah mau ajak kerja sama. Tapi, Aku usahain jemput Kamu tepat waktu.”
“Iya,” jawab Mega menatap sayang lelaki di hadapannya itu, semakin hari sikap Fajar semakin posesif saja padanya. “Aku turun dulu, ya. Mas hati-hati kerjanya.”
Seperti biasanya, Mega akan menunggu sampai mobil Fajar berlalu dari hadapannya dan setelah itu ia langsung menuju ruang kerjanya.
Hari itu semua berjalan lancar seperti biasanya. Sampai pada siang hari, datang seorang laki-laki tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan kerja dokter Rendra.
“Bapak tenang ya, secepatnya kami akan segera datang ke rumah bapak.”
“Terima kasih, Dok.”
Setelah itu Rendra mengambil tas kerjanya dan bergegas mendatangi Mega di ruangannya. Saat itu Mega telah selesai memeriksa pasiennya.
Tok tok ...
Rendra mengetuk pintu, Mega menoleh dan tersenyum melihat kehadiran Rendra di ruangannya.
“Bidan Yati di mana, ya Dok. Aku butuh bantuannya segera.” Rendra langsung mengambil alih kursi kosong yang sudah ditinggalkan pasien dan duduk saling berhadapan dengan Mega.
“Bidan Yati berhalangan hadir hari ini, anaknya yang kecil sedang sakit dan sedikit rewel. Ada apa ya, Dok mencari bidan Yati?” tanya Mega kemudian.
“Gimana, ya.” Rendra mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.
“Bantuan seperti apa yang dokter butuh kan?” tanya Mega lagi, baru kali ini ia melihat seorang Rendra membutuhkan bantuan orang lain. Biasanya ia akan menangani pasiennya seorang diri saja.
“Dokter, mobil sudah siap. Kita bisa berangkat sekarang,” suara pak Mantri yang muncul tiba-tiba di depan pintu mengalihkan perhatian keduanya.
“Baiklah, kita berangkat sekarang.” Rendra langsung berdiri dan hendak melangkah keluar.
“Saya tunggu di mobil,” ucap pak mantri lalu mengangguk pada Mega sebelum pergi meninggalkan keduanya.
“Dokter Rendra! Dokter belum menjawab pertanyaan Saya, batuan seperti apa yang dokter butuh kan saat ini.” Mega ikut berdiri, membuat Rendra mengurungkan langkahnya.
“Ada pasien yang akan segera melahirkan, dan sepertinya mengalami kesulitan. Ketubannya sudah pecah sejak pagi tadi, mendengar cerita suaminya tadi besar kemungkinan istrinya tidak bisa melahirkan secara normal.” Rendra menjelaskan.
“Operasi?” tanya Mega.
“Ya, sayangnya kita tidak punya alat yang memadai dan harus membawanya ke rumah sakit besar di kota.”
“Ya sudah, secepatnya pasien dibawa ke rumah sakit.”
“Masalahnya, pasien ini tidak mau melahirkan di rumah sakit. Dan Aku butuh bantuan bidan Yati untuk membujuk dan meyakinkan si ibu supaya mau dibawa ke rumah sakit, untuk keselamatan jiwa si ibu dan anak dalam kandungannya.”
“Aku yang akan ikut ke sana dan menggantikan bidan Yati,” ucap Mega, lalu bergegas mengambil tasnya dan langsung melangkah keluar dari ruangannya.
“Tapi Dok, bagaimana dengan pasien kita di sini?”
Rendra tersenyum cerah, detik berikutnya mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah pasien yang berada di pelosok desa.
“Bagaimana keadaan istri Bapak,” tanya Rendra pada lelaki yang berdiri menyambut kedatangan mereka saat menjejakkan kakinya di rumah sederhana yang di sampingnya banyak di tanami singkong dan pohon pisang.
“Sejak tadi terus berteriak kesakitan, ada dukun beranak yang dari tadi berusaha menenangkan istri Saya. Saya takut melihat kondisi istri Saya seperti itu Dokter,” jawab lelaki itu tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.
“Bapak tenang ya, kami akan berusaha membujuk istri Bapak untuk mau dibawa ke rumah sakit.” Mega tersenyum menenangkan.
“Terima kasih, Dokter. Silah kan masuk,” katanya kemudian.
Mega lalu masuk ke dalam kamar bersama Rendra yang langsung memeriksa keadaan si pasien yang terbaring di kasur tipis yang diletakkan di atas lantai kamar. Wajah si ibu terlihat pucat dan terus merintih menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Mega mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan, pada anak perempuan tanggung yang sama pucatnya duduk di samping kiri ibunya sambil terus memegang tangannya.
