
Waktu berlalu begitu cepat, hingga tak terasa tiga bulan sudah terlewati. Rumi tumbuh sehat, dengan pipinya yang chuby menggemaskan khas bayi. Ia kini sudah bisa berbalik badan sendiri, meski harus terus diawasi.
Mega benar-benar menikmati hari-hari barunya menjadi seorang ibu untuk bayi Rumi, melihat langsung tumbuh kembang putranya.
Sepertinya ucapan ayah waktu itu pada Fajar memang benar adanya. Setiap saat, setiap hari, perhatian Mega tercurah sepenuhnya pada buah hatinya.
Tapi sekalipun demikian, Mega tidak pernah mengusik tidur Fajar dan memintanya bangun saat Rumi terbangun dan menangis di tengah malam.
Semua dilakukan Mega sendiri, jadi bagaimana mungkin Fajar merasa terabaikan sedangkan semua kebutuhannya telah terpenuhi dan Mega tetap melakukan semua kewajibannya sebagai seorang istri di tengah kesibukannya mengurus Rumi.
Rasa cintanya pada istrinya itu dari hari ke hari semakin bertambah besar saja.
Hari itu Fajar pulang kerja lebih awal dari biasanya. Ia datang dan langsung membersihkan diri sebelum menemui anak dan istrinya.
Dari balik pintu kamarnya, Fajar berdiri memperhatikan istrinya itu duduk di balkon kamar mereka sambil membuai anaknya. Terdengar nada lembut mengalun dari bibirnya, Fajar tersenyum dan beranjak menghampiri keduanya.
Dilihatnya Mega bernyanyi sambil memejamkan matanya, wanitanya itu terlihat tidak kuat menahan kantuknya. Perlahan ia mendekat, berjongkok dan mengecup kening istrinya itu lama.
“Sayang,” ucapnya sambil mengusap pipi Mega dengan ujung jarinya.
Mega membuka matanya, mendongak menatap Fajar yang tersenyum padanya. “Mas kok sudah pulang, sudah mandi ya? Aku siapin makan ya.”
“Hmm.” Fajar hanya bergumam, lalu mencium sayang putranya yang terlelap di pangkuan Mega.
“Nanti saja makannya. Sini, biar Aku yang gendong. Kamu istirahat saja dulu sana,” ucapnya sambil menyusupkan tangannya dan membawa Rumi dalam gendongannya.
Mega merentangkan tangannya, meregangkan bahunya yang sedikit kaku lalu beranjak mengikuti Fajar masuk ke dalam kamar mereka.
“Capek?”
“Dikit,” sahut Mega singkat lalu duduk di tepi ranjang.
Fajar tersenyum, perlahan merebahkan Rumi dalam bok bayi dan mengganjal sisi kanan kiri tubuhnya dengan guling.
“Sini Aku pijitin, pasti Kamu capek kurang tidur ngurusin anak kita.”
“Hmm.”
Mega menggeser tubuhnya mendekat. Fajar lalu mengikat rambut panjang Mega, menggelungnya ke atas lalu mulai memijat bahunya.
“Sudah enakan?”
“Hemm.”
“Tidur?” tanya Fajar yang melihat kepala Mega tertunduk dalam.
“Ngantuk.”
Fajar terkekeh, di kecupnya sayang pucuk kepala istrinya itu.
“Ya sudah, tidur gih. Kali ini, biar Aku saja yang jaga Rumi.”
“Hmm.”
Mega pun merebahkan tubuhnya, saat kepalanya menyentuh bantal matanya langsung terpejam. Tidak berapa lama kemudian napasnya mulai terdengar halus dan teratur, Mega sudah terlelap.
Fajar tersenyum melihatnya, ia kemudian melanjutkan pijatannya di bagian kaki Mega.
Sempat terbangun dan meringis menahan nyeri, tapi tidak berapa lama kemudian Mega kembali tertidur pulas dan Fajar langsung menghentikan pijatannya.
Beberapa jam kemudian Mega terbangun, ia terkejut saat melihat bok bayi Rumi kosong.
“Mas Inug!” serunya memanggil nama suaminya, tidak terdengar sahutan.
Mega keluar menuju balkon kamarnya dan tersenyum lega saat melihat sang suami tengah menggendong bayi mereka.
“Ah, ternyata kalian berdua di sini.” Mega bergegas mendatangi keduanya.
“Nyenyak tidurmu?”
“Hmm.”
