
“Yank,” panggil Fajar.
Mega menoleh sesaat, lalu kembali sibuk merapikan sisa-sisa minuman di teras rumahnya.
Rumah terlihat sepi, Rizky dan Pras sudah kembali ke tempat kerjanya bersama rekannya yang lain sejak sejam yang lalu. Dan selama waktu itu pula Mega lebih banyak diam tidak bicara sepatah kata pun pada Fajar.
Mama dan ayah sedang beristirahat di kamarnya, sementara Yola tertidur di kamar Mega. Rupanya, angin sejuk pegunungan yang masuk ke dalam kamar Mega membuat matanya mengantuk dan langsung tertidur lelap.
Kesempatan itu digunakan Fajar untuk menunda kepulangannya dan bicara pada Mega, sembari menunggu Yola bangun dari tidurnya.
“Maaf,” satu kata maaf meluncur dari mulut Fajar, membuat Mega menghentikan gerakan tangannya.
Untuk beberapa saat lamanya Mega hanya terdiam, berdiri mematung dengan sikap tubuh yang kaku.
“Awalnya Aku ingin memberimu kejutan, hanya menunggu waktu yang tepat. Kalau Aku langsung cerita sama Kamu bukan surprise lagi namanya,” jelas Fajar.
“Kalau bangunan ruko sudah berjalan dan hampir selesai baru Aku mau cerita. Aku pikir target satu bulan bisa tercapai, ternyata lewat,” imbuh Fajar lagi.
Mega masih tetap berdiri memunggunginya, dengan kedua tangan berada di sisi tubuhnya.
“Maaf kalau Kamu nggak nyaman dengan sikap Aku. Bukan maksudku menyembunyikannya darimu dan membuatmu berpikir kalau semua itu untuk Rendra,” ucap Fajar seraya menyentuh pelan bahu Mega, tapi wanita itu menepisnya dan bergerak menjauhinya.
Ish, dia ngambek lagi!
Huh! Fajar menghembuskan napas pendek. Sudah lebih dari satu jam Mega hanya diam saja. Akan lebih baik bagi Fajar mendengar Mega mengomel bicara panjang lebar padanya, dari pada harus di diamkan seperti ini.
“Yank, tunggu!” serunya melihat Mega berjalan melewatinya dan keluar dari pintu samping rumahnya.
“Apa sih!” ucap Mega mendelik sebal, melihat Fajar mengikutinya dari belakang.
“Ish! Aku ‘kan sudah minta maaf, yank. Nggak baik loh menyimpan amarah dalam hati. Bisa bahaya buat jantung,” ucap Fajar sambil terus mengikuti Mega.
“Kata siapaa?” Mega menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Fajar. “Sok tau banget eh. Lagi pula yang marah itu siapa coba, marah kenapa juga.” Mega balik bertanya.
“Kata Aku, yank. ‘Kan yang bilang barusan, Aku.” Fajar tersenyum mengembang, ia berlari mendekati Mega.
“Nah, begitu lebih baik. Mending Aku di omelin dari pada harus di diemin kaya tadi sama Kamu, jadi bingung mau ngapain.”
“Eh!”
Mega menatap sebal wajah lelaki di hadapannya itu. Sebenarnya ia masih kesal karena Fajar tidak mau bicara terus terang padanya hingga ia salah paham dan mengira kalau klinik itu diperuntukkan buat dokter Rendra.
“Senyum, yank. Jelek tau kalau manyun kayak gitu,” ucap Fajar sambil tersenyum menggoda.
“Biarin jelek juga,” sahut Mega. “Jelek-jelek begini juga Mas suka,” ucap Mega lagi, lalu balik badan.
Astaga, salah lagi!
“Gombal!”
Mega menahan senyumnya mendengar ucapan Fajar, ingin rasanya ia berbalik dan melihat wajah lelaki itu saat bicara padanya. Tapi ia berusaha menahan diri dan tetap memasang sikap marah pada Fajar.
Mega mengambil galah yang berada tidak jauh dari kakinya, lalu membawanya menuju kebun belakang rumahnya.
“Hei, mau ngapain bawa gituan!” tegur Fajar.
“Nangkap burung!” jawab Mega asal.
“Serius napa jawabnya kalau ditanya gitu?”
“Serius ituu, memang kenapa?” jawab Mega sambil berusaha menahan tawanya.
“Sini biar Aku saja yang bawa,” ucap Fajar lalu mengambil alih galah di tangan Mega.
“Tumben, sejak kapan Kamu jadi suka nangkap burung?” tanya Fajar dengan nada serius, wajahnya menengadah melihat ke atas langit.
“Astaga, Mas. Percaya banget, canda doang.”
Kali ini Mega tidak dapat menahan tawanya lagi. Ia memegang perutnya, tertawa hingga matanya berair.
“Ish! Senangnya lihat Aku percaya candaan Kamu, yank. Terus ini galah buat apaa?”
“Sini ikut Aku,” ajak Mega sambil menarik tangan Fajar, lalu berhenti di bawah pohon mangga besar yang sedang berbuah lebat.
“Ini galah buat jolok mangga, Aku mau kasih buat Yola bawa pulang.”
“Ini mangga yang Kamu bilang waktu itu,” tanya Fajar sambil memeriksa batang pohon.
“Iya, ini pohonnya.”
“Bisa sekalian buat cangkokan ini, yank. Batang pohonnya kuat,” ucap Fajar lagi.
“Udah, cangkoknya nanti saja. Sekarang ambil buahnya dulu, keburu sore.”
“Oke!”
Setelah merasa cukup, mereka berdua pulang ke rumah dengan membawa buah mangga dalam plastik besar.
Kali ini tangan keduanya kembali saling menggenggam, ternyata Mega sudah tidak ngambek lagi.
Bahagia itu sederhana, sesederhana hari-hari yang kita lalui bersama dengan orang yang kita sayangi. Yang utama pastinya komunikasi yang baik, saling terbuka biar tidak terjadi salah paham dengan pasangan.
🌹🌹🌹