
"Aku mau ajak Kamu ke suatu tempat yang pastinya akan sangat Kamu sukai," kata Pras di teras rumah Mega, sesudah mendapat ijin dari kedua orang tua Mega untuk mengajaknya jalan-jalan.
Sebenarnya Mega malas buat keluar rumah dan ingin sekali menolak ajakan Pras, tapi melihat mamanya yang sepertinya sangat antusias melihat ada laki-laki yang mencoba mendekati anak gadisnya itu, Mega jadi tidak tega untuk mengecewakan mamanya.
Memang sudah cukup lama Mega menutup diri dan hatinya, sikapnya juga tidak sehangat dulu lagi saat dia dekat dengan Bayu. Semua berubah, ketika Bayu harus menikahi Alya sahabatnya sendiri karena suatu alasan.
Mega melirik pria di sampingnya, pria tampan, mapan, punya masa depan cerah, yang kata mamanya memiliki berhektar-hektar kebun buah dan tanaman sayuran. Yang berjalan tenang sambil memegang sebuah kunci kendaraan siap membawanya ke suatu tempat yang katanya lagi pasti akan sangat disukainya.
"Memang Mas Pras tahu apa yang Aku suka?" Mega menghentikan langkahnya, menunggu jawaban.
Prasetyo tersenyum sambil memainkan kunci di tangannya.
"Semua tentang Kamu, apa yang Kamu suka dan apa yang tidak Kamu suka, aku tahu semuanya," jawabnya pasti.
Wehh, canggih juga nih orang. Hah! Dia pikir dirinya lebih tahu semuanya tentang Aku, daripada Aku sendiri yang terkadang lupa tentang apa saja yang Aku mau, aku suka, bahkan apa yang tidak Aku suka. Karena seiring waktu, semua berubah.
Apa yang dulu kita benci, tidak kita harapkan kehadirannya, sekarang justru jadi sesuatu yang sangat kita inginkan. Tak ada hati yang tak pernah tak berubah, jadi ingat lagunya band Wali 🤭
"Kita naik apa kesana? Jauh nggak dari sini? Kalau jaraknya dekat, apa tidak sebaiknya kita jalan kaki saja," tanya Mega kemudian.
"Sekitar dua kilometer dari sini, lumayan jauh. Sebaiknya kita naik mobil saja, cuaca hari ini sepertinya panas."
"Baiklah, kita berangkat sekarang juga."
Tak butuh waktu lama, dua puluh menit kemudian mereka sampai pada tempat yang dituju. Pras mengajaknya ke sebuah tempat yang berada di lereng bukit, jalannya sedikit menanjak. Mobil yang mereka tumpangi tak bisa melewati jalan menuju bukit, hingga keduanya harus berjalan kaki menuju kesana.
"Sebaiknya Kamu gunakan topi ini buat melindungi wajahmu dari sengatan cahaya matahari."
Pras lalu memberinya sebuah topi lebar yang sudah disiapkannya di dalam mobil, yang langsung dipakai Mega.
Berjalan melewati jalan setapak, tidak banyak rumah terlihat. Tapi banyak tanaman buah dan sayuran hijau milik warga disana, ada singkong, pepaya, kacang panjang, sawi, selada, tomat, cabai, dan banyak tanaman lainnya.
Hingga sampailah mereka berdua pada sebuah lahan yang dipenuhi dengan berbagai jenis tanaman obat.
"Jadi ini tempat yang Mas bilang tadi?"
"Ini salah satunya, namanya Jawer Kotok. Anti biotik alami sama seperti kunyit, obat lambung, menyembuhkan luka dalam baik yang habis operasi atau setelah melahirkan. Sangat bagus, apalagi untuk kaum hawa. Membersihkan darah kotor, dan luka dalam cepat mengering." Pras menjelaskan pada Mega salah satu tanaman obat dan kegunaannya.
"Cara pemakaiannya seperti ini, untuk satu gelas. Rebus 3 lembar daun Jawer Kotok ditaburi garam sedikit. Merebusnya jangan terlalu lama, bisa dicampur dengan daun salam, bisa juga dicampur dengan sereh."
"Apa ada tanaman obat lainnya yang mas tanam selain Jawer Kotok?" tanya Mega antusias, sesuatu yang berhubungan dengan masalah kesehatan selalu menarik perhatiannya.
"Tentu saja ada, mari Aku tunjukkan tanaman lainnya." Pras tersenyum melihat Mega yang terlihat bersemangat mendengar penjelasannya, dan hal itu membuat hatinya lega. Tidak salah rencana yang ia ajukan pada Rizky semalam, kalau ia ingin mengajak adik sahabatnya itu untuk datang mengunjungi kebun obatnya. Ia yakin Mega akan sangat menyukai idenya itu.
"Yang ini namanya daun Babadotan, anti biotik juga. Obat cacingan, obat nafsu makan buat anak-anak. Baik juga buat penyembuhan kanker hati," tunjuk Pras pada tanaman obat lainnya. Ia menyebutkan nama dan kegunaan tanaman obat tersebut sembari terus mengajak Mega berkeliling.
"Kalau yang ini namanya daun Sadagori, banyak terdapat di dataran sunda. Daun Sadagori ini dibuat untuk kompres di sekitar kelenjar getah bening. Caranya, daun Sadagori dikucek sampai berlendir. Setelah itu ditempelkan di area kelenjar sampai mengering dan lepas sendiri," jelas Pras lagi.
Mega tersenyum puas melihat kebun obat milik Pras, lahan luas yang dipenuhi dengan tanaman berguna yang bisa digunakan langsung dengan mudah dan cepat.
"Apa tanaman di bawah sana milik mas Pras juga?" Mega menunjuk dataran rendah di bawah kaki bukit yang terlihat lebih luas dan juga dipenuhi dengan berbagai tanaman yang sepertinya sama dengan yang ada di dekatnya saat ini.
"Bukan, kalau tanah di dataran sana itu milik mas Fajar. Lebih luas dari tanah yang kumiliki ini, lagi pula tanah milikku ini tidak bisa dibandingkan dengan tanah milik mas Fajar."
"Mas Fajar? Siapa dia, tuan tanah di desa kita ini?" tanya Mega penasaran, sepertinya dia pernah mendengar nama itu.
"Nanti juga Kamu bakalan sering ketemu sama beliau," Pras tersenyum rahasia.
🌹🌹🌹