
Suara letusan mengejutkan Pras termasuk juga Mega, ia merasa mobil yang ditumpanginya menjadi sedikit oleng dan tiba-tiba terhenti di tepi jalan.
“Suara apa itu? Hei, mobilnya kenapa jadi oleng begini?” Mega merasakan tubuhnya bergerak miring ke kanan, matanya menatap Pras penuh tanda tanya.
Pras menurunkan kaca mobilnya, melihat dari kaca spion di depannya lalu tersenyum kecut saat menyadari ban belakang mobilnya bermasalah.
“Sepertinya ban mobilku meletus,” katanya pada Mega, lalu membuka pintu. “Kamu tunggu disini sebentar biar aku periksa dulu mobilnya,” imbuhnya lagi lalu menutup pintu mobilnya kembali.
Dari dalam mobil Mega melihat Pras berjongkok dengan satu kaki menyentuh tanah, lalu wajah lelaki itu menengadah memandang langit.
“Bagaimana, mas?” teriak Mega dari dalam mobil.
“Aku harus menggantinya dengan ban serep,” sahut Pras lalu kembali membuka pintu mobil dan mengambil alat.
Pras membuka kemeja lengan panjangnya dan meletakkannya di atas atap mobilnya, menyisakan kaos oblong putih yang mencetak jelas otot tubuhnya yang atletis.
Kemudian ia membuka bagasi, mengambil ban serep dan meletakkannya di atas tanah. Pras memasang dongkrak dan mulai memutar baut.
"Ada yang bisa Aku bantu?”
Pras menoleh pada Mega yang sudah berada di sampingnya ikutan berjongkok. Wanita itu memperhatikan setiap pergerakan yang dilakukan dirinya.
“Nggak perlu, Aku bisa mengerjakannya sendiri.” Pras tersenyum. “Lebih baik Kamu menunggu di bawah pohon sana,” tunjuknya ke arah pohon mangga yang cukup besar.
Mega menoleh ke arah telunjuk Pras, lalu bangkit berdiri sambil mengibaskan kemejanya yang kotor karena menyentuh tanah di bawah kakinya.
“Baiklah.”
Tanpa menunggu jawaban dari Pras, Mega berjalan cepat berlindung di bawah pohon mangga besar dan berdiri memperhatikan sambil melipat tangan di dada.
Mega menengadahkan wajahnya, langit di atas sana terlihat mulai gelap. Fiuhh! Baru setengah jam cuaca terasa begitu terik hingga wajahnya seperti terbakar, kini langit sudah diselimuti awan hitam yang pekat. Sementara Pras masih sibuk memasang ban serep mobilnya.
“Masih lama nggak, nih. Keburu hujan nanti,” tanya Mega setengah berteriak.
“Dikit lagi selesai, kok. Tinggal masang baut, kencangin, selesai.”
“Ish, itu sih bukan sebentar. Sepuluh menit selesai nggak?” tanya Mega tidak sabar. Perutnya mulai keroncongan, karena sudah lewat tengah hari.
“Sabar,” sahut Pras memasang senyumnya sambil menyeka keringat yang menetes di keningnya. “Huh! Kenapa pakai acara mbledos segala ini ban,” gerutunya dalam hati.
Tiba-tiba sebuah mobil Jeep lewat di depan mereka dan berhenti tidak jauh dari tempat mereka berada. Seorang lelaki muda berpenampilan rapi keluar dan berjalan mendekat.
“Apa ada kesulitan? Mobilnya mogok, atau pecah ban?” tanyanya sambil menunjuk pada ban mobil milik Pras yang tergeletak di tanah.
“Pras?”
“Dokter Rendra!”
Pras melepas kunci di tangannya lalu bangkit berdiri dan menyalami lelaki di hadapannya yang bernama Rendra, yang berprofesi sebagai seorang dokter dan bertugas di puskesmas desa.
“Ban mobilku meletus, dan aku baru saja selesai menggantinya. Hanya tinggal memasang bautnya saja,” sahut Pras kemudian. “Dokter sendiri mau kemana, tumben lewat daerah sini?”
“Aku baru saja melihat kebun obat milik mas Fajar sekalian ambil bahan buat sampel racikan obat,” jawabnya sambil melirik pada Mega yang sejak tadi berdiri gelisah sambil memegang perutnya.
Pras mengikuti arah pandang mata Rendra, lalu tersenyum lebar. “Itu Mega, anak pak Hardi yang rumahnya di lereng bukit. Baru semalam datang dari kota,” jelasnya kemudian.
“Pak Hardi mantan lurah desa Parikesit? Adiknya Rizky?”
“Mari Aku bantu,” ucap Rendra menawarkan bantuan. “Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk menunggu lebih lama lagi,” imbuhnya sambil terus melirik pada Mega.
“Mas, masih lama nggak?” tanya Mega gusar sambil berjalan mendatangi Pras dan Rendra. Mega tahu kalau kedua lelaki di depannya itu tengah membicarakan dirinya, terlebih lagi Mega merasa risih dengan sikap Rendra yang terus melirik ke arahnya.
“Aku Rendra, kebetulan sekali Aku mau menuju desa Parikesit. Apa Kamu juga satu tujuan denganku?” tanya Rendra mengulurkan tangannya tersenyum ramah.
“Mega,” jawab Mega membalas uluran tangan Rendra. “Makasih, tapi Aku akan tetap menunggu mas Pras menyelesaikan pekerjaannya. Paling juga lima menitan lagi selesai,” tolak Mega halus.
“Oh, begitu. Ya sudah. Pras, Aku pamit jalan duluan. Hati-hati, sepertinya cuaca hari ini sedang tidak bersahabat.” Rendra mengingatkan lalu balik badan dan melangkah menuju mobilnya.
“Silahkan pak dokter, makasih sudah diingatkan.” Pras mengangkat ibu jarinya.
Mega tersenyum sambil mengernyitkan dahinya, sepintas didengarnya tadi Pras memanggil Rendra dengan sebutan pak dokter.
"Pak dokter?"
"Rendra dokter yang bertugas di puskesmas desa kita, dan dia tinggal serumah dengan mas Fajar."
"Oh," Mega mengangguk paham.
“Mas Pras gimana? Masih lama nggak pasang ban serepnya?” tanya Mega setengah berbisik sambil memegang perutnya. “Aku laper, mas.”
“Sudah selesai, kok. Sebentar aku beresin alat-alat dulu,” ucap Pras lalu membereskan alat mobil dan memasukkan ban bekas tadi ke dalam bagasi.
Saat sudah berada di dalam mobil kembali, hujan tiba-tiba saja turun deras sekali. Mega menarik napas lega, lalu menoleh pada Pras yang berada di sampingnya.
“Untung saja hujan turun kita sudah ada di dalam mobil lagi,” katanya sambil melihat pada genangan air yang mereka lewati dari balik kaca jendela mobil.
“Banyak lubang besar, dan jalanan di desa kita ini sepertinya masih saja sama seperti dulu. Banyak sekali genangan air, kalau tidak hati-hati ban mobil bisa terperosok masuk dalam lubang.” Mega mencondongkan tubuhnya ke arah depan, “Hati-hati mas, sepertinya di depan sana ada lubang besar.”
“Minggu ini akan ada perbaikan jalan, swadaya dari masyarakat setempat desa kita juga dukungan dana dari donatur tetap desa ini. Moga saja cuaca mendukung dan desa kita akan memiliki jalan yang mulus dan bebas hambatan.”
“Syukurlah,” ucap Mega menarik napas lega. “Dengan begitu akan mempermudah akses warga buat usaha dan perbaikan ekonomi. Tidak perlu lagi harus melewati jembatan melintasi sungai, karena sudah ada jalan raya meskipun jalan cor-coran.”
“Kalau boleh tau, siapa donatur tetap desa kita ini mas?”
“Mas Fajar, dan satunya lagi dokter Rendra. Mereka berdua banyak sekali membantu warga desa ini, banyak pemuda desa yang belum dapat pekerjaan ditarik dan bekerja di perkebunan atas bantuan mas Fajar juga. Salut sama beliau, sukses dan tajir. Peduli dan perhatian sama nasib warga di desa ini,” kata Pras menceritakan sosok sang donatur desanya.
Hmm, dalam sehari ini nama Fajar sering sekali terucap dari bibir Prasetyo. Dalam bayangan Mega, muncul sosok lelaki paruh baya yang memiliki wajah teduh dan selalu tersenyum ramah.
“Mas Pras, tolong ingatkan Aku nanti jika kita bertemu dengan ‘mas Fajar’mu itu."
“Memang Kamu mau ngapain kalau ketemu sama beliau?”
“Cuman mau bilang makasih, karena sudah banyak bantu warga desa kita. Itu saja, kok.”
“Oh,” Pras tertawa mendengarnya. “Sebelum bertemu dengannya, ada baiknya kita makan siang dulu. Karena perlu tenaga ekstra untuk berhadapan dengan beliau.”
“Maksudnya tenaga ekstra? Lah, kan dari tadi juga Aku dah ngajak mas buat makan siang."
Pras tersenyum sambil mengerdikkan bahunya, “Lihat saja nanti.”
🌹🌹🌹