I Am Yours

I Am Yours
37. Di bawah pohon pinus



Pagi itu terlihat kesibukan di dapur rumah Fajar. Sri tengah sibuk menyiapkan makanan dan keperluan lainnya atas perintah mas bos nya itu.


   Satu wadah keranjang makanan sudah terisi penuh, ada arem-arem, lumpia, roti bakar, dan panganan kecil lainnya. Tidak lupa karpet plastik dan payung kecil yang ditaruhnya dalam wadah plastik berbeda. Semua telah siap, hanya tinggal minumannya saja yang kurang.


   “Hihihi, mas bos seperti mau piknik saja. Sri jangan lupa bawain payung, cuaca bakalan panas terik siang ini.” Sri bergumam sendiri menirukan ucapan Fajar padanya.


   Sudah lama sekali ia tidak pernah melihat bos nya itu sesemangat seperti hari ini, sedari pagi sibuk menyiapkan dan membersihkan mobilnya sendiri tanpa meminta bantuan Warno seperti biasanya.


   “Lagi pula, siapa toh yang mau dipayungi. Biasanya juga pakai topi saja, tumben? Ini juga karpet buat apa, biasanya ya langsung duduk di atas tanah.” Sri sibuk bermonolog sendiri, hingga ia tidak menyadari kehadiran Warno di belakangnya.


   “Ngoceh sendiri, hayo ngomongi sopo?” Warno menepuk pundak Sri, membuat wanita itu terlonjak kaget dan langsung balas memukul lengan Warno keras.


   “Asem ki bocah. Ngagetin aja,” umpat Sri sambil mendelik kesal.


   Warno meringis mengusap lengannya yang panas, ia menarik kursi menaikkan satu kakinya lalu duduk di depan Sri. Tangannya mencomot arem-arem dalam piring dan mulai memakannya.


   “Banyak makanan Sri, mau ada acara apa?” tanya Warno sambil menunjuk ke arah meja makan.


   “Nggak ada acara apa-apa, cuman nyiapin bekal buat mas bos bawa nanti.” Sri menutup keranjang makanannya, lalu menoleh pada Warno yang asik menikmati makanan di depannya.


   “Lah Kamu tadi dari mana, pagi-pagi sudah ngilang saja. Nggak bantuin Aku masak,” tanya Sri.


   “Bekal buat mas bos?” Warno balik bertanya. “Memang mas bos mau ke mana? Wah, nggak ngajak-ngajak ini. Mesti ditanyakan ini,” ucap Warno, bangkit berdiri hendak menuju ruangan Fajar.


   “Eits, tunggu di sini saja No. Biar Aku yang ke dalam, sekalian mau tanya minuman apa yang mau dibawa.” Sri menarik lengan Warno, menahannya untuk tetap duduk di tempatnya.


   “Tapi Aku juga mau tahu mas bos mau pergi ke mana,” protes Warno.


   “Iki bocah kepo tenan yo, mau tahu saja urusan bos nya. Wes tah lah, duduk di situ saja. Biar Aku saja yang ke dalam,” ucap Sri tanpa menghiraukan protes Warno padanya.


   “Bekal makanan, karpet sama payung.” Warno menilik plastik di atas meja. “Mas bos mau piknik ini,” gumam Warno lalu menyusul Sri menemui Fajar di ruangan kerjanya.


   “Ada apa, Sri?” tanya Fajar saat melihat Sri muncul di ambang pintu.


   “Ehm maaf, mas bos mau dibawakan minuman apa ini. Teh manis, wedang jahe anget atau air putih saja?” tanya Sri, bicara sambil menggerakkan jarinya memberikan  pilihan pada Fajar untuk memilih minuman apa yang akan dibawanya nanti.


   “Teh manis boleh, sama bawakan air putih juga.” Fajar menjawab cepat, lalu melirik arloji di tangannya. “Setengah jam lagi selesai ya Sri.”


