
“Ekh- khem ... “ Mega menutup mulut dengan tangannya, tidak lama kemudian ia mengambil masker dari dalam laci meja dan langsung memakainya.
“Bu dokter sakit? Dari tadi Saya perhatikan seperti menahan batuk,” tanya bidan Yati, keluar dari balik meja kerjanya lalu berjalan mendekati Mega.
“Dari semalam sih sebenarnya sudah terasa nggak enak ini tenggorokan,” jawab Mega sambil meraba lehernya. “Tapi sudah di minumin obat juga, jadi aman lah.”
“Tapi muka bu dokter kelihatan pucat banget, apa tidak sebaiknya ibu pulang dan istirahat saja di rumah? “ tanya bidan Yati khawatir, lalu tangannya terulur meraba kening dan leher Mega. “Ih, bu dokter pasti lagi demam. Badan bu dokter panas ini!”
Mega tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “Saya nggak apa-apa, bu bidan. Cuma radang tenggorokan, biasalah.”
“Yang begini ini namanya dokter bandel, sudah tau badan lagi sakit masih saja ngeyel. Jangan dianggap sepele bu dokter, radang kalau dibiarkan juga bisa bahaya. Tubuh kita ini juga bukan robot, dan sekarang stamina bu dokter lagi turun jadi harus lebih banyak istirahat.”
Mega tersenyum lebar mendengar bidan Yati menegurnya, ia tidak merasa tersinggung atau marah karenanya karena yang diucapkannya memang benar adanya. Wanita yang memiliki dua orang anak yang sudah beranjak remaja itu, bagi Mega sudah seperti keluarga baginya.
“Iya, bu bidan. Nanti sebentar Saya ijin pulang, kasihan masih ada pasien yang menunggu di luar.”
“Hanya tersisa satu pasien saja sebelum jam istirahat siang bu dokter. Ibu hamil yang mau memeriksakan kandungannya,” ucap bidan Yati memperlihatkan selembar kartu di tangannya, lalu menyuruh perawat untuk memanggil pasien terakhir masuk ke dalam ruangan mereka berdua.
Kali ini giliran bidan Yati yang memeriksa pasien, Mega hanya mengamati dari balik meja kerjanya sambil sesekali memberi arahan saat bidan Yati bertanya sesuatu hal padanya.
Sambil membuat catatan kecil di buku jurnalnya, Mega tergelitik dengan suara percakapan di antara bidan Yati dan pasien ibu hamil yang tengah di periksanya.
“Kalau untuk pertanyaan yang satu itu lebih baik ibu tanyakan pada bu dokter yang duduk di sana, karena beliau yang lebih tahu dari pada Saya.”
“Bisa ya bu bidan kalau Saya tanya-tanya sama bu dokter itu?”
“Bisa bu, silahkan bertanya langsung.” Terdengar sahutan bidan Yati lagi.
“Terima kasih bu bidan.”
Tidak lama kemudian, bidan Yati menggeser tirai pembatas di depannya lalu keluar bersama wanita itu.
Mega mengangkat wajahnya, tersenyum di balik masker yang dikenakannya pada wanita hamil yang kini duduk di hadapannya.
“Silahkan, Ibu. Saya dengar tadi sepertinya ada yang mau ibu tanyakan,” ucap Mega ramah.
“Anu bu dokter, ehm maaf ... Mau tanya masalah flek hitam di wajah,” ucap wanita itu sambil menundukkan wajahnya, terlihat malu-malu bertanya dengan suara sedikit terbata-bata pada Mega.
“Flek hitam di wajah pada ibu hamil?” tanya Mega sambil menatap wanita di hadapannya itu, dilihatnya bagian seputar lehernya memang berwarna kehitaman.
“Ehmm,” wanita itu menatap ragu pada Mega, lalu beralih menatap bidan Yati.
“Baik, Saya jelaskan singkat saja. Keluhan flek hitam di wajah yang muncul pada saat kehamilan di kenal juga sebagai ‘topeng kehamilan’ atau dalam istilah medis disebut Melasma Gravidarum atau Chloasma. Hal ini merupakan hal yang lumrah dan sering terjadi pada ibu hamil. Hampir 50 % ibu hamil mengalami gejala Melasma ini.”
Bidan Yati menarik napas panjang, lalu mulai berbisik pada Mega yang sukses membuat dokter muda itu terkejut dan langsung meminta maaf.
Astaga, aku pikir untuk ibu hamil. Ternyata suaminya, gumam Mega dalam hati.
“Maaf ... Maaf Ibu, Saya pikir yang ditanyakan tadi untuk ibu hamil. Ternyata bukan ya,” ucap Mega yang diakhiri dengan tawa mereka semua yang ada di sana.
Suasana kembali mencair, wanita itu terlihat jadi lebih rileks apalagi melihat sikap Mega yang ramah padanya.
“Iya bu dokter, di area muka gatal -gatal kalau pas terkena matahari. Akhirnya muncul flek hitam seperti kulit kering gitu,”ujar wanita itu menjelaskan keluhannya pada Mega.