Mega memeluk pinggang Fajar dan menyandarkan kepalanya di punggung lebar suaminya.
“Sudah sore, mandi sayang. Habis itu kita makan,” ucap Fajar mengusap tangan Mega yang berada di pinggangnya.
“Rumi nggak rewel kan, Mas.” Mega meletakkan dagunya di bahu Fajar.
“Nggak, pinter kok. Ya kan sayang,” jawab Fajar sambil menowel dagu Rumi dengan ujung jarinya membuat anaknya itu tertawa. “Aih lucunya senyum anak ayah.”
Dari balik bahu Fajar, Mega tersenyum melihatnya. “Aku mandi dulu ya, Mas. Rumi sama ayah dulu ya,” ucap Mega melepas pelukannya lalu mencium gemas pipi Rumi.
“Ya bunda,” jawab Fajar menirukan suara anak kecil.
Mega tertawa mendengarnya, ia pun bergegas membersihkan diri. Setengah jam berikutnya ia telah selesai dengan dirinya, Mega pun pergi ke dapur dan mulai menyiapkan makanan.
Malam harinya, setelah menidurkan Rumi. Keduanya menghabiskan waktu bersama duduk di balkon rumah mereka menikmati cahaya rembulan yang menyinari alam semesta.
Terang bulan di desa memang terasa lebih indah. Tidak ada gedung pencakar langit yang menghalangi pemandangan atau suara-suara bising kendaraan yang lewat. Sungguh menenangkan hati.
Mega menaikkan kelepak bajunya hingga batas lehernya, angin sejuk pegunungan terasa menembus hingga ke tulang.
“Dingin?”
“Hemm.” Mega tersenyum mengangguk.
“Kemarilah.”
Dalam cahaya remang lampu, Fajar tersenyum. Dihelanya bahu Mega ke dekatnya hingga menyentuh bahunya. Beberapa helai rambut Mega mengenai pipinya, Fajar tersenyum seraya menyisipkannya ke balik telinga Mega.
Mega menengadah, tersenyum menatap wajah suaminya. Kepalanya kini berada tepat di bawah dagu Fajar, lelaki itu kemudian menundukkan wajahnya dan perlahan mengecup kelopak mata Mega sementara kedua tangannya semakin erat memeluk tubuhnya.
Hingga beberapa saat hanya keheningan yang tercipta, Mega menyandarkan kepalanya di dada Fajar.
“Sudah malam, saatnya kembali tidur. Ibu anakku harus banyak istirahat.”
Fajar menyisipkan tangannya di pinggang dan paha Mega, menggendongnya menuju kamar mereka. Lengan Mega terulur begitu saja dan melingkari leher suaminya, sementara mata Fajar terus menatapnya hingga Mega tak kuasa menahan perasaannya.
“Mas.”
“Hmm.”
“Aku mencintaimu.”
“Aku tahu.”
“Hanya Mas yang kuinginkan.”
“Itu juga Aku tahu.” Fajar merebahkan Mega ke atas ranjang, matanya tidak lepas memandangnya. “Kamu melengkapiku, kusadari jatuh cinta padamu setiap saat. Sudahkah hari ini kukatakan padamu, Aku mencintaimu?”
“Sudah, dan ini untuk yang ke sekian kalinya Mas katakan mencintaiku hari ini.”
Keduanya tersenyum, sepenuhnya sadar akan cinta mereka.
Dia indah meretas gundah
Dia yang selama ini ku nanti
Membawa sejuk memanja rasa
Dia yang selalu ada untukku
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku ku milikmu
Kau milikku ku milikmu
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju Bersama arungi derasnya waktu
Bila di depan nanti
Banyak cobaan untuk kisah cinta kita Jangan cepat menyerah
Kau punya aku kupunya kamu
Selamanya kan begitu
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju Bersama arungi derasnya waktu.
Kau milikmu ku milikmu
Kau jiwa yang selalu aku puja
Tamat
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menyelesaikan tulisanku hingga tamat.
Terima kasihku tak terhingga buat reader semuanya, terima kasih telah membaca tulisanku ini, terima kasih juga buat dukungan kalian semua selama ini. Mohon maaf bila ada salah kata dan ucapan yang mungkin kurang berkenan dalam setiap penulisanku ini 🙏🙏🙏
Salam sehat dariku buat reader semua, semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya, mohon maaf lahir dan batin 🤗🤗🤗
🌹🌹🌹