Di sisi kanan ada dukun beranak yang menenangkan si sakit sambil terus mengusap rambut kepalanya yang basah keringat. Sementara di luar kamar ada tiga anak lelaki yang sibuk bermain bersama tanpa tahu apa yang terjadi pada ibunya di dalam kamar.
Rendra lalu mendekati Mega dan menceritakan kondisi pasien, perlahan Mega bergerak mendekati si ibu dan duduk di sampingnya.
“Ibu, kalau Ibu tetap ingin melahirkan di rumah seperti saat ini tenaga ibu akan habis karena terus berteriak. Dan Ibu akan mengalami sakit terus menerus, keadaan ini sangat berbahaya buat Ibu dan anak dalam kandungan Ibu. Jadi Ibu turuti saran dokter untuk melahirkan di rumah sakit dan mendapat pertolongan yang tepat, karena peralatan kita di sini tidak memadai.” Mega mengusap lengan si ibu yang terkulai lemah, sulit menekan suaranya agar tidak bergetar.
“Ti-tidak, Saya hanya mau melahirkan di rumah ini.” Wanita itu menggeleng lemah. “Seperti kelahiran anak Saya lainnya,” desisnya menahan sakit.
“Ya, Saya mengerti. Tapi saat ini kondisi Ibu tidak memungkinkan untuk melahirkan di rumah. Suhu tubuh Ibu cukup tinggi, dan letak bayi dalam perut Ibu melintang. Bisa terjadi pendarahan dan itu bisa membahayakan keselamatan Ibu dan bayi dalam kandungan Ibu,” ucap Mega terus berusaha memberi pengertian pada si sakit.
“Ada mak dukun yang akan menolong Saya,” sahutnya lagi.
Mega menatap pada dukun beranak yang duduk di sampingnya itu, “Ibu sanggup menolong sampai bayinya lahir dengan selamat?”
“Ti-tidak, terus terang Saya tidak sanggup. Ini bukan kelahiran biasa, sama seperti yang pernah Saya alami. Saya berusaha menolong tapi setelah bayi lahir terjadi pendarahan. Saya tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan pendarahan itu sampai akhirnya si ibu meninggal ...”
Rendra lalu mendekati si ibu, dan mengangguk pada Mega.
“Ibu dengar kan apa yang tadi disampaikan mak dukun, kondisi Ibu saat ini perlu penanganan dokter ahli dan peralatan yang ada di rumah sakit kota.”
“Mati dan hidup seseorang sudah kehendak Tuhan. Kalau Saya mati karena melahirkan, itu mati suci namanya.” Perempuan itu masih tetap berkeras dengan pendiriannya.
“Astagfirullah Ibu, kita manusia tetap harus berusaha. Kalau sampai terjadi pada Ibu, bagaimana nasib keempat anak Ibu yang masih kecil itu? Bagaimana kalau hidup mereka tidak terurus dengan baik, tidak kasihankah Ibu pada mereka.”
“Ibuu! Jangan bicara seperti itu, apa Ibu tidak sayang pada kami semua di sini. Bagaimana nasib kami kalau Ibu tidak ada bersama kami.”
Anak perempuan si ibu yang sedari tadi duduk mendengarkan semua yang terjadi di depannya, langsung menangis dan berteriak memeluk ibunya.
“Mak dukun ... tolong Saya,” desisnya lagi, ia mulai merintih kesakitan. Keringat mengucur deras di dahinya.
“Kan tadi mak dukun sudah bilang tidak bisa menolong karena letak bayi Ibu yang tidak normal,” ucap Mega lagi, tangannya mengusap lembut perut si ibu. “Kita ke rumah sakit ya, Bu. Biar dokter yang menangani Ibu di sana,” bujuknya lagi.
“Ta-tapi ... bisakah Saya melahirkan di sini saja?”
“Tidak bisa, Ibu. Meskipun tenaga medis ada tapi peralatannya tidak ada, Ibu harus melahirkan di rumah sakit kota.”
Perempuan itu mendesis hebat, rupanya pembukaan lahir sudah dekat. Si bayi sudah mendesak ingin keluar tapi terhalang karena letaknya yang tidak normal.
“Ya sudah! Saya sudah tidak tahan lagi, tolong cepat bawa Saya ...”
Akhirnya, dengan cepat Rendra bergerak membawa si ibu dengan dibantu pak mantri dan suaminya menggunakan alat yang sudah disiapkan sebelumnya.
🌹🌹🌹