“Kalau buat laki-laki itu diakibatkan perubahan hormon dan tidak berbahaya, bisa dilakukan perawatan wajah atau bisa menggunakan perasan air lemon, bisa menggunakan madu atau yoghurt. Tapi, jika flek hitam membandel disertai rasa gatal yang berlebih silahkan konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kulit.”
“Coba beli masker, kata penjualnya herbal cocok untuk semua jenis kulit. Jadi kita coba pakai, ternyata tidak ada perubahan bu dokter. Malah muka jadi timbul jerawat,” keluh wanita itu lagi.
“Jangan! Kemungkinan besar masker yang Ibu gunakan kurang cocok dengan jenis kulit Ibu. Untuk perawatan wajah perlu dirawat dari luar dan dalam. Alangkah baiknya diperhatikan jenis kulit Ibu apa dan perawatan yang cocok dengan jenis kulit Ibu juga.”
“Kalau Ibu mau perawatan wajah, terlebih dahulu periksa ke dokter kulit agar tidak menimbulkan kerusakan pada wajah nantinya. Sebaiknya gunakan produk berbahan dasar Salicylic Acid (asam salisilat) dan hindari produk yang mengandung Glycolid Acid. Salicylic Acid bersifat mengikat minyak dan menyerap ke dalam tempat kelenjar minyak berada, untuk menumpas minyak berlebih.”
“Bagaimana penjelasan Saya, Ibu? Paham ya,” tanya Mega mengakhiri penjelasannya.
“Paham bu dokter, terima kasih banyak. Kalau begitu Saya permisi dulu, sekali lagi terima kasih. Saya mohon pamit,” ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Mega dan bidan Yati sambil tidak henti-hentinya mengucap terima kasih.
“Heh, Saya saja tahunya ya kulit normal, berminyak, itu saja. Hahaha,” ucap bidan Yati sambil terkekeh.
“Sekarang ‘kan sudah tau,” sahut Mega ikut tertawa, meski rasa nyeri di tenggorokannya kembali terasa karena terlalu banyak berbicara tadi.
“Nggak terasa sudah hampir jam istirahat siang, sebaiknya bu dokter sekarang pulang. Lagi pula jam dua siang nanti ada dokter Rendra yang datang dan bisa menggantikan tugas bu dokter,” kata bidan Yati mengingatkan lagi.
“Saya pulangnya jam dua siang nanti saja bu bidan, sekalian nunggu dokter Rendra datang.”
“Ya sudah, kalau memang maunya bu dokter seperti itu.”
Awalnya Mega tidak terlalu mempedulikan rasa sakit pada bagian tenggorokannya. Seperti biasa dengan meminum madu, rasa nyeri itu akan berangsur membaik.
Tapi sampai menjelang tengah hari, ketika pasiennya sudah selesai ditangani, badan Mega malah terasa semakin melemah. Matanya sering berair bukan karena mengantuk atau menangis, tapi karena hawa panas dalam tubuhnya.
Fajar yang datang menjemputnya tepat jam dua siang, menjadi sangat khawatir melihatnya.
“Kenapa nggak telpon dari tadi kalau lagi sakit, jadi Aku bisa datang buat jemput Kamu pulang.”
Mega hanya menggeleng lemah dengan mata terpejam sambil menyandarkan tubuhnya, saat sudah berada di dalam mobil bersama Fajar. “Maaf,” jawabnya singkat.
“Sudah makan, sudah minum obat?” tanya Fajar sambil terus menjalankan mobilnya.
“Sudah tadi pagi,” jawab Mega pelan, masih dengan mata terpejam.
“Ish, berarti Kamu belum makan siang ‘kan. Kenapa?” tanya Fajar gusar.
Mega membuka matanya perlahan, dilihatnya lelaki itu menatapnya dengan sorot mata khawatir yang terlihat jelas.
Mega tersenyum sekilas. Ia menggerakkan tangannya ke arah leher dan berucap, “Nyeri.”
“Ya sudah, kita beli bubur ya. Biar Kamu bisa makan terus minum obat,” ucap Fajar sambil menggenggam tangan Mega.
“Mas,” panggil Mega lalu mengusap lengan laki-laki tersayang itu.
“Iya.”
“Aku nggak apa-apa, Cuma butuh istirahat tidur cukup. Itu saja,” ucap Mega tersenyum menenangkan.
Duhh, padahal Aku ‘kan cuma radang biasa saja. Kenapa sekhawatir itu?
“Aku perhatikan banyak pasienmu yang terserang penyakit influenza yang lumayan berat. Sekarang, saat daya tahan tubuhmu sedang melemah, dengan mudahnya penyakit itu menyerang tubuhmu juga.”
“Jadi, apa yang harus Aku lakukan?”
“Istirahat yang cukup, makan teratur. Jangan begadang sampai tengah malam karena harus menyelesaikan laporan pekerjaan!” ucap Fajar tegas. “Jangan membantah ucapanku!”
“Siap sayank!”
🌹🌹🌹
Happy reading all, jaga kesehatan selalu 🤗🤗🤗