I Am Yours

I Am Yours
56. Pikiran sehat



“Sepertinya kita butuh liburan berdua,” ucap Fajar setibanya mereka di teras rumah.


“Libur terus! Hampir seminggu Aku bolos kerja,” sahut Mega, lalu menaruh mangga di atas meja.


Fajar mencebik, “Bukan libur namanya kalau sakit gitu.”


Mega terkekeh, “Bukan ya, kirain sama aja.”


“Ish! Sentil nih,” ucap Fajar gemas.


“Hei, jangan dong!” Mega spontan menutupi keningnya, kini ganti Fajar yang tertawa.


“Sudah sore, Aku pulang dulu ya. Tolong ambilin kunci mobil, Aku taruh di atas bufet dekat telpon tadi.” Fajar mendorong lembut bahu Mega, memintanya masuk untuk mengambil kunci mobilnya.


“Bentar.”


“Yola jadi pulang bareng nggak nih,” tanya Fajar kemudian.


“Aku nginep sini, Mas.” Yola muncul dari dalam kamar Mega.


“Eh, sudah bangun La.”


“Sudah dari tadi Mba,” sahut Yola sambil merangkul lengan Mega.


“Beneran mau nginap di sini,” tanya Mega yang langsung dibalas dengan anggukan kepala Yola.


“Sudah bilang sama mama ayah mba Mega juga, sudah pamit sama mas Rendra juga.” Yola meyakinkan. “Besok pagi mas Rendra yang jemput pulang.”


“Oh.”


“Ya sudah, Aku pulang dulu. Tapi ingat ya Yol, jangan buat mba Kamu begadang. Baru juga sembuh, lagi pula besok sudah masuk kerja lagi.” Fajar mengingatkan.


“Oke! Siap, mas boss. Siap laksanakan,” sahut Yola menyatukan ibu jari dan telunjuknya.


Mega tertawa melihatnya, “Apaan sih, siapa juga yang mau begadang. Sudah sana cepat pulang.”


“Yola ‘kan suka gitu. Ngajak ngobrol sampai suka lupa waktu,” gerutu Fajar.


“Ish! Nggak lagi ya mas,” elak Yola.


“Nanti malam Aku telpon,” ucap Fajar memastikan.


“Nah, aslinya yang bikin mba Mega jadi begadang itu sebenarnya siapa? Mas Fajar ‘kan, ngapain coba telpon malam-malam.”


“Aku cuma mau mastiin, kalian berdua begadang apa nggak. Itu saja,” balas Fajar.


“Huh, alesan!”


“Sudah-sudah, kenapa kalian malah jadi pada ribut?” Mega menatap Yola dan Fajar bergantian.


Fajar mengusap tengkuknya, sementara Yola menahan senyumnya bersembunyi di balik bahu Mega.


“Aku pulang,” ucap Fajar balik badan melangkah ke mobilnya.


“Hati-hati.”


Fajar tersenyum lalu mengangkat tangan dan mendekatkannya ke telinga. “Malam Aku telpon,” ucapnya dengan gerakan bibir tanpa bersuara.


Mega menganggukkan kepala, lalu melambaikan tangannya hingga mobil Fajar keluar dari halaman rumahnya.


“Hilih, modus!”


“Biarin modus. Sama pacar sendiri juga,” sahut Mega, sambil mengedipkan matanya.


“Aw aww awww, jiwa jombloku meronta. Hiks!”


“Eyy, hahaha.” Keduanya tertawa bersama.


•••••


Malam hari di dalam kamar Mega.


“Hemmm hemm,” Yola rebahan memejamkan matanya sambil mendengarkan musik yang diputarnya melalui ponsel miliknya.


Mega tersenyum melihatnya, ia lalu duduk tepat di sebelah Yola sambil membaca buku novel kesayangannya.


Yola membuka matanya, lalu duduk bersandar pada bantal besar di belakang punggungnya.


“Menurut mba, kalau lagi rileks rebahan sambil dengerin musik yang tenang seperti instrumen gitu gimana?”


Mega menoleh sekilas, lalu kembali asik dengan bacaannya. “Itu namanya pelepasan, melepas trauma dan kegelisahan. Hati-hati dalam memilih musik instrumen, karena sangat berpengaruh!” jawab Mega kemudian.


“Kadang Aku kalau lagi dengerin instrumen, kadang tenang, kadang malah sedih, nangis sendiri. Aku pikir itu bisa bantu buat nenangin hati yang lagi kusut,” ucap Yola.


Mega menutup novelnya, menaruhnya di atas nakas. “Kamu lagi ada masalah?”


Yola menggeleng lemah,” suntuk dikit,” katanya kemudian.


“Gejala psikologi kita sering terganggu lewat apa yang kita pikirkan, kita dengar, kita rasakan, kita lihat.”


“Oh ya?” Yola antusias mendengar ucapan Mega.


“Pikiran punya pengaruh besar terhadap apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan. Pikiran juga akan menentukan apa yang akan kita perbuat. Semua pilihan dalam hidup kita, semua tergantung apa yang kita pikirkan.”


“Tubuh kita, ucapan, tindakan baik atau buruk ditentukan oleh pikiran. Coba kita belajar cara kerja pikiran, mengenali pikiran kita sendiri.”


“Dalam kehidupan kita banyak menyalahkan apa pun keluar diri kita atas apa yang menimpa kita. Pernah nggak kita berpikir apa pun yang terjadi pada kita itu adalah buah pikiran sendiri? Pastinya jarang ya.”


“Kesehatan tergantung dari pikiran yang sehat. Pikiran sehat itu yang seperti apa? Nah, ini harus kita kaji lagi lebih dalam supaya kita sehat, damai, tenang, meski kenyataan hidup kita berantakan.”


“Kekuatan pikiran punya pengaruh besar dalam diri kita. Bukan masalah hidup yang berat yang membuat kita down, ingat ya pikiran.”


“Beda lagi dengan kecelakaan fatal, tetap butuh para ahli dokter untuk menyembuhkan. Seperti tabrakan, terkena benda tajam hingga mengalami kerusakan parah itu baru perlu dokter. Masa tangan patah hanya dilihat saja atau cuma berpikir positif sudah cukup, kecuali kita sudah menguasai kekuatan pikiran itu.”


“Pentingnya kita pelajari anatomi tubuh, cara kerja organ tubuh, kenali tubuh kita.”


“Mari kita sama-sama belajar bagaimana memiliki pikiran sehat, cobalah untuk membuka pikiran dalam menerima informasi supaya tidak seperti katak dalam tempurung.”


“Kita pelajari anatomi tubuh juga perlu energi besar untuk menerima informasi.”


“Sejauh ini ada pertanyaan? Hei, dari tadi Aku ngomong panjang lebar didengerin nggak sih!” Mega mendelik sebal yang sukses membuat Yola tertawa.


“Aku dengerin bu dokter, masa Aku anggurin?”


“Ada tip yang bisa dilakukan, luangkan waktu sekitar 5 menit di setiap bangun tidur atau mau tidur. Duduk dengan rileks atau bisa juga rebahan. Tarik napas panjang, tahan di perut, hembuskan perlahan. Lakukan itu sampai 5 menit dulu di setiap bangun tidur atau mau tidur. Katakan pada diri sendiri, tanamkan dalam pikiran kita, hipnotis diri kita, suruh alam bawah sadar kita untuk bekerja. Cukup ucapkan dalam pikiran kita, Aku sehat, semua baik-baik saja.”


“Semoga hari kita menyenangkan, menyenangkan yang keluar dari dalam diri bukan karena sesuatu di luar diri.


🌹🌹🌹