
"Loh, nak Fajar. Kakinya kenapa itu?”
Mama yang sedang duduk santai di bangku teras langsung berdiri saat melihat Fajar yang turun dari boncengan motor Mega, berjalan dengan langkah tertatih.
“Kepeleset di parit besar waktu kerja bakti tadi Ma,” sahut Mega cepat, mendahului Fajar yang ingin menjawab pertanyaan mama padanya.
Mama berjalan mendekat, matanya memandang dari ujung kaki hingga kepala lalu berhenti pada luka di lengan Fajar yang masih mengeluarkan darah segar.
“Mega! Cepat diobati ini, terlalu lama dibiarkan bisa infeksi.” Mama menyentuh lengan baju Fajar yang terkena noda darah. “Sakit ya, Nak Fajar?”
“Lumayan perih, Bu.” Jawab Fajar sambil meringis.
Mega mengulum senyum mendengar pertanyaan mama, lalu beralih menatap Fajar. Lelaki itu menaruh sepatunya sambil mendesis menahan nyeri saat kakinya menapak di lantai teras yang keras.
“Ya pasti sakit lah, Ma. Berdarah gitu, apalagi luka di telapak kakinya. Itu yang bikin susah jalan,” jawab Mega lagi.
Mega kemudian menarik salah satu kursi, lalu menyuruh Fajar untuk duduk di sana.
“Mas duduk sini, tunggu dulu bentar. Biar Aku ambilin obat,” ucap Mega lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
“Gimana ceritanya kok bisa sampai jatuh begitu?” tanya mama penasaran, lalu duduk di kursi sebelah Fajar.
“Saya yang kurang hati-hati, Bu.” Fajar kemudian menceritakan kejadian tadi sebelum dia terjatuh dan mendapat luka di kakinya, lalu bertemu dengan Mega di balai desa yang akhirnya membawanya ke rumah ini.
“Nak Fajar sudah sarapan? Kalau belum biar Ibu siapkan buat,” tanya mama yang dibalas dengan anggukan cepat Fajar.
“Sudah Bu, nggak usah repot-repot. Terima kasih sebelumnya, tadi pagi Saya sudah minum segelas susu. Masih kenyang,” tolak Fajar halus.
“Segelas susu, masih kenyang?” Mama mengernyitkan dahinya lalu tersenyum lebar mendengar penolakan Fajar.
“Ini bahkan sudah hampir jam sebelas siang, sudah mendekati waktu makan siang. Biar Ibu siapkan buat Nak Fajar,” imbuh mama lagi, lalu bangkit dari kursinya bergegas masuk ke dalam rumah.
“Ish! Kirain bayi saja yang kenyang tidak makan sampai siang hanya dengan minum segelas susu,” sela Mega yang mendengar ucapan Fajar pada ibunya, keluar dengan membawa kotak obat dan mangkuk sedang di kedua tangannya.
“Apalagi habis kerja bakti kayak gitu, pasti menguras tenaga. Aku saja sudah habis nasi goreng satu piring, padahal cuma bantu mama ngulek bumbu doang. Rasanya sudah langsung lapar dan perut berteriak minta diisi. Jadi jangan menolak sarapan yang ditawarkan mamaku,” ucap Mega dan langsung menaruh barang yang dibawanya ke atas meja.
“Ish, bayi katamu!” ujar Fajar dengan raut wajah masam.
“Emang! Salah ya ucapanku,” sahut Mega lagi.
Dari seberang rumahnya, terdengar suara tangisan bayi. Mega menoleh dan langsung berdiri tegap menyapa tetangganya yang keluar rumah sambil berusaha menenangkan bayinya yang menangis.
“Kenapa itu, kok nangis dedeknya?” tanya Mega dari seberang rumahnya.
“Dedeknya laper bu dokter, buburnya lagi dibuatin ayahnya. Padahal baru saja minum susu tadi,” sahut tetangganya sambil mengusap punggung anaknya.
“Oh, laper ya.” Mega tersenyum mendengarnya, lalu menoleh pada Fajar yang duduk dengan bibir manyun di kursinya.
“Tuh, bayi saja masih lapar padahal habis minum susu.”
“Ish! Ini kapan diobatinya,” sahut Fajar sebal.
Mega terkekeh lalu duduk di lantai teras rumahnya, “Iya, ini juga mau diobati. Sabarr!”
“Kamu kenapa duduk di lantai,” tanya Fajar heran, apalagi melihat Mega mengangkat kaki kanannya yang terluka dan meletakkannya di atas paha kirinya yang telah dilapisi handuk tebal yang dilipat segi empat.
“Mau diobati nggak, sih?” Mega mendongakkan wajahnya menatap tepat pada manik mata laki-laki di hadapannya itu.
“I-iya mau, tapi kenapa harus ditaruh di ...” Fajar menggaruk kepalanya, tidak jadi melanjutkan bicaranya.
“Ish! Apa dia nggak nyadar, kalau seperti ini Aku jadi merasa deg degan. Apalagi kakiku ada di atas pahanya,” gumam Fajar sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Mas Inug,” panggil Mega.
“Ya?”
Fajar menoleh dan hampir mengumpat kesal pada Mega, saat gadis itu mengangkat tangannya dan tepat mengenai wajahnya.
Bukan tangan Mega yang menyentuh pipinya, yang buat Fajar sebal. Tapi kain lembut yang terasa sangat dingin di tangan Mega itu lah yang mengejutkannya.
“Lihatin apaan sih? Tegang banget,” tanya Mega tak peduli dengan mata Fajar yang melotot padanya.
“Kamu!” ucapnya dengan nada suara yang ditekan.
“Dingin ya?” tanya Mega dengan senyum dikulum. “Nggak boleh marah-marah, tidak baik buat jantung Mas nantinya. Sekarang kompres pinggang Mas dengan kain ini,” perintah Mega kemudian.
Fajar mengerutkan alisnya, tapi sedetik kemudian ia ambil kompres dari tangan Mega lalu mulai menempelkannya di pinggangnya yang memar. Lumayan sih, terasa lebih nyaman.
Untuk beberapa saat, Fajar terus memperhatikan Mega yang dengan sabar membersihkan luka di telapak kakinya itu. Memberinya obat dan membalutnya dengan perban.
“Ssshhhh!” desisnya menahan rasa nyeri yang menusuk, saat jemari Mega membersihkan tepat pada bagian kakinya yang terluka.
“Tahan sebentar, memang sedikit perih.” Ucap Mega, lalu setelah itu mulai mengoleskan salep di area yang terluka sebagai bagian terakhir dari pengobatannya.
“Oke, bagian kaki sudah beres. Sekarang tinggal tangannya,” ucap Mega lalu memasukkan kapas dan kasa kotor ke dalam kantung plastik.
Mega lalu menurunkan kaki Fajar, kemudian ia berdiri dan langsung membersihkan lengan Fajar.
“Ekhem!” Fajar berdehem.
Kedekatan tubuh mereka berdua saat ini mempengaruhi pikiran Fajar, sentuhan tangan Mega di kulit lengannya membuatnya harus menahan napas. Bahkan embusan napas Mega terasa hangat di kulitnya.
Diliriknya sekilas gadis yang tengah sibuk di dekatnya itu. Bisa-bisanya dia terlihat tenang dan bersikap biasa-biasa saja, sementara dirinya berusaha menahan debur jantungnya agar tidak terdengar keras di telinga Mega.
Matanya berpendar menatap ke sekeliling rumah Mega, lalu terpaku pada gudang kecil yang ada di sebelah kanan rumah. Terbersit sebuah ide di hatinya, seketika senyumnya mengembang.
“Selesai!” Mega menarik napas lega, kini ia sudah selesai membersihkan luka di lengan Fajar dan menutupnya dengan plester.
“Sekarang Mas terlihat jauh lebih baik,” ucapnya Mega kemudian.
“Makasih, Ga.” Ucap Fajar tulus, masih dengan senyumnya.
“Sama-sama,” jawab Mega. “Kenapa senyum-senyum kayak gitu, ada yang lucu?”
“Nggak ada,” jawab Fajar singkat, senyumnya masih tidak lepas dari bibirnya.
“Sudah biasa aja, nggak usah terharu gitu sampai senyum-senyum sendiri. Sudah tugasku merawat orang yang terluka dan sakit,” ucap Mega, asal saja menebak arti senyum di bibir Fajar.
Fajar akhirnya tertawa, dan matanya masih tidak lepas dan terus saja menatap gudang di sebelah rumah Mega.
“Apa separah itu efek rasa lapar yang dirasakannya, ck!” gumam Mega lalu masuk ke dalam rumahnya.
Happy reading all, love youuu 🤗🤗
🌹🌹🌹