   “Sudah Saya siapkan semua, Mas. Tinggal minumannya saja, kalau begitu Saya permisi dulu.” Sri balik badan, namun langkahnya tertahan saat Warno muncul di belakangnya.


   “Mas bos mau piknik ke mana, kok nggak ajak-ajak. Ikut mas bos, biar nanti ada yang mayungi mas bos kalau kepanasan.” Ucap Warno dari balik bahu Sri.


   “Apaan sih Kamu, No.” Sri menepis tangan Warno di bahunya, lalu bergegas kembali ke dapur.


   “Nggak bisa, No. Untuk kali ini Kamu nggak bisa ikutan,” jawab Fajar. “Ada hal penting yang mau Aku bicarakan dengan bu dokter secara empat mata. Empat mata No, bukan enam mata.” Fajar mengangkat tangannya dan mengarahkan ke empat jarinya pada Warno.


   Seketika bahu Warno tertunduk lemas, “Kalau cuma bicara hal penting kan bisa di rumah, kenapa harus bawa makanan segala mas bos?”


   Fajar tersenyum mendengarnya, biasanya memang Warno yang selalu menemaninya ke mana saja. Tapi untuk kali ini, ia hanya ingin berdua saja dengan Mega. Masa mau jalan bareng gebetan bawa Warno?


   “Ya sudah, nanti jalan barengnya sama Aku saja.” Sri muncul sambil membawa keranjang makanan di tangannya. “Mas bos, sudah beres semuanya.”


   “Terima kasih, Sri. Nah, ide bagus itu! Jalan bareng Sri saja nanti, kalau mau pakai saja mobil yang ada.”


   Warno melirik sesaat pada Sri, senyumnya terbit seketika.


   “Ayo Sri, kita kencan juga.” Warno menarik lengan Sri keluar dari ruangan Fajar, dibarengi tawa Sri yang mengekor di belakang Warno.


   “Kemon No.”


   Fajar tersenyum melihat kedua asistennya itu, lalu berdiri dan melangkah keluar dari balik meja kerjanya. Dengan langkah ringan ia berjalan menuju mobilnya sambil menenteng keranjang makanan di tangannya.


   “Sudah lama menunggu,” ucapnya pada Mega yang duduk di kursi tunggu puskesmas.


   Mega menggeleng sambil tersenyum, “Sepuluh menit yang lalu, kebetulan pasien yang datang hari ini tidak banyak. Jadi Aku punya waktu istirahat lebih banyak.”


   “Kita berangkat sekarang,” ajak Fajar kemudian.


   “Oke,” sahut Fajar.


   Mega lalu masuk kembali ke dalam puskesmas dan berpamitan pada bidan Yati dan dokter jaga yang ada, menggantikan dokter Rendra yang mengambil cuti pulang kampung ke daerah asalnya di Surabaya.


   Tidak lama kemudian Mega keluar, ia sudah melepas jubah kerjanya dan mengganti sepatu yang dipakainya tadi dengan sepatu kets.


   “Oke, Aku siap.” Mega tersenyum pada Fajar yang berdiri menunggunya di halaman puskesmas.


   Siang ini Fajar mengajaknya jalan-jalan melihat langsung tempat kerjanya, seperti janjinya waktu itu pada Mega. Ia sengaja berkirim surat pada Mega dan meminta waktunya siang ini setelah lepas waktu kerja, dan Mega menyanggupinya.


   Pengalaman baru buat Mega, perjalanan panjang yang mereka lalui buat sampai ke sana benar-benar menguras tenaganya. Hanya dengan berjalan kaki karena daerah yang mereka lewati tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.


   “Kalau Kamu capai, bilang ya. Kita bisa langsung istirahat,” ucap Fajar mengingatkan.


   Mega hanya tertawa kecil, melihat sekelilingnya. Tempat yang mereka lewati memiliki panorama alam yang indah.


   “Kalau capai, Mas yang harus tanggung jawab. Aku pikir kita mau lihat kebun obat tadi,” jawab Mega yang dibalas dengan senyum penuh arti Fajar.


   “Siap bu dokter!”


   Fajar mengajaknya ke tempat-tempat yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Melewati hutan pinus, menyeberangi sungai melewati jembatan di atasnya yang terbuat dari batang besar pohon kelapa yang disejajarkan.


   “Ini juga tempat kerja Aku, tanah yang mereka garap ini milikku. Dan hutan bambu di sebelah sana itu juga milikku, kami buat kerja sama dengan pekerja di sini. Mereka menghasilkan banyak barang dari menganyam bambu, seperti tikar, keranjang, topi, perabot rumah tangga dan banyak lainnya. Hasil barangnya juga halus dan bernilai jual tinggi. Aku dan beberapa rekan kerja yang lain membantu memasarkan hasil anyaman mereka,” ucap Fajar saat mereka melewati hutan bambu dan bertemu dengan beberapa warga di sana.


  


   Mereka berbincang beberapa saat lamanya dan Mega pun berkesempatan melihat langsung cara kerja mereka membuat anyaman dari bambu.


   “Tidak heran kalau Aku dengar mereka begitu menghormati Mas, ternyata banyak usaha yang sudah Mas lakukan buat mereka semua. Selain menyediakan lahan, Mas juga membantu mereka mendapatkan penghasilan tambahan. Dan itu sangat berarti buat mereka semua. Aku senang sekali melihat langsung pekerjaan Mas seperti ini,” ucap Mega tulus sesaat setelah mereka kembali dari hutan bambu.


   “Aku hanya ingin membantu mereka yang memerlukan uluran tanganku. Kalau Aku bisa kenapa nggak,” ucap Fajar tersenyum.


   Sepanjang jalan kedua tangan dua anak manusia itu saling bertaut, hanya ketika mereka berpapasan dengan orang lain saja Mega melepaskan genggaman tangannya.


   Di bawah pohon pinus besar, mereka beristirahat. Fajar menggelar tikar plastik yang dibawanya tadi dan menaruh keranjang makanan di atasnya.


   “Capai?” tanya Fajar yang melihat Mega duduk menyandar di batang pohon sambil mengurut kakinya.


   “Berasa mau copot ini kaki, pegaall banget.”


   “Minumlah,” kata Fajar sambil mengulurkan gelas berisi teh manis pada Mega.


   “Mau makan sekarang?” ucap Fajar lagi kembali mengulurkan arem-arem dari keranjang makanannya.


   Mega hanya menggelengkan kepalanya, matanya terpejam. Rasa lelah di kakinya mengalahkan rasa lapar di perutnya.


   Fajar tersenyum melihatnya, ia lalu menyingkirkan keranjang makanan ke samping dan bergeser mendekati tempat Mega.


   “Kemarilah, bersandar di bahuku. Maaf, sudah membuatmu lelah hari ini.”


   Mega mengerjap, membuka matanya perlahan. Sejenak ia terdiam, menatap pada kedalaman mata Fajar. Lelaki itu sudah berada dekat di sampingnya, ucapan maafnya barusan menyentuh hati Mega.


   “Terlalu lelah sampai tidak bisa membalas ucapanku,” Fajar tersenyum lebar.


   Mega tak menjawab, seolah ada magnet yang menarik tubuhnya. Perlahan ia bergeser, kepalanya begitu saja telah bersandar di bahu bidang Fajar.


   Sulit menekan debar dalam dadanya kala merasakan sentuhan hangat napas Fajar di keningnya.


   Debar jantungnya semakin kuat kala merasakan sentuhan tangan Fajar di pinggangnya, lelaki itu memeluknya dan untuk sesaat lamanya tubuh Mega menegang.


   Perlahan wajahnya menengadah, melihat lelaki itu menatap matanya lekat. Wajah itu semakin dekat, tanpa sadar Mega memejamkan matanya.


🌹🌹